Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Remaja Denpasar Berharap Tak Ada Diskriminasi Karena Berpakaian Mirip Teroris

Rabu, 23 Mei 2018, 10:05 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Remaja di Kota Denpasar berharap tidak ada diskriminasi terhadap orang yang berpakaian mirip dengan pakaian teroris. Para remaja Denpasar juga berharap tidak ada prasangka berlebihan dan mengkaitkan dengan aksi terorisme karena cara berpakaian ataupun karena alasan agama. Harapan tersebut salah satunya disampaikan oleh remaja asal Kertalangu-Denpasar I Nyoman Tri Sendyana. Apalagi terorisme tidak dapat dinilai dari penampilan dan agama.
 
“Terlebih lagi, tidak ada agama manapun yang mengajarkan pengikutnya untuk menyebarkan teror melalui cara seperti pengeboman dan lain lain. Saya harap masyarakat tidak mudah ditakut takuti oleh tindakan terorisme ini. Masyarakat juga harus tetap waspada namun tidak saling mencurigai agama manapun dalam terorisme ini.” ujar cowok kelahiran 26 April 2001 yang mengidolakan pemain basket Lebron James saat dikonfirmasi di Denpasar pada Rabu (23/5).
 
Remaja putri asal Sidakarya Ida Ayu Mirah Putri berpendapat bahwa tidak sewajarnya mencurigai orang sebagai teroris hanya karena pakaian, mengingat tidak bisa menyamaratakan orang sebagai teroris hanya dari penampilan, agama,  atau pakaiannya. Namun terorisme harus dilawan karena bukan hanya menyebabkan  hilangnya nyawa tetapi aksi terorisme juga menimbulkan keresahan dan trauma bagi keluarga korban.
 
  
 
Menurut Mirah, yang terpenting saat ini adalah peka terhadap orang-orang yang berprilaku mencurigakan sebagai bentuk antisipasi. “Karena hal itu bisa sebagai bentuk antisipasi dini terhadap keberadaan teroris. Yang terpenting,  menguatkan iman agar pikiran kita tidak mudah dipengaruhi dan dihasut oleh ajaran ajaran yang tdk benar. Teroris itu tidak beragama dan tidak ada agama yg mengajarkan untuk membunuh orang lain” papar cewek berzodiak Aries dan hobi bermain gitar tersebut.
 
Hal senada disampaikan Ni Kadek Mita Dwi Adnyani. Menurut Remaja Putri kelahiran 10 Maret 2001, sangat kasihan jika karena cara berpakaian mirip teroris kemudian orang tersebut dicurigai secara berlebihan. Setiap orang tentu punya kebebasan dalam berpakaian, namun curiga berlebihan karena pakaian yang mirip teroris tentu sangat tidak baik. “ jangan lihat dari pakaiannya saja, kasian orang-orang itu jadi gak bebas, bisa kok dilihat dulu selain ciri ciri pakaiannya, mungkin dari gerak geriknya” ungkap remaja putri yang hobi travelling ini.
 
Berbeda dengan Kadek Agus Ardi Mahendra yang mengungkapkan bahwa masyarakat tidak boleh disalahkan dalam kasus ini. Prasangka masyarakat terhadap teroris karena gaya berpakaian, penampilan atau agama itu sebenarnya adalah sebuah trauma. Masyarakat pasti akan mengecap kelompok-kelompok dengan gaya berpakaian atau penampilan sebagai teroris karena pelaku-pelaku pengeboman kebanyakan memiliki ciri yang sama .
 
“Tidak salah memang jika masyarakat saat ini was-was jika bertemu atau melihat orang bernampilan atau bergaya mirip teroris, pernah terjadi di Bali, seminggu yang lalu. Solisinya Berikan pemahaman kepada masyarakat bahwa tidak semua yang berpakaian mirip teroris adalah teroris. Tidak semua yang seagama dengan teroris adalah teroris juga” jelas cowok kelahiran 6 Oktober 2000 yang hobi mendengarkan musik.
 
Sedangkan  I Gusti Agung Gede Jaya Mahatma Nugraha berharap masyarakat dan pihak berwajib lebih bijak dalam menilai prihal teroris atau bukan, agar tidak menimbulkan prasangka yang berlebihan. Menurut cowok yang hobi olah raga dan pengagum Jokowi ini, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan sebagai antisipasi terhadap aksi terorisme tetapi harus tetap tenang dan melaporkan kepada pihak berwajib jika melihat orang orang berpenampilan aneh.
 
Secara umum para remaja Denpasar berharap para pelaku terorisme dihukum berat. Selain itu pemahaman masyarakat mengenai ajaran agama yang benar serta ajaran nasionalisme juga perlu diperbaiki guna mencegah tindak terorisme.
 
Akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Udayana Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, S.Sos, M.Si  menjelaskan bahwa prasangka wajar terjadi di masyarakat yang merupakan bagian dari tatanan sosial, dimana masyarakat  memberi  label terhadap hal-hal yang memiliki kemiripan. Hal yang harus diantisipasi yaitu jangan sampai terjadi diskriminasi apalagi hingga terjadi main hakim sendiri.
 
“Tapi berdoa semoga tidak ada tindakan diskriminatif, sebelumnya kan sudah ada kekhawatiran tentang ini, namun diperparah dengan kejadian bom lagi, yang diharapkan masyarakat tidak bertindak main hakim sendiri” kata dosen Ilmu Komunikasi yang merupakan mantan wartawan.
 
Amanda menyampaikan masyarakat sudah sepatutnya waspada tetapi tidak curiga berlebihan, jika memang terdapat kecurigaan tentu harus ada alasannya. Sementara pihak yang merasa dicurigai juga semestinya tidak terbawa perasaan, apalagi hingga curhat berlebihan di media sosial.“Harusnya buka jalur komunikasi, kita hidup dalam masyarakat yang plural, harus saling mengenal, kan tak kenal maka tak saying” tegas Amanda.[bbn/mul]
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami