Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 13 Mei 2026
Selingkuh Saat Istri Sedang Diisolasi Terpusat
Seksologi dr. Oka Negara, MBiomed, FIAS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Tanya: “Dok, maaf saya ini punya kecenderungan harus berhubungan seksual dengan istri setiap hari. Nah, sejak istri terkena Covid-19 dan harus menjalani isoter di sebuah hotel, saya menjadi sering gelisah karena hubungan seksual yang tidak bisa dilakukan. Oh, iya, saya sendiri hasil swab PCR nya negative, jadi tetap di rumah dan bekerja dari rumah. Jadi kami terpisah jarak. Saya tidak berani menawarkan “virtual sex” dengan istri karena kasihan dengan istri yang masih isolasi. Hanya saja, di hari kelima berpisah dengan istri, saya sempat tergoda untuk berhubungan seksual dengan orang lain.
Saya melakukannya dengan mendatangi Spa plus plus atas rekomendasi teman. Berhubungan seksualnya sehabis dipijat dan dicoba tanpa melakukan ciuman karena kami tetap memakai masker. Tetapi karena saya tumben memakai kondom, rasanya kondom yang saya pakai robek, sepertinya ada cairan sperma yang menetes dari kondom. Saya kok jadi takut tertular penyakit kelamin.. Itu bagaimana dok? Bisa dijelaskan?” (Endi, Jakarta)
Jawab: Memang, walaupun pandemi, masih cukup banyak secara sembunyi tetap terjadi transaksi seksual juga, baik lewat online maupun membuka layanan sembunyi. Yang perlu diingat, ketika seseorang melakukan hubungan seksual dengan orang lain yang sudah diketahui sering berganti-ganti pasangan seksual sebenarnya dia sudah mengundang risiko pada dirinya. Ini disebut hubungan seksual berisiko. Hubungan seksual yang berisiko seperti ini merupakan penyebab utama penularan infeksi menular seksual, seperti gonore, kutil kelamin, herpes, sifilis, klamidia termasuk HIV AIDS. Itu jika dilakukan tanpa proteksi sama sekali. Sementara pilihan menggunakan kondom adalah pilihan lebih baik untuk mencegah infeksi menular seksual.
Seberapa efektif sebenarnya penggunaan kondom? Berdasarkan studi pada orang-orang yang berperilaku seksual berisiko, dari 100 orang hanya kurang dari 1 orang yang akhirnya tertular infeksi menular seksual pada kelompok pengguna kondom. Secara medis dan epidemiologis sudah terbukti bahwa akan terjadi penurunan risiko penularan infeksi menular seksual pada para pengguna kondom. Dari banyak studi juga diketahui bahwa kondom efektif mencegah HIV.
Masalahnya, penyebab kegagalan proteksi diyakini hanyalah karena satu alasan: kesalahan penggunaan kondom. Kegagalan kondom lebih sering disebabkan pemakainya tidak menggunakannya dengan benar, dan bukan karena mutu kondom itu sendiri. Bila digunakan secara benar dan konsisten, kondom mempunyai peranan penting dalam kesehatan umum masyarakat, khususnya dalam pencegahan infeksi menular seksual, bagi mereka yang tidak mampu berpuasa seks dan setia dengan pasangannya.
Apa saja yang paling sering menjadi penyebab kegagalan penggunaan kondom? Yang paling sering dan mungkin adalah:
1. Penyimpanan kondom yang tidak baik. Sering kali disimpan di dompet yang ketat dan panas sehingga bahan lateks bisa mengalami kerusakan, atau malah di tempat yang terlalu lembab dan berjamur.
2. Pemakaian kondom yang sudah kadaluarsa. Tentu saja jika digunakan akan menghilangkan daya proteksinya karena kondom berbahan lateks menjadi kehilangan kelenturan, kehilangan cairan pelumas sehingga mudah robek.
3. Pemakaian kondom dalam keadaan mabuk. Ini tentu saja membuat penggunanya tidak bisa menggunakan secara tepat, atau terlepas saat menggunakannya.
4. Kondom tersebut robek ketika dibuka dari bungkusan. Bisa jadi karena tidak cermat saat membuka, atau karena terkena kuku sehingga mengakibatkan robek.
Ini semua perlu diperhatikan, agar tidak gagal menggunakan kondom, karena sesungguhnya yang unik dari kondom adalah dalam fungsinya, yang tidak bisa dimiliki oleh alat kotrasepsi lain. Kondom memiliki fungsi ganda yaitu untuk mencegah penularan infeksi menular seksual juga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi.
Tetapi, untuk kasus ini, sesungguhnya sangat disayangkan bila dalam situasi seperti ini demi memenuhi kebutuhan seksual mesti sampai harus melakukan hubungan seksual dengan orang lain, yang malah mendatangkan risiko bertambah saat ini, tidak hanya infeksi menular seksual, tetapi juga risiko terinfeksi virus SARS CoV2 atau virus Corona.
Karena sesungguhnya kita dalam situasi sekarang tidak benar-benar bisa mengetahui apakah orang lain sudah terinfeksi atau tidak. Seperti sudah sangat harus kita semua pahami bahwa penularan virus SARS CoV2 adalah melalui droplet atau percikan air liur, maka aktivitas seksual berciuman atau kontak dekat dengan berhadapan wajah walaupun sudah memakain masker, akan memiliki risiko penularan jika penggunaan masker tidak baik. Ini juga sangat penting untuk diperhatikan buat semuanya.
Sesungguhnya jika saat ini sedang berpisah karena pasangan sedang menjalankan isolasi terpadu, selama pasangan masih cukup sehat dan mampu berkomunikasi menggunakan telepon pintar, memang untuk memenuhi romantisme dan dorongan seksual yang muncul selama ditinggal pasangan bukan sesuatu yang mudah. Tetapi bukan berarti menjadikan romantisme menjadi padam. Bisa menyalurkannya lewat fasilitas lain, yang paling populer dan sering digunakan saat ini adalah lewat telepon seks atau juga fitur videocall yang ada di ponsel pintar, misalnya lewat fitur videocall pada Whatsapp. Ini bisa disebutkan sebagai seks jarak jauh.
Aktifitas seksual tetap dapat dinikmati dalam durasi yang diinginkan bersama. Lewat seks jarak jauh, tetap bisa membicarakan apapun seputar seks yang sehat bersama pasangan, termasuk memuaskan dorongan seksual dengan cara mandiri, saling bermasturbasi bersama misalnya. Seks jarak jauh, bisa tetap dijadikan agenda sehat untuk aktifitas seksual, asal dilakukan di waktu yang tepat serta disepakati bersama.
Selanjutnya, dalam keseharian juga agar selalu melakukan pencegahan. Harap diingat selalu jaga jarak saat bertemu orang, hindari kerumunan, disiplin kenakan masker, dan rajin cuci tangan. Semoga kita bisa melalui semua ini segera dan tetap sehat, dan pasangan yang selama ini terpisah dan akhirnya bisa bertemu kembali saat pasangan sudah boleh kembali pulang., sehingga bisa kembali melakukan hubungan seksual dengan cara biasa kembali.
Reporter: bbn/oka
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1177 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 917 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 749 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 684 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik