Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 12 Mei 2026
Penggunaan Kebaya ke Pura di Denpasar Lebih Mengedepankan Estetika Dibanding Etika
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kaum perempuan di Denpasar dalam mengenakan kebaya ke pura lebih memperhatikan estetika penampilan dan cenderung melupa etika busana ke pura. Demikian terungkap dalam sebuah artikel yang berjudul “Kebaya Sebagai Busana Ke Pura Dalam Representasi Perempuan Kontemporer di Kota Denpasar” yang dipublikasikan dalam Jurnal Seni Budaya (Mudra), Volume 32, nomor 1 tahun 2017.
Penulis artikel I Dewa Ayu Sri Suasmini menuliskan kaum perempuan selalu ingin tampil berbeda sehingga dalam setiap kegiatan upacara yang mengenakan kebaya selalu ingin tampil baru supaya tidak dianggap ketinggalan jaman.
Dampaknya para perempuan di Kota Denpasar lebih mementingkan penampilan dari pada etika persembahyangan. Hal ini dapat dilihat pada penampilan kaum remaja dan bahkan dengan busana kebaya yang kurang sesuai untuk dikenakan untuk bersembahyang.
Desain-desain kebaya yang ditawarkan dirancang sebagus mungkin dan selalu berbeda dari kebaya yang ada sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan kaum perempuan selalu ingin mencoba busana kebaya yang ditawarkan, meskipun mereka masih mempunyai kebaya.
Peneliti dari Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia tersebut juga memaparkan jika representasi kebaya ke pura yang terjadi di Kota Denpasar, berdampak pada mulai hilangnya pemahaman kaum perempuan terhadap etika busana ke pura.
Dimana kaum perempuan lebih memperhatikan penampilan dengan busana kebaya modifikasi. Selain itu kaum perempuan tidak membedakan desain kebaya yang dipergunakan untuk sembahyang dengan desain kebaya di luar penggunaan untuk sembahyang ke pura.
Pada tahun 1970 cara berbusana masih memperhatikan etika dalam melakukan persembahyangan, serta bahan yang digunakan masih sopan tidak transparan. Demikian juga dengan warna kebaya tidak mengharuskan berwarna putih, karena pada tahun 1970 pakaian kebaya putih hanya dikenakan oleh para sulinggih dan para pemangku.
Peneliti merekomendasikan pengguna kebaya agar mempertimbangkan beberapa hal seperti kesesuaian dengan tubuh, etika dan estetika dalam membeli kebaya sehingga kebaya yang digunakan bisa nyaman dan supaya tidak konsumtif. Kepada desainer diharapkan dalam merancang busana kebaya selalu mempertimbangkan kebutuhan dari masyarakat baik dilihat dari segi etika maupun estetika.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1104 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 875 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 696 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 645 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik