Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 1 November 2026
Menengok Proses Pembuatan Miniatur Jukung di Jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Perajin miniatur jukung, I Wayan Ardama (57) asal Banjar Lemodang, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Jembrana sudah 47 tahun menggeluti kerajinan yang disukainya.
Sejak kecil, ia mengaku suka permainan kuno yang penuh hiburan. Namun, proses pembuatannya tetap membutuhkan kreativitas dan imajinasi.
"Bisa dihitung dengan jari orang yang suka mainan ini. Dulu saat kecil sebelum mandi di pantai, jukung-jukungan ini permainan yang sangat menyenangkan melihat layarnya bergerak mengikuti arah angin," ungkapnya.
Untuk pengerjaannya, Ardama menggunakan bahan yang khusus yakni sejenis kayu pule yang memang sangat ringan ketika di air. Jenis kayu ini tidak sulit dicari. Bahkan kayu bayur dan kayu waru juga sangat baik, karena sangat ringan.
Untuk katirnya menggunakan bahan bambu sedangkan untuk layar menggunakan kain parasut dan itu harus pesan di luar kota. Ukuran parasutnya mulai dari 1 hingga 6 meter.
Harga yang dibandrolnya tergantung dari jenis ukuran jukung yakni 40 cm dengan lebar 5 cm itu dikerjakan 3 hari, dihargai Rp.200.000. Bahan catnya memang khusus dari cat mobil karena selain awet dan tidak luntur.
Sedangkan untuk jenis 1,5 meter diameter lebar 10 cm itu dikerjakan 2 minggu dengan harga Rp.1.500.000.
"Ini dikerjakan saat luang waktu karena memang ini juga membangkitkan permainan tradisional yang hampir nyaris punah," ujaranya.
Selain jukung, Ardama juga bisa mengerjakan miniatur kapal pinisi yang membutuhkan waktu 3 minggu dengan bahan dasar semua dari bambu. Biasanya, untuk pesanan ini tergantung permintaan, ada yang dicat atau pernis. Kapal pinisi dijual harga dari yang kecil Rp.200.000 hingga besar kisar Rp.1 juta.
"Biasanya yang pesan pelanggan baik dari kelautan atau pecinta miniatur kapal," katanya.
Ia berharap bisa lebih mengenalkan permainan tradisional ini kepada anak-anak agar tetap lestari.
"Miniatur jukung-jukungan melaju dengan cepat sesuai arah angin. Bahkan bisa terbang, dan justru mengurangi anak-anak bermain gadget," katanya.
Biasanya, tambahnya permainan ini dimainkan 2 hari sebelum purnama di Pantai Perancak yang dipadati pengunjung dari jam 15.00 - 18.00 WITA.
"Ini pun dimainkan dengan kondisi air laut surut sekitar 2 meter sepinggang orang dewasa," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 276 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 135 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan