Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 12 Oktober 2026
Studi Harvard: Kekuatan Pernikahan Tergantung Pekerjaan Suami
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat perceraian global telah meningkat sebesar 251,8%. Misalnya, rata-rata wanita dari Maladewa - negara dengan tingkat perceraian tertinggi - mengalami 3 kali perceraian sebelum dia berusia 30 tahun. Statistiknya memilukan, dan pelaku di balik semua itu telah diidentifikasi oleh sebuah penelitian di Harvard.
Para peneliti mempelajari data sejak 45+ tahun dan inilah yang mereka temukan:
Untuk menggali lebih dalam, penelitian yang dilakukan oleh seorang profesor Harvard mengambil data dari lebih dari 6.300 pasangan, sejak tahun 1970-an. Setelah mengamati data, ditemukan bahwa meskipun pasangan berdebat dan bercerai karena berbagai alasan, tingkat kemungkinan mereka untuk bercerai meningkat 30% ketika pria menganggur.
Pria dengan pekerjaan paruh waktu atau tidak memiliki pekerjaan sama sekali kemungkinan besar akan bercerai
Dan, bukan hanya itu. Rumah tangga di mana pria bekerja paruh waktu, juga berisiko tinggi untuk bercerai. Menguraikan lebih lanjut, penelitian ini menambahkan bahwa bahkan ketika pria bekerja dengan pekerjaan kecil atau tetap menganggur di luar keinginan mereka, ini masih mengarah pada pertengkaran dan ketegangan dalam pernikahan mereka.
Sebaliknya, kurangnya pekerjaan seorang wanita tidak menyebabkan perceraian
Kebanyakan wanita hari ini sibuk menyeimbangkan pekerjaan dan rumah dengan sempurna, tetapi menurut penelitian, status pekerjaan wanita tidak berpengaruh pada kemungkinan perceraian. Data yang dikumpulkan dari pasangan tidak menunjukkan pengaruh positif atau negatif dari status keuangan wanita terhadap perceraian.
Namun, penelitian ini mengabaikan banyak faktor lainnya
Meskipun demikian, tidak dapat disangkal bahwa setiap pasangan berbeda dan temuan penelitian ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang. Selain itu, perlu dicatat bahwa penelitian ini tidak mempertimbangkan pasangan sesama jenis atau pria yang rela memilih untuk mengurus keluarga mereka sementara istri mereka bekerja. Disebutkan bahwa peningkatan kemandirian ekonomi perempuan juga bisa menjadi alasan perceraian tetapi belum ada bukti yang sah untuk mendukung klaim itu.
Memiliki pekerjaan sama pentingnya bagi para lajang yang mencoba berkencan
Menurut sebuah survei, mandiri secara finansial dianggap menarik, sedangkan individu dengan banyak utang dianggap kurang diinginkan. Laki-laki dan perempuan disajikan dengan foto kepala orang-orang dari lawan jenis dan diminta untuk menilai mereka.
Kemudian status utang mereka terungkap, dan diamati bahwa peringkat turun untuk kedua jenis kelamin yang tidak stabil secara finansial. Namun, perubahan itu kecil untuk wanita. Untuk pria, di sisi lain, peringkatnya turun drastis. Sebanyak 75% wanita mengungkapkan bahwa mereka tidak akan berkencan dengan pria yang tenggelam dalam hutang. (Sumber: Liputan6.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4147 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1938 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1764 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1476 Kali
Anggota Polsek Manggis Dianiaya, Pinggul Patah
Dibaca: 1063 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan