Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 4 Juli 2026
Benarkah Urine Berbusa Jadi Tanda Ginjal Yang Rusak?
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang vital. Tak heran jika kerusakan pada ginjal, seperti kasus gagal ginjal akut yang kini tengah jadi sorotan, bisa berujung kematian.
Kerusakan ginjal bisa terjadi karena beberapa hal. Khusus untuk kasus gagal ginjal akut, diduga konsumsi obat sirop yang terkontaminasi etilen glikol (EG) dan diatilen glikol (DEG) jadi penyebabnya.
Lantas, seperti apa sebenarnya ciri-ciri ginjal yang rusak?
Dokter spesialis penyakit dalam Zubairi Djoerban menyebut salah satu cirinya bisa dilihat dari penampakan urine. Kerusakan ginjal bisa membuat urine berbusa karena adanya kebocoran protein dari ginjal.
"Busa itu salah satu gejala kadar protein tinggi dalam urine, dan memang bisa jadi pertanda adanya penyakit ginjal," kata Zubairi melalui kicauannya di Twitter, Kamis (20/10). CNNIndonesia.com telah mendapatkan izin untuk mengutip pernyataan tersebut.
Bukan hal yang sulit untuk mengetahui adanya kerusakan ginjal melalui urine. Kata Zubairi, sederhananya adalah dengan memeriksakan urine secara rutin.
Ketika urine rutin diperiksa, akan terlihat kandungan albumin yang ada di dalam urine tersebut. Albumin adalah sejenis protein pada darah yang bertugas untuk membentuk plasma darah.
Selain itu, albumin juga bertugas untuk menjaga tekanan pada pembuluh darah dan mengangkut za-zat seperti hormon atau obat-obatan. Jika kandungan albumin dalam urine tinggi, maka bisa dipastikan adanya masalah ginjal.
"Nanti akan ketahuan apakah ada albumin di urine. Positif berapa? Positif 1, 2, atau 3 atau 4. Kalau 4 berarti ada bocor ginjal yang berat," kata Zubairi.
Untuk memastikannya, Anda bisa menampung urine hingga 24 jam. Kemudian bawa urine tersebut ke laboratorium.
Nantinya urine akan diukur secara kuantitatif. Dilihat berapa jumlah gram dari urine dalam 24 jam kebocoran.
"Harusnya < 150 [kurang dari 150]. Namun kalau 500 itu berarti serius. Di atas 1000 lebih serius lagi," kata dia.
Sebagaimana diketahui, kini ancaman gagal ginjal akut telah menghantui anak-anak di Indonesia. Sampai Selasa (18/10) tercatat sebanyak 206 anak terkena gagal ginjal akut, dengan 99 di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Memperhatikan kondisi urine jadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk deteksi dini. Saat ada kerusakan pada ginjal, produksi urine akan berkurang yang menyebabkan frekuensi buang air kecil anak pun berkurang.
Dalam kondisi sehat, anak umumnya buang air kecil sebanyak 5-6 kali dalam sehari. Jika kurang dari itu, maka orang tua disarankan membawa si buah hati ke dokter.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3404 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1104 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 509 Kali
CBR Tabrak Truk di Sibetan, Pemotor Tewas di Tempat
Dibaca: 479 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun