Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 27 September 2026
Bocah Buta Berharap Bisa Sekolah
Beritabali.com, Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Ketut Widiadnyani (9), putri kedua pasangan suami istri Putu Suardana (42) dengan Nyoman Eka Erniti (38) asal Banjar Petanahan, Batuagung, Jembrana tidak semujur bocah lainnya. Pasalnya, bocah yang mengalami kebutaan ini sangat berharap bisa sekolah.
Eka Erniti yang merupakan istri ketiga Suardana ketika ditemui awak media di rumahnya, Kamis (18/2) menuturkan anak keduanya terlahir dalam kondisi normal namun memasuki umur dua bulan tumbuh benjolan pada mata kanannya.
Baca juga:
Babak Baru Perang Ukraina, Rusia Siapkan
Saya sempat periksakan ke salah satu rumah sakit di Denpasar, ujarnya seraya mengaku sudah lupa nama rumah sakitnya itu. Ketika diperiksa, imbuh Erniti, dikatakan hanya bengkak biasa lalu diberikan obat.
Saya sempat obati sebanyak tiga kali, selanjutnya terpaksa berhenti dan dilanjutkan dengan pengobatan di rumah, karena selain jauh, juga karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan pengobatan di Denpasar, imbuhnya.
Hingga usianya sembilan tahun, kata Erniti, pertumbuhan anaknya sama sekali tidak terganggu termasuk dalam pergaulan dengan teman-teman sebayanya.
Hanya saja kedua penglihatannya tidak normal, satu mata kanannya sudah buta total, sementara mata kirinya agak rabun, katanya. Dengan keterbatasan seperti ini, Erniti mengaku putrinya itu tidak bisa menjalani masa sekolah seperti layaknya bocah seumurannya.
Saya trenyuh karena hampir setiap hari putri saya minta sekolah, ujarnya lirih. Erniti mengaku tidak bisa memenuhi keinginan putrinya itu karena cacat juga karena ketiadaan biaya lantaran hidupnya saja sudah pas-pasan. Saya hanya mengandalkan penghasilan suami saya yang hanya menjadi buruh memasarkan sapi di Beringkit, ujarnya.
Made Nandra (65), kakek Widiadnyani, mengakui kalau sejak kecil cucu kesayangannya itu mengalami kebutaan. Nandra sangat prihatin melihat kondisi cucunya itu, terlebih kalau lagi menonton televisi.
Kalau nonton TV, matanya harus nempel di layar TV, terangnya. Keprihatinan itu kian bertambah ketika mendengar permintaan cucunya untuk disekolahkan. Sayangnya saya tidak bisa memenuhi keinginannya untuk bersekolah, ujarnya.
Nandra sangat berharap agar pemerintah dapat membantu memberikan jalan keluar bagi keluarganya. Saya berharap bisa dibantu agar cucu saya bisa melihat sehingga dia bisa sekolah,pintanya.
Sementara itu Kadis Kessos Jembrana, dr Putu Suasta ketika dikonfirmasi, Kamis (18/2) mengatakan Widiadnyani belum masuk dalam buku cacat yang mendapat bantuan dari Mensos.
Saya cek dulu di daftar waiting list untuk anak cacat, kalau dia masuk di sana (waiting list) nanti bisa dapat bantuan sebagai pengganti yang meninggal, terangnya.
Terkait masalah kebutaannya, Suasta mengaku akan mengecek dulu bagiamana penanganan sebelumnya. Apa sudah pernah ditangani atau belum, kita cek dulu.
Lanjut Suasta jika kebutaannya sudah permanen maka penanganan yang dilakukan dengan cara mengurangi keterbatasanya melalui alat bantu seperti kaca mata. Terkait keinginan Widiadnyani bersekolah, Suasta berharap bisa masuk di sekolah umum.
Namun jika alat bantu tetap tidak bisa, kita sarankan masuk di SLB A. Namun di Jembrana tidak ada, sekarang apakah keluarganya mau anaknya sekolah di Denpasar, pungkasnya.
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8476 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5825 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3651 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2480 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar