Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Puskor Hindunesia Soroti Ancaman Hilangnya Jiwa Bali

Minggu, 10 Mei 2026, 16:57 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/ist/Puskor Hindunesia Soroti Ancaman Hilangnya Jiwa Bali.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Berbagai persoalan yang kini melanda Bali dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan warisan budaya dan spiritual Pulau Dewata. Mulai dari modernisasi tanpa kendali, alih fungsi lahan, tekanan industri pariwisata hingga lunturnya nilai adat dan spiritualitas disebut dapat menghilangkan “jiwa Bali”.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Koordinator Nasional (Dekornas) Puskor Hindunesia periode 2022-2027, Ida Bagus Ketut Susena saat Seminar Nasional bertema “Menjaga Warisan Peradaban Bali” di Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, Minggu (10/5/2026).

Dalam paparannya, Susena menyoroti berbagai tantangan yang kini dihadapi Bali dari sisi parahyangan, palemahan hingga pawongan. Menurutnya, modernisasi yang tidak terkendali, masifnya alih fungsi lahan, tekanan industri pariwisata, perubahan pola pikir generasi muda, hingga komersialisasi budaya menjadi ancaman nyata terhadap keberlangsungan identitas Bali.

Ia menilai jika kondisi tersebut dibiarkan tanpa adanya kesamaan persepsi dan keberanian bertindak, maka Bali perlahan akan kehilangan rohnya.

“Jika kita tidak memiliki kesamaan persepsi dan keberanian bertindak mulai hari ini, maka yang hilang nanti bukan hanya budaya Bali, yang hilang adalah jiwa Bali itu sendiri. Kita tidak bisa hanya tinggal diam saja,” katanya.

Susena menyebut, saat ini budaya Bali masih terlihat secara fisik, namun makna spiritual dan nilai sakralnya mulai memudar.

“Budayanya kemudian kita tontonkan, tetapi rohnya hilang. Pura masih berdiri, tetapi kesakralannya memudar. Upacara masih dilaksanakan, tetapi makna spiritualnya ditinggalkan. Alamnya indah, tetapi kehilangan keseimbangan ekologis,” ujarnya.

Karena itu, Puskor Hindunesia ingin menjadi pemicu untuk menyatukan persepsi masyarakat Bali, khususnya generasi muda, organisasi masyarakat hingga lembaga keumatan Hindu agar bersama-sama menjaga warisan peradaban Bali.

"Jadi kita ingin concern untuk memberikan trigger atau pemicu pada saudara-saudara kita, para pemuda, pemerhati Bali, ormas, kemudian juga lembaga lembaga keumatan Hindu untuk mulai kemudian sama-sama menyatukan persepsi, pola pikir agar kita mulai menata kembali apa yang menjadi tugas kita sebagai pewaris peradaban Bali," jelas Susena.

Ia menegaskan, penguatan internal masyarakat Hindu di Bali perlu dilakukan dengan menghilangkan sekat-sekat ego kelompok maupun kepentingan tertentu.

"Jadi tujuan kita memang dari sisi pemberdayaan sumber daya Hindu kita, kita ingin menggugah banyak komponen kita untuk mulai menghilangkan sekat-sekat ego, sekat sekat kelompok, serta sekat-sekat mungkin kepentingan untuk bersatu membangun penguatan di internal kita di Bali khususnya dalam menjadikan Bali sebagai salah satu aset peradaban nasional, Nusantara," paparnya.

Lebih lanjut, Puskor Hindunesia memandang Bali layak memperoleh perlindungan serius dari negara bahkan pengakuan dunia internasional sebagai kawasan spiritual dan peradaban dunia.

Menurut Susena, Bali sangat layak diposisikan sebagai pulau cagar spiritual dunia, cagar budaya hidup, cagar sosial peradaban Nusantara, serta cagar alam berbasis keharmonisan spiritual.

"Ya, karena Bali memiliki nilai universal yang tidak dimiliki daerah lain di mana pun di dunia ini," pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami