Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Dari Trauma ke Chemsex: Integrasi Diri dalam Pergulatan Kecanduan, Seksualitas, dan Makna Hidup

Minggu, 5 April 2026, 17:04 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Dari Trauma ke Chemsex: Integrasi Diri dalam Pergulatan Kecanduan, Seksualitas, dan Makna Hidup.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Seorang pria berusia 35 tahun, RPS, bekerja sebagai karyawan swasta, datang dengan pergulatan yang semakin terasa berat sejak masa pandemi. 

Ia menyadari dirinya mengalami kecanduan zat dan ingin menghentikannya, namun dalam satu tahun terakhir menjadi semakin intens dan berisiko, termasuk penggunaan jarum suntik. Kekambuhan sering terjadi, biasanya dipicu oleh situasi tertentu, terutama suasana akhir pekan dan lingkungan seperti hotel.

Dalam beberapa waktu terakhir, penggunaan zat tersebut juga berkaitan dengan aktivitas seksualnya. Ia kerap mencari pasangan secara acak melalui aplikasi, dan dengan bantuan zat tersebut, ia mampu melakukan hubungan seksual selama berjam-jam.  Pengalaman ini memberikan sensasi pemenuhan fantasi yang kuat, membuatnya sulit melepaskan diri. Selain itu, ia juga mengonsumsi alkohol dan menggunakan vape.

Namun, kini ia mulai diliputi kecemasan. Ia telah memiliki pasangan tetap, dan mulai merasakan tanggung jawab dalam hubungan tersebut. Ia takut kehilangan hubungan itu akibat dorongan impulsif yang muncul saat terpicu. Bahkan, dalam situasi penting seperti ketika ibunya sedang sakit dan membutuhkan pendampingan di rumah sakit, ia tetap mengalami dorongan kuat untuk kembali menggunakan zat dan mencari pelarian melalui aktivitas seksual.

Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara dan satu-satunya laki-laki dalam keluarga. Masa kecilnya penuh luka. Figur ayah nyaris tidak hadir hingga usia TK, dan kemudian ayahnya meninggal secara tragis saat ia masih kecil. Setelah itu, ia lebih banyak diasuh oleh lingkungan sekitar, termasuk pegawai salon milik ibu dan tantenya, yang tanpa disadari memperkenalkannya pada konten seksual sejak dini.

Ia juga mengalami pelecehan seksual sejak sebelum TK dan kembali berulang saat SMP. Kenangan itu masih membekas hingga kini. Meski demikian, ia tetap mampu berprestasi secara akademik, bahkan sering menjadi juara kelas saat SMA. Kesadaran akan orientasi seksualnya berkembang sejak masa kuliah, seiring pengalaman hidup yang kompleks dan penuh dinamika.     

Latar belakang munculnya kompleksitas chemsex

Kasus ini tidak dapat direduksi menjadi satu entitas diagnostik tunggal, melainkan merepresentasikan suatu interaksi kompleks antara gangguan penggunaan zat (substance use disorder), perilaku seksual kompulsif, serta riwayat trauma perkembangan yang signifikan. Dalam kerangka diagnostik modern seperti DSM-5, individu ini secara jelas memenuhi karakteristik substance use disorder derajat berat. 

Hal ini ditandai oleh penggunaan berulang meskipun berisiko tinggi termasuk penggunaan injeksi dan adanya craving yang kuat, kegagalan dalam mengendalikan konsumsi, serta pola kekambuhan yang konsisten dipicu oleh stimulus situasional seperti akhir pekan, lingkungan hotel, dan penggunaan aplikasi untuk mencari pasangan seksual. 

Kompleksitas kasus ini semakin meningkat dengan adanya keterkaitan erat antara penggunaan zat dan aktivitas seksual, suatu fenomena yang dalam literatur kontemporer dikenal sebagai chemsex, yaitu penggunaan zat psikoaktif untuk meningkatkan, memperpanjang, dan memperdalam pengalaman seksual, yang prevalensinya tinggi pada populasi laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).  

Dalam perjalanan adiksi, terutama pada konteks yang melibatkan chemsex, fase awal biasanya didominasi oleh reward-driven behaviour yakni perilaku yang dikendalikan oleh sistem dopaminergik yang memberikan sensasi euforia, kontrol semu, dan pemenuhan fantasi. Pada fase ini, kapasitas refleksi diri cenderung teredam karena dominasi sistem limbik atas korteks prefrontal, sehingga individu lebih beroperasi dalam mode impulsif dibandingkan reflektif.

Seiring waktu, terjadi fenomena yang dalam literatur disebut sebagai allostatic load dalam adiksi, yaitu perubahan set-point sistem reward sehingga individu membutuhkan stimulasi lebih besar untuk mencapai efek yang sama, sementara konsekuensi negatif mulai meningkat. 

Pada titik ini, pengalaman yang sebelumnya terasa menyenangkan mulai bercampur dengan rasa lelah, kosong, atau bahkan disforia. Ini membuka ruang bagi munculnya kesadaran kognitif bahwa sesuatu tidak lagi beres. Fase ini sering berkaitan dengan meningkatnya insight terhadap gangguan, meskipun kontrol perilaku masih terbatas.

Namun, faktor kunci dalam kasus ini adalah munculnya anchor relasional yang bermakna, yaitu keberadaan pasangan tetap dan kondisi ibu yang sakit. Kehadiran figur yang memiliki makna emosional mendalam sering kali mengaktifkan kembali sistem nilai, rasa tanggung jawab, dan kebutuhan akan keterikatan yang aman. Ini menciptakan disonansi internal antara self yang impulsif dan self yang ingin merawat dan mempertahankan hubungan. Disonansi inilah yang dimanifestasikan sebagai kecemasan. Dengan kata lain, kecemasan yang muncul bukan semata gejala patologis, tetapi juga sinyal bahwa sistem moral dan afektif individu mulai aktif kembali.

Selain itu, dari sudut pandang trauma, individu yang memiliki riwayat trauma masa kecil seringkali baru mulai memproses luka tersebut ketika mereka mencapai fase kehidupan yang lebih stabil atau ketika ada relasi yang cukup aman. Sebelumnya, mekanisme coping seperti penggunaan zat dan aktivitas seksual berfungsi sebagai anesthetic terhadap distress internal. 

Ketika mulai ada ruang aman misalnya melalui hubungan yang lebih bermakna maka mekanisme pertahanan ini mulai retak, dan emosi yang selama ini ditekan muncul ke permukaan dalam bentuk kecemasan, rasa bersalah, atau ketakutan kehilangan. Pengalaman ini tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang lebih luas, termasuk kemudahan akses terhadap aplikasi digital, dinamika norma seksual urban, serta keterbatasan ruang aman untuk memproses trauma masa lalu dan identitas seksual.  Oleh karena itu, kondisi ini bukan semata-mata sebagai kelemahan individu, melainkan sebagai manifestasi dari kerentanan yang terbentuk melalui perjalanan hidup yang kompleks.

Kecemasan yang belakangan ini dirasakan dapat dipahami sebagai titik balik penting sebagai sebuah “window of opportunity” dalam proses pemulihan. Hal ini menandai bahwa individu tidak lagi sepenuhnya terperangkap dalam siklus impulsif, melainkan mulai memiliki kapasitas untuk melihat dirinya sendiri, mempertanyakan pola yang ada, dan yang paling penting membayangkan kemungkinan hidup yang berbeda.

Trauma, fantasi, dan pengalaman terulang kembali

Riwayat pelecehan seksual sejak usia sangat dini merupakan faktor kunci yang membentuk dinamika psikis individu ini. Pengalaman traumatik pada masa kanak-kanak sering kali tidak terintegrasi secara adaptif dalam struktur kepribadian. Trauma yang terjadi terlalu dini cenderung tersimpan dalam bentuk fragmen emosional dan sensori, bukan sebagai narasi yang utuh, sehingga di kemudian hari muncul kembali melalui pola perilaku. 

Salah satu manifestasinya adalah re-enactment, yaitu kecenderungan tidak sadar untuk mengulang pengalaman traumatik dalam bentuk yang tampak berbeda, namun memiliki makna emosional yang serupa, dalam hal ini melalui aktivitas seksual berisiko. Selain itu, terjadi pula fusion antara trauma dan erotisasi, di mana pengalaman yang awalnya penuh ketakutan atau ketidakberdayaan menjadi bercampur dengan sensasi kenikmatan, membentuk fantasi seksual yang intens dan sulit dilepaskan. 

Penggunaan zat kemudian memperkuat proses ini melalui mekanisme disosiasi ringan, memungkinkan individu memisahkan diri dari emosi negatif sehingga aktivitas seksual dapat berlangsung tanpa hambatan afektif yang menyakitkan. Dengan demikian, fantasi seksual dalam konteks ini bukan sekadar ekspresi libido, melainkan berfungsi sebagai mekanisme psikis untuk mengelola luka yang belum terselesaikan. 

Sebagai individu dengan orientasi seksual gay yang hidup dalam masyarakat yang masih sarat stigma terhadap orientasi non-heteroseksual, ia menghadapi tekanan yang dijelaskan dalam teori minority stress. Tekanan ini mencakup internalisasi stigma, konflik identitas, serta keterbatasan akses terhadap dukungan sosial yang validatif dan aman. 

Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan akan ruang pelarian menjadi semakin kuat, dan chemsex menyediakan medium yang secara simultan memenuhi kebutuhan akan koneksi, pelarian emosional, dan validasi diri, meskipun bersifat sementara dan destruktif.  Kehadiran aplikasi digital mempercepat dan mempermudah akses terhadap pasangan anonim, sehingga memperkuat siklus perilaku adiktif melalui mekanisme penguatan instan. Di sisi lain, kehilangan figur ayah sejak usia dini serta pola pengasuhan yang kurang stabil berkontribusi pada terbentuknya attachment insecurity, yang dikaitkan dengan kesulitan membangun relasi intim yang stabil serta kecenderungan terhadap perilaku impulsif dalam domain seksual. 

Secara neurobiologis, keterkaitan antara kecanduan zat dan perilaku seksual kompulsif dapat dipahami melalui jalur yang sama dalam sistem reward otak. Paparan berulang terhadap zat psikoaktif dalam konteks aktivitas seksual menyebabkan sensitisasi sistem reward, di mana otak menjadi semakin responsif terhadap stimulus yang terkait dengan pengalaman tersebut. 

Pada saat yang sama, terjadi penurunan fungsi pada korteks prefrontal yang berperan dalam kontrol diri, pengambilan keputusan, dan evaluasi konsekuensi. Zat yang umum digunakan dalam chemsex, seperti stimulans atau depresan tertentu, secara signifikan meningkatkan pelepasan dopamin, sehingga memperkuat asosiasi antara zat dan kenikmatan seksual. 

Proses ini menghasilkan fenomena cue-triggered craving, di mana stimulus seperti hotel, akhir pekan, atau aplikasi menjadi pemicu kuat untuk kembali menggunakan zat. Selain itu, terjadi incentive sensitization, yaitu peningkatan dorongan atau wanting meskipun liking atau kenikmatan subjektif mulai menurun. Bersamaan dengan itu, impaired executive control menyebabkan individu kesulitan menahan impuls meskipun memiliki kesadaran akan konsekuensi negatifnya. Dengan demikian, perilaku individu ini merupakan hasil dari interaksi yang erat antara luka psikologis masa lalu, tekanan sosial, dan perubahan neurobiologis yang saling memperkuat.

Jalan menuju integrasi diri

Pendekatan terhadap kasus ini tidak dapat bersifat reduksionistik, melainkan harus dirancang secara multidimensional dengan mengintegrasikan aspek klinis, psikologis, dan sosial secara simultan. Langkah awal yang krusial adalah membantu individu beralih dari pola respons yang reaktif menuju kapasitas reflektif melalui pengelolaan trigger secara sistematis. 

Trigger yang muncul tidak hanya bersifat situasional seperti akhir pekan, hotel, atau akses terhadap aplikasi tetapi juga emosional, seperti kesepian dan stres, serta kognitif dalam bentuk fantasi seksual yang spesifik. Penting untuk membangun jeda antara dorongan dan tindakan, sehingga individu memiliki ruang untuk memilih respons yang lebih adaptif. 

Teknik seperti urge surfing, yang mengajarkan individu untuk mengamati dorongan tanpa harus bertindak, serta stimulus control untuk memodifikasi lingkungan pemicu, terbukti efektif dalam membantu memutus siklus otomatis perilaku adiktif. Namun demikian, intervensi tidak boleh berhenti pada pengelolaan gejala di permukaan. Akar dari dinamika ini terletak pada pengalaman trauma yang belum terintegrasi, sehingga terapi yang berfokus pada trauma menjadi esensial. 

Terapi bukan untuk menghapus memori traumatik, melainkan untuk mengintegrasikannya ke dalam narasi diri yang lebih utuh, sehingga tidak lagi mendominasi perilaku dan respons emosional di masa kini. Dalam konteks ini, pemulihan berarti mengubah relasi individu dengan masa lalunya dari sesuatu yang terus diulang tanpa sadar menjadi sesuatu yang dapat dipahami, diterima, dan dimaknai ulang.

Pada saat yang sama, penting untuk melakukan reframing terhadap seksualitas. Seksualitas perlu dipisahkan dari fungsi sebagai mekanisme coping maladaptif dan dikembalikan sebagai ekspresi autentik dari keintiman dan koneksi. Pendekatan sex therapy modern dapat membantu individu membangun kembali pengalaman seksual yang sehat, yang tidak lagi didorong oleh impuls atau kebutuhan pelarian, melainkan oleh relasi yang bermakna dan kesadaran diri. Ini menjadi langkah penting dalam memutus asosiasi patologis antara zat, fantasi, dan aktivitas seksual.

Dari sisi biologis, intervensi farmakologis dapat dipertimbangkan secara selektif untuk membantu mengurangi intensitas craving dan impulsivitas serta membantu dalam regulasi kecemasan dan kontrol impuls. Selain itu, pendekatan harm reduction menjadi sangat penting, terutama mengingat adanya penggunaan jarum suntik, sehingga pencegahan risiko infeksi dan komplikasi medis harus menjadi bagian integral dari penanganan.

Dimensi relasional dan komunitas juga tidak dapat diabaikan. Kehadiran pasangan dalam kehidupan individu ini merupakan faktor protektif yang signifikan dan dapat menjadi titik masuk untuk intervensi yang lebih luas, seperti couple therapy, psychoeducation, serta penguatan komunikasi dan batasan dalam hubungan. Perlu upaya membangun jejaring dukungan yang inklusif, non-stigmatis, dan validatif menjadi kunci untuk mengurangi isolasi serta memperkuat proses pemulihan.

Pada akhirnya, kasus ini bukan sekadar tentang kecanduan, seksualitas, atau trauma sebagai entitas terpisah, melainkan tentang seorang individu yang berjuang untuk bertahan, mencari makna, dan menemukan cara untuk merasakan hidup meskipun melalui jalur yang destruktif. Pemulihan bukanlah proses linear, melainkan sebuah rekonstruksi identitas dari kondisi yang dikendalikan oleh dorongan menjadi kemampuan untuk memilih secara sadar. Dan dalam perjalanan tersebut, esensinya bukan semata berhenti dari penggunaan zat, tetapi belajar untuk hidup tanpa harus terus-menerus melarikan diri dari diri sendiri. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami