Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 8 Oktober 2026
Konsep Ekonomi Sirkular Perlu Lakukan Buat Atasi Limbah
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Pemerintah diminta melaksanakan konsep ekonomi sirkular di dalam negeri dalam mengatasi limbah dari produksi produk.
Center of Competence for Climate Change, Environment and Noise Protection di Aviation Hessen, Alesya Krit, mengatakan dalam konsep ekonomi sirkular, masyarakat mengambil sumber daya alam untuk memproduksi barang yang pada akhirnya akan dibuang.
Pola buat-gunakan-buang ini hanya memicu konsumsi berlebih dan produksi limbah yang berlebihan sehingga sudah waktunya mengubah pola dengan menerapkan ekonomi sirkular berbasis produksi dan konsumsi berkelanjutan.
"Kita harus berpikir lokal dan menyesuaikan (solusi tersebut) dengan wilayah tujuan, serta cocok dengan dimensi sosial dan budaya setempat. Kemudian, bentuklah perspektif normatif dan ajaklah pekerja, teman, warga untuk mengenal mindset baru. Misalnya, lewat TikTok challenge," ujarnya dalam diskusi online Pra-KTT Ketiga Y20 Indonesia, Selasa (26/5/2022).
Program Lead di Platform for Accelerating Circular Economy Ke Wang menyebut meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular tidak hanya bisa mengakibatkan perubahan kebiasaan, tetapi juga perubahan kebijakan.
Karena para politisi mendengarkan aspirasi masyarakat. Namun, kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular masih sangat rendah.
"Di sinilah, anak muda memainkan perannya. Generasi muda telah menunjukkan bahwa mereka memegang peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim," kata dia.
CEO dan Founder Waste4Change, Mohammad Bijaksana Junerosano, menambahkan populasi dunia saat ini telah mencapai 7,9 miliar jiwa. Jika masyarakat ingin adanya perubahan tanpa adanya peperangan, harus meyakinkan 4% dari sebuah populasi. Berarti di Indonesia, ada 10 juta orang yang harus diyakinkan tentang ekonomi sirkular.
"Memang terkadang terasa sulit. Solusi datang lebih lambat daripada terjadinya kerusakan lingkungan. Kita harus memikirkan bagaimana kita bisa mempercepat solusi tersebut. Tapi yang terpenting, kita harus optimistis bahwa kita bisa melakukan perubahan dengan berkolaborasi," kata dia.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1490 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1247 Kali
Konsensus Politik Tanpa Musuh Era Prabowo Subianto
Dibaca: 698 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 583 Kali
Desa Batuan Gianyar Raih Juara I Learning Village Dunia
Dibaca: 556 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung