Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 12 Mei 2026
Manusia Bali Memasuki Eksistensi Menjadi Manusia Ekonomis
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Perkembangan pariwisata telah menyebabkan manusia Bali memasuki eksistensi yang lebih ke atas, dengan menjadi manusia ekonomis atau manusia industri.
Manusia ekonomis atau manusia industri yang dimaksud yakni manusia yang memiliki sifat dengan penghargaan yang tinggi terhadap materi dan uang, menghargai efisiensi, mengutamakan investasi, dan berorientasi kepada kesenangan dan kenikmatan.
[pilihan-redaksi]
Hal tersebut terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Bali dalam Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan di Tengah Perkembangan Pariwisata” yang ditulis oleh I Made Pasek Subawa dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar dan dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Pariwisata, Agama dan Budaya (Pariwisata Budaya), Volume 3, Nomor 1 tahun 2018.
Pasek Subawa menuliskan Kehadiran industri pariwisata dan pembangunan daerah telah banyak membawa manfaat kepada masyarakat Bali pada khususnya. Kemudian muncul sifat-sifat yang menuju proses tak serupa, yang semakin mencuat ke permukaan.
Proses industrialisasi telah menghasilkan manusia Bali yang majemuk, majemuk dari orientasi tujuan hidupnya dan kesenjangan akan sistem pola kehidupan.
Beberapa proses perubahan pola kehidupan dalam sistem budaya masyarakat Bali yang sudah terjadi salah satunya yaitu Proses budaya agraris berkembang ke dalam budaya industri.
Dalam budaya agraris telah tercipta suatu jenis istilah “pak tani” yang kini bergeser ke arah industrialisasi yang membentuk manusia modern.
[pilihan-redaksi2]
Selain itu, proses budaya tradisional menuju budaya modern. Perubahan pola hidup dalam pemanfaatan teknologi dalam mempermudah kehidupan. Proses budaya domestik yang juga bergeser dan berkembang menuju budaya publik.
Dalam budaya domestik dikenal istilah “manusia adat atau krama adat” yang sekarang mengarah pada sistem publik (mengikuti orang banyak), yang cenderung mengutamakan pola-pola kehidupan fungsional dan status.
Begitu juga proses budaya klasik spiritual menuju budaya pasar komersial. Budaya klasik spiritual terbangun atas simbol-simbol spiritual yang bersifat religius magis, sedangkan dalam budaya pasar, manusia pasar memiliki simbol masa yang menyamakan dirinya dalam status atau kelompok tertentu.
Terdapat juga proses budaya etnis yang monokultural menuju budaya etnis multikultural. Hal ini dilihat dari penggunaan bahasa pada manusia Bali.
Bahasa Bali yang dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari sudah bergeser ke bahasa nasional (indonesia), dan bahkan ada penggabungan dengan bahasa asing, misalnya “kal kija kamu”, “cang kal go to kampus”, dan masih bnyak lagi contoh-contoh lainnya. [bbn/ Pariwisata Budaya/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1155 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 904 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 731 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 672 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik