Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 24 September 2026
Tembang Bibi Anu, Sebuah Wejangan Lewat Lagu
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Tembang Bibi Anu merupakan bentuk wejangan lewat lagu yang merupakan warisan leluhur dan hingga kini masih ada di Bali.
Baca juga:
Tembang Bibi Anu, Tutur Uli Tembang
Sebuah wejangan yang mengandung pesan universal tentang laku hidup dengan berbicara, berbuat dan berkomitmen terhadap diri, menjaga hubungan baik dengan teman dengan cara berpikir, bertidak dan berucap baik serta senantiasa belajar untuk mencapai kewibawaan sebagai bekal hidup.
Hal ini teruangkap dalam sebuah artikel berjudul “Analisis Tembang Bibi Anu (Pendekatan Antrophological Linguistics)” yang merupakan bagian dari prosiding Seminar Nasional Bahasa Ibu VII Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional Tahun 2014.
Artikel ditulis oleh Ni Made Ayu Widiastuti, Sang Ayu Isnu Maharani dan Yana Qomariana dari Universitas Udayana.
Ni Made Ayu Widiastuti dan kawan-kawan menuliskan bahwa Pupuh Pucung Bibi Anu merupakan tembang yang biasanya dinyayikan para orang tua untuk menidurkan atau mengasuh anak-anak mereka yang masih balita.
Biasanya dinyayikan untuk mengungkapkan suasana aman, tenang dan damai sehingga sangat sesuai dinyayikan untuk menidurkan balita.
Bibi Anu sebenarnya mengandung makna semua manusia di bumi, namun dilambangkan oleh seorang perempuan karena perempuan merupakan seseorang yang sangat mulia yang memiliki beberapa kelebihan.
Kelebihan sekaligus sebagai kodratnya melahirkan anak, menyusui, menjadi ibu dan istri yang berperan penting dalam kehidupan.
Baris lamun payu luas manjus secara harfiah mengandung makna membersihkan diri atau mencari kesucian yang tentunya merupakan tujuan hidu.
Jadi makna yang ingin disampaikan adalah jika ingin pergi mencapai suatu tujuan seperti menuntut ilmu, bekerja atau berkarir.
Baris Antenge Tekekang kemudian mengandung makna denotatif, konotatif dan konseptual. Antenge tekekang denotatifnya bermakna menguatkan ikatan selendang.
Sedangkan makna konotatifnya yaitu menguatkan kemauan atau bersungguh-sungguh. Pada baris yatnain ngaba mesuai secara konotatif memberikan makna untuk berhati-hati dalam berteman.
Baris terakhir termuat tiuk puntul, bawang anggen sasikepan. Tiuk puntul mengandung pesan agar jangan menggunakan kecerdasan untuk tujuan yang tidak baik, seperti membodohi orang lain.
Sedangkan makna bawang anggen sasikepan yaitu agar menggunakan rasa kasih sayang sebagai landasan dari setiap kegiatan.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8345 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5766 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3611 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2440 Kali
ABOUT BALI
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar