Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 13 Mei 2026
Krisis Air di Bali: Solusi dan Tindakan Mendesak
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Krisis air di Bali semakin nyata. Para ahli dan aktivis lingkungan menyerukan tindakan tegas untuk menghentikan alih fungsi hutan lindung dan lahan pertanian demi menyelamatkan ketersediaan air bersih.
Dalam diskusi terbatas bertajuk "Krisis Air di Bali: Apa Aksinya, Apa Solusinya?" yang digelar Kamis (27/3/2025), berbagai pihak sepakat bahwa gerakan bersama sangat diperlukan guna mendesak pemerintah menghentikan eksploitasi lahan yang berdampak pada krisis air.

Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S:
Ahli lingkungan dan Guru Besar Unud bidang pertanian organik, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., mengungkapkan bahwa ketersediaan air di danau-danau Bali berada dalam kondisi kritis akibat deforestasi dan alih fungsi hutan di sekitar danau.
“Danau-danau di Bali sudah semakin menyempit karena airnya berkurang, dan semua danau mengalami sedimentasi. Ini disebabkan penebangan hutan dan alih fungsi hutan di sekitar danau yang tidak terkendali. Jika ini dibiarkan tanpa solusi yang nyata, maka dalam waktu tidak terlalu lama kita akan kehilangan sumber air,” ujarnya.

I Wayan Aksara, Tokoh dan Aktivis Lingkungan:
Tokoh lingkungan BumiKita, I Wayan Aksara, menegaskan perlunya moratorium alih fungsi hutan untuk memastikan Bali memiliki tutupan lahan minimal 30 persen.
“Saya usulkan moratorium alih fungsi hutan. Tutupan lahan Bali 30 persen itu batas minimal, harusnya lebih dari itu. Jika tidak, maka krisis air bersih di Bali akan semakin parah,” ungkapnya.
Rektor Universitas Dwijendra Denpasar, Prof. Dr. Ir. I Gede Sedana, MMA:
Beliau menekankan bahwa pelestarian hutan merupakan bagian penting dari visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Pengawasan ketat terhadap peraturan hutan desa sangat diperlukan guna menjaga kelestarian sumber daya air.

Dr. I Wayan Mertha, S.E, M.Si:
Mantan Bendesa Adat Kedonganan, Dr. I Wayan Mertha, menyoroti ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan air. Ia mempertanyakan kontribusi perusahaan pengguna air bawah tanah (ABT) dalam pelestarian lingkungan.
“Seberapa keuntungan dari perusahaan yang menggunakan ABT untuk pelestarian lingkungan?” tanyanya.

Prof. Arya Thanaya:
Beliau mengusulkan pemerintah untuk lebih banyak membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) guna mengurangi penggunaan air bersih secara berlebihan.
Dwi Atmika,
Ketua HKTI Bali:Dwi Atmika menyarankan penanaman kopi di kawasan hutan sebagai solusi konservasi air.
“Tanaman kopi memiliki fungsi hidrologi, bisa menahan air. Karena kalau tanam kopi pasti juga menanam tanaman pelindung,” usulnya.

Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si, Ketua Paiketan Krama Bali:
Kurangnya ketegasan pemerintah dalam menegakkan aturan menjadi perhatian utama. Jondra mengkritisi sikap pasif Satpol PP dalam menindak pelanggaran tata ruang.

Ida Rsi Wisesanatha, Pembina Paiketan Krama Bali:
Ida Rsi menekankan pentingnya strategi yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh dalam pemerintahan agar gerakan penyelamatan hutan dan air dapat berhasil.
Dengan semakin parahnya kondisi krisis air di Bali, diskusi ini menghasilkan dorongan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumber daya air.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1205 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 939 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 768 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 700 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik