Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Daging Ayam hingga Tiket Pesawat Jadi Pemicu Inflasi Bali 0,61 Persen

Rabu, 2 September 2026, 12:35 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok beritabali.com/ilustrasi/Daging Ayam hingga Tiket Pesawat Jadi Pemicu Inflasi Bali 0,61 Persen.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Inflasi Bali meningkat pada Agustus 2026 seiring masuknya periode peak season pariwisata. Tingginya permintaan tiket pesawat dan sejumlah bahan pangan menjadi salah satu pemicu inflasi Bali yang pada Agustus tercatat 3,45 persen secara tahunan.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali per 1 September 2026, secara bulanan Bali mengalami inflasi sebesar 0,61 persen (mtm) pada Agustus 2026. Kondisi ini berbalik dibandingkan Juli 2026 yang mengalami deflasi sebesar 0,51 persen (mtm).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Bali, Achris Sarwani, menyebut peningkatan inflasi bulanan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya permintaan selama periode puncak aktivitas pariwisata. Masuknya peak season pariwisata mendorong permintaan tiket angkutan udara. Tekanan harga juga terjadi pada komoditas pangan, khususnya daging ayam ras.

Permintaan daging ayam ras meningkat di tengah banyaknya kegiatan masyarakat seperti pernikahan, upacara adat dan ngaben. Selain itu, normalisasi permintaan Makan Bergizi Gratis (MBG) pascalibur sekolah turut memberikan tekanan terhadap harga pangan.

Secara tahunan, inflasi Bali meningkat dari 2,42 persen (yoy) pada Juli 2026 menjadi 3,45 persen (yoy) pada Agustus 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 3,19 persen. Meski demikian, inflasi Bali masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Secara spasial, seluruh wilayah IHK di Bali yang tercatat dalam rilis mengalami inflasi bulanan pada Agustus 2026," jelas Achris dalam keterangan resmi, Rabu (02/09/2026).

Kabupaten Buleleng mencatat inflasi bulanan tertinggi, yakni 1,12 persen (mtm), dengan inflasi tahunan mencapai 3,61 persen (yoy). Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,65 persen (mtm) atau inflasi tahunan 3,64 persen (yoy). Kabupaten Badung mencatat inflasi bulanan 0,35 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,86 persen (yoy). Sementara Kabupaten Tabanan mengalami inflasi bulanan 0,33 persen (mtm) atau inflasi tahunan 3,59 persen (yoy).

Daging Ayam hingga Tiket Pesawat Jadi Pemicu

Jika dilihat berdasarkan komoditas, inflasi Bali pada Agustus 2026 terutama bersumber dari kenaikan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk dan biaya sekolah dasar. Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang mendapat tekanan akibat meningkatnya permintaan masyarakat. Sementara tarif angkutan udara terdorong oleh tingginya mobilitas selama periode peak season pariwisata.

Tekanan inflasi sebenarnya tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bawang merah, bawang putih, bensin, tomat serta baju kaos tanpa kerah atau t-shirt pria.

Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi sekaligus mendukung berbagai langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali dalam menjaga stabilitas harga.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat pemantauan harga dan mengintensifkan operasi pasar agar inflasi Bali tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Namun, sejumlah risiko inflasi masih perlu diantisipasi ke depan. Salah satunya berlanjutnya permintaan barang dan jasa yang tinggi selama periode peak wisatawan mancanegara pada Juli hingga September.

Risiko lainnya berasal dari musim kemarau panjang yang disertai El Nino kuat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi pertanian dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap pasokan serta harga pangan.

Biaya angkutan barang di tingkat global yang masih tinggi juga menjadi perhatian karena dapat memberikan tekanan terhadap harga barang impor.

Untuk memperkuat pengendalian inflasi, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi Bali serta pemerintah kabupaten/kota.

Upaya TPID diarahkan pada empat aspek utama atau 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

Implementasinya dilakukan melalui Rapat Koordinasi Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan serta optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan.

Selain itu, pengendalian inflasi diperkuat melalui pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani, koordinasi antarpemangku kepentingan serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Dengan berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali memprakirakan inflasi Bali sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami