Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Terperangkap dalam Trauma Relasional dan Kelelahan Emosional
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan berusia 35 tahun yang telah menikah, berinisial PS datang dengan keluhan kesedihan yang dirasakan telah berlangsung bertahun-tahun dan semakin berat sebulan terakhir. Ia merasa lelah menjadi tempat bersandar bagi orang lain, sementara kebutuhannya untuk didengarkan dan dipahami sering tidak terpenuhi.
Ketakutan mengecewakan orang lain membuatnya terus mendahulukan kebutuhan mereka. Belakangan, ia mudah menangis, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat, dan merasa tidak berguna. Ia kerap menyalahkan diri, diliputi rasa bersalah, serta memandang masa depan tanpa harapan.
Tidurnya terganggu, tubuhnya tetap lelah saat bangun, dan nafsu makannya menurun disertai mual serta muntah. Perasaan sesak di dada juga muncul dalam sebulan terakhir. Karena merasa lelah, ia menghentikan pengobatan autoimunnya sejak dua tahun lalu yang telah ia jalani selama hampir 17 tahun.
Masa kecilnya ia katakan diwarnai konflik keluarga, kekerasan dari ibu, perundungan, dan kepergian ayahnya yang kemudian menikah dengan perempuan lain. Meski terluka karena ditinggalkan ayah, ia tetap merawat ayahnya setelah mengalami stroke. Ia belajar membaca suasana hati ibunya untuk menghindari kemarahannya, menyimpan masalah sendiri, serta bekerja sejak remaja untuk membantu keluarga. Penghasilannya dikendalikan ibu, sehingga pernikahan menjadi harapan untuk hidup lebih mandiri.
Dalam pernikahannya ia mendambakan perhatian, perlindungan, dan dukungan emosional. Ketika respons suami tidak sesuai harapan, ia merasa tidak disayangi. Ia dan suami sepakat tidak memiliki anak karena kondisi kesehatannya.
Berhenti bekerja pada tahun 2025 pun belum mengurangi kesedihan dan kesulitan tidurnya. Dalam setahun terakhir, ia juga pernah merasa sangat gembira, banyak bicara, dipenuhi ide, sangat aktif, dan merasa tidak membutuhkan tidur. Sebaliknya, pikiran bunuh diri yang muncul sejak tahun 2018 semakin sering muncul saat ini, hampir setiap hari, termasuk terpikir mengonsumsi obat-obatan, tetapi belum dilakukannya.
Ia kesulitan menjalankan aktivitas sehari-harinya akibat kelelahan. Meski masih mampu merawat diri dan tidak melaporkan adanya halusinasi, ia merasakan menjalani kesehariannya dengan beban emosional yang berat.
Mengapa tubuh dan jiwanya terpuruk
PS datang membawa kesedihan yang panjang, bersama tubuh yang semakin kehabisan tenaga. Dalam perspektif psikiatri komunitas dan budaya, penderitaan ini perlu dibaca melalui hubungan antara penyakit, pengalaman hidup, dan lingkungan tempat seseorang mencari perlindungan. Selama bertahun-tahun, ia menjalankan peran sebagai pendengar, penolong, dan perawat.
Namun, ketika dirinya membutuhkan tempat bersandar, ia merasa tidak memperoleh dukungan yang setara. Ketimpangan tersebut membantu kita memahami kelelahan emosionalnya, tanpa menyederhanakan seluruh gejala sebagai akibat masalah keluarga.
Kelelahan emosi akan menggerogoti ketika tuntutan terus berlangsung, sementara kesempatan untuk pulih, merasa aman, dan mendapat dukungan tidak mencukupi. Tidak ada batas waktu yang sama bagi semua orang. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kelelahan menetap dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Pada titik ini, seseorang mulai menilai keterbatasan tenaganya sebagai kegagalan dirinya.
Riwayat kekerasan, perundungan, dan kepergian ayah menunjukkan bahwa rasa aman berulang kali terganggu sejak kecil. Ia belajar mengenali suasana hati ibu, menahan kebutuhan sendiri, serta bekerja ketika masih remaja. Cara bertahan ini mungkin dahulu mengurangi konflik, tetapi dapat menyulitkannya mengenali batas kemampuan saat dewasa.
Adanya pengalaman penganiayaan masa kecil berkaitan dengan lebih banyak gejala depresi dan lebih rendahnya keterhubungan sosial hingga dewasa. Sehingga penting untuk memahami riwayat relasional sebelumnya dalam masa kanak hingga dewasanya.
Kesedihan, hilangnya minat, rasa bersalah, keputusasaan, gangguan tidur, dan penurunan fungsi mengarah pada sindrom gangguan depresif. Namun, riwayat sangat gembira, banyak bicara, penuh ide, aktif, dan berkurangnya kebutuhan tidur kemungkinan mengarah kepada hipomania atau mania. Durasi, perubahan dari kondisi biasanya, dampak fungsi, perilaku berisiko, serta kaitan dengan obat atau penyakit perlu dipastikan. Tubuhnya juga memerlukan perhatian tersendiri. Penyakit autoimun, gangguan tidur, asupan yang berkurang, dan kemungkinan aktivitas penyakit setelah penghentian terapi dapat saling memperberat kelelahan.
Hal paling mendesak adalah pikiran bunuh diri yang hampir setiap hari dan telah mencakup suatu cara. Kemampuan merawat diri serta tidak adanya halusinasi tidak menjamin keselamatan. Jika gambaran ini masih berlangsung, maka niat, akses obat, persiapan, riwayat percobaan, dan kemampuan menjaga keselamatan perlu menjadi perhatian. Bila ada niat segera, persiapan, atau ketidakmampuan bertahan aman, ia perlu didampingi ke IGD dan tidak ditinggalkan sendiri. Pengamanan akses terhadap obat perlu dilakukan bersama orang tepercaya
Memahami dinamika batin, keluarga, dan neurobiologi
Pada PS, orang yang semestinya memberikan perlindungan juga dikisahkan menjadi sumber ketakutan atau kehilangan. Sebagai hipotesis formulasi, pengalaman ini mungkin membentuk keyakinan bahwa hubungan mudah hilang dan kasih sayang harus dipertahankan melalui pengorbanan. Keinginannya diperhatikan suami merupakan kebutuhan manusiawi. Respons yang terasa dingin mungkin menyentuh kembali pengalaman ditinggalkan, sehingga kekecewaan yang dirasakan sekarang membawa muatan emosi dari hubungan terdahulu.
Secara psikodinamik, terdapat kemungkinan konflik antara kebutuhan untuk bergantung dan ketakutan bahwa kebutuhan tersebut akan membuatnya ditolak. Menolong orang lain dapat menjadi sumber makna, sekaligus cara mempertahankan kedekatan. Kemarahan yang sulit disampaikan mungkin berbalik menjadi kritik terhadap diri, tampak dalam kecenderungan menyalahkan diri dan merasa tidak berguna. Merawat ayah yang pernah meninggalkannya juga dapat mengandung cinta, kewajiban, kesedihan, dan kemarahan secara bersamaan. Perlu ada ruang untuk memahami perasaan yang bercampur itu, tanpa memaksakan tafsir bahwa ia pasti sedang mencari pengakuan ayah.
Keyakinan seperti saya berharga jika berguna dapat menghasilkan aturan hidup yang melelahkan, dimana ia harus selalu membantu, tidak boleh mengecewakan, dan tidak pantas meminta perhatian. Ketika tenaga menurun, aturan tersebut membuat keterbatasan terasa sebagai kegagalan moral. Pandangan negatif terhadap diri, lingkungan, dan masa depan kemudian mempersempit kemungkinan yang dapat dibayangkan.
Konsep ketidakberdayaan yang dipelajari juga relevan sebagai kemungkinan bahwa pengalaman berulang tanpa kendali dapat membuat usaha terasa sia-sia. Sehingga trauma dapat meningkatkan keinginan bunuh diri ketika pengalaman menyakitkan berkembang menjadi rasa tidak berharga, tidak berdaya, dan terjebak dalam penderitaan yang terasa tidak akan berakhir.
Sementara itu dinamika keluarga memberi konteks yang lebih luas. Bekerja sejak remaja dan memikul kebutuhan keluarga mengisyaratkan kemungkinan parentifikasi, yakni anak mengambil tanggung jawab dewasa melampaui kesiapan perkembangannya. Adanya pengendalian penghasilan oleh ibu mengundang penilaian terhadap batas antargenerasi dan ruang otonomi. Kemampuan mempertahankan pilihan dan kebutuhan pribadi sambil tetap terhubung dengan keluarga menjadi sebuah formulasi sistemik harus membuka dialog tanpa mengaburkan tanggung jawab atas kekerasan.
Sudut pandang budaya mengajak kita menanyakan makna anak berbakti, istri baik, dan perempuan kuat bagi PS sendiri. Dalam sebagian masyarakat, kemampuan menanggung beban dihargai, sedangkan mengungkapkan kebutuhan dipandang merepotkan. Apabila nilai tersebut hadir dalam kehidupannya, rasa bersalah saat menetapkan batas menjadi lebih mudah dipahami. Keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak juga perlu dihormati. Makna keputusan itu perlu ditanyakan dengan terbuka, tanpa menganggapnya sebagai sumber kesedihan atau kekurangan dalam pernikahan.
Secara neurobiologis, interaksi pengalaman penganiayaan, stres interpersonal, dan variasi gen terkait sumbu stres dalam perubahan gejala depresi remaja, mendukung model kerentanan yang kompleks. Adanya hubungan pengalaman penganiayaan masa kecil dengan faktor imun, metabolik, pengalaman trauma dewasa, dan struktur otak adalah saling berhubungan.
Hal ini membantu menjelaskan mengapa pengalaman sosial dapat memiliki jejak biologis, tanpa menyatakan otak seseorang telah rusak atau pemulihannya sudah tidak mampu dilakukan. Untuk itu gangguan tidur dan kelelahan dapat mengurangi kemampuannya menghadapi stress, dimana konflik serta keputusasaan kemudian dapat mengganggu tidur dan perawatan kesehatannya. Berhenti bekerja mungkin menghilangkan sebagian tuntutan, tetapi belum tentu mengubah lingkaran tersebut.
Menata keselamatan dan kehidupan kedepan
Bagi PS, pemulihan dapat dimulai dengan menerima bahwa kebutuhan untuk dirawat memiliki tempat yang sah. Langkah awalnya adalah menyusun rencana keselamatan bersama klinisi dengan cara mengenali tanda krisis, menentukan tindakan penenangan, memilih orang yang dapat dihubungi, dan memastikan akses pertolongan. Adanya perencanaan krisis yang lebih kolaboratif akan menghasilkan aliansi terapeutik lebih yang kuat. Rencana ini tetap merupakan bagian dari perawatan menyeluruh, bukan jaminan bahwa percobaan bunuh diri tidak akan terjadi.
Perawatan selanjutnya perlu menghubungkan psikiatri dengan dokter yang menangani autoimun. Alasan berhenti berobat harus dieksplorasi, apakah berupa kelelahan terapi, efek samping, biaya, keputusasaan, atau kesulitan akses mungkin berperan. Setelah keselamatan dan stabilitas membaik, psikoterapi dapat membantu PS mengenali kebutuhan, mengolah rasa bersalah, dan mencoba batas yang realistis. Latihan sederhana seperti mengatakan hari ini saya belum sanggup mendengarkan dapat dibahas sebagai latihan bertahap, dengan memperhatikan keamanan relasinya.
Bagi suami, dukungan dapat diwujudkan melalui kehadiran yang konsisten, seperti mendengarkan tanpa segera mengoreksi, menanyakan kebutuhan secara langsung, membantu urusan rumah, dan menemani konsultasi. Ungkapan aku melihat kamu sedang kesulitan dan apa yang paling membantu hari ini akan memberi ruang untuk menjawab. Suami juga perlu memahami tanda perubahan suasana hati, termasuk kebutuhan tidur yang mendadak berkurang. Ia membutuhkan informasi dan dukungan agar tidak memikul seluruh tanggung jawab sendirian.
Bagi keluarga, perubahan perlu terlihat dalam pembagian tanggung jawab, penghormatan terhadap keputusan PS, dan penghentian kritik yang merendahkan. Pemulihan tidak mensyaratkan ia segera memaafkan, berdamai, atau kembali dekat dengan orang yang menyakitinya. Pelibatan keluarga harus mempertimbangkan persetujuan dan keselamatannya. Dukungan dapat diperluas kepada seorang teman tepercaya, layanan primer, atau kelompok sebaya yang dipilih. Keterhubungan sosial sangat penting, tetapi banyaknya orang di sekitar tidak otomatis berarti seseorang merasa aman dan dipahami.
Pendekatan komunitas juga menuntut kita memeriksa hambatan praktis. Siapa yang dapat mengantar saat kontrol, bagaimana biaya ditanggung, dan siapa yang menghubungi ketika ia tidak hadir? Kesinambungan pertolongan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada inisiatif seseorang yang sedang kehilangan energi. Dengan persetujuannya, tim dapat membagi peran dan menjadwalkan tindak lanjut yang jelas. Kerahasiaan tetap dijaga dan kisah traumanya tidak perlu disebarkan kepada seluruh keluarga untuk memperoleh bantuan.
Akhirnya, pemulihan perlu dinilai melalui perubahan yang bermakna seperti tidur lebih teratur, mampu makan, kembali menjalani perawatan, berkurangnya pikiran bunuh diri, serta munculnya ruang untuk memilih. Aktivitas dan hubungan dibangun sesuai tenaga yang tersedia. Praktik spiritual atau budaya dapat dilibatkan apabila memang menenangkan dan dikehendakinya.
Harapan tumbuh ketika pertolongan dapat diakses dan pengalaman sehari-hari mulai menunjukkan bahwa kebutuhannya mendapat tempat. Ia berhak menjalani kehidupan dengan dukungan yang memungkinkan dirinya menjadi manusia yang memiliki keterbatasan, keinginan, dan masa depan. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1161 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 561 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 498 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 467 Kali
Rumah Warga di Tembuku Bangli Terbakar, Kerugian Rp200 Juta
Dibaca: 409 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung