Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 2 Oktober 2026
Tantangan Kerawanan Pangan Dunia Disoroti di Ajang G20
BERITABALI.COM, BADUNG.
Scholars of Sustenance menyoroti dampak iklim dari penyelamatan pangan berlebih pada Global Food Security Forum G20 diselenggarakan oleh Atlantic Council.
Kerawanan pangan meningkat sebagai akibat dari disrupsi jangka pendek seperti pandemi COVID-19 dan perang Ukraina, serta masalah jangka panjang seperti perubahan iklim dan konflik yang sedang berlangsung.
Scholars of Sustenance (SOS), organisasi nirlaba penyelamat pangan terbesar di Asia Tenggara berbicara di Global Food Security Forum hari ke 2 yang diselenggarakan oleh Atlantic Council di Bali, Indonesia pada tanggal 13 November 2022 di Sofitel Nusa Dua di sela-sela KTT G20 di Bali. Pada topik “The state of global food security: From farm to fork” panel membahas tantangan utama saat ini terhadap ketahanan pangan global dan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.
Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin yang hadir di panel tersebut menjelaskan, fondasi masalahnya adalah agresi Rusia terhadap Ukraina, yang mengakibatkan kerawanan pangan yang signifikan.
"Ukraina adalah salah satu produsen gandum terbesar di dunia, dan perang telah menghambat kemampuannya untuk mentransfer biji-bijian ke pasar dunia," katanya.
Laksmi Parvita dari Bayer menyatakan pandangan pihak swasta terhadap masalah tersebut, sangat penting kita memberdayakan petani kecil, kita memberikan mereka akses teknologi yang paling baik kalau bisa, teknologi tercanggih secepat mungkin kepada petani kecil sehingga mereka bisa mendapatkan semua kesempatan, kesempatan terbaik yang mereka miliki untuk menghasilkan lebih banyak makanan.
Pada saat yang luar biasa ini Bo H Holmgreen, pendiri Scholars of Sustenance memandang solusi masalah dari pengalamannya dalam menjalankan nirlaba penyelamatan makanan terbesar di Asia Tenggara yang diciptakan untuk mengoptimalkan pasokan makanan dalam mengatasi kerawanan pangan dan pemborosan makanan.
Menganalisis konsep farm to fork, dan melihatnya bahwa tempat terbaik yang dapat memberikan dampak terbesar pada ketahanan pangan dan tercepat saat ini adalah dengan melihat masalah limbah makanan. Masalah limbah makanan sangat besar dan selain itu kita harus mengatasi masalah distribusi.
Baca juga:
SOS to Host A Million Meals Paddle A Fundraising Event to Feed The Vulnerable Communities
“Kita adalah 8 miliar penduduk di dunia ini, kita setiap hari menghasilkan cukup makanan untuk 10+ miliar, namun satu miliar dari kita pergi tidur dalam keadaan lapar setiap malam. Dalam hal ini kami hanya memiliki masalah distribusi! Kami di SOS bertujuan agar terdapat Kesetaraan Pangan di masa depan,di mana akses ke nutrisi yang baik tidak hanya tergantung dari income dan status tapi tersedia bagi semua yang membutuhkan. Dengan menyelamatkan limbah makanan yang luar biasa dan memastikan nutrisi yang baik ini masuk ke perut daripada tempat pembuangan akhir, SOS percaya akan ada dampak yang cepat terhadap lingkungan dan manusia” ujar Bo H Holmgreen.
SOS bangga dapat memberikan dampak pada pasokan pangan dunia, namun seperti yang dinyatakan oleh Bo H. Holmgreen, Pendiri dan CEO SOS Global, dalam panel Global Food Security Forum, pemerintah harus mengambil tindakan.
SOS senang dapat berbicara di forum yang sangat bergengsi dengan para ahli seperti Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin, mantan menteri Iklim dan Lingkungan untuk Polandia Dr. Micha? Kurtyka, wakil penasihat utama kebijakan luar negeri di Komando Indo-Pasifik AS Guy Margalith, kepala Komunikasi, Urusan Publik, Sains, dan Keberlanjutan, untuk Bayer Indonesia Laksmi Prasvita dan pendiri dan direktur eksekutif Fundacion Alternativas Maria Teresa Nogales.
Acara ini diantaranya diisi dengan sambutan oleh H.E. Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Republik Indonesia dan obrolan ringan dengan H.E. Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Konferensi ditutup dengan penampilan Presiden Indonesia Joko Widodo yang menerima Atlantic Council Global Citizen Award yang dianugerahkan kepadanya awal tahun ini.
Presiden Dewan Atlantik Frederick Kempe menunjukkan dukungan dan apresiasi terhadap upaya yang dilakukan SOS di sektor ketahanan pangan dan menyempatkan berfoto bersama tim SOS di depan truk dengan pendingin SOS di mana truk SOS tersebut selama pandemic COVID telah menyalurkan 3 juta makanan bergizi untuk membantu melawan virus di Bali.
Sejak didirikan 6 tahun lalu, staf SOS yang bekerja keras di tiga negara telah mendistribusikan lebih dari 25 juta makanan, dan saat dunia pasca-COVID pulih, SOS berharap dapat menyelamatkan lebih banyak lagi makanan berlebih, sehingga mengurangi timbulnya CO2 dari tempat pembuangan sampah.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 298 Kali
Rumah Warga di Tembuku Bangli Terbakar, Kerugian Rp200 Juta
Dibaca: 232 Kali
Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
Dibaca: 213 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 194 Kali
Desak Rita Raih Emas dan Pecahkan Rekor Asian Games 2026
Dibaca: 192 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar