Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 2 November 2026
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan, berusia 25 tahun, berinisial PASM, mengeluhkan sedih sejak kurang lebih satu tahun lalu, memberat sejak empat bulan terakhir.
Kesedihan dirasakan sepanjang hari, membuatnya menangis sekalipun melakukan kegiatan yang sebelumnya disukai. Menjelang tidur, perasaan semakin sedih sehingga sulit tidur, tidak berenergi, dan sulit fokus.
Ia memandang dirinya sebagai pribadi yang kotor dan merasa jijik serta terus menyalahkan diri karena menjadi orang ketiga, serta merasa bersalah kepada ibunya yang malu karena perbuatannya. Hubungan bermula ketika menjalani fisioterapi untuk low back pain. Kedekatan dengan fisioterapis membuatnya merasa diperhatikan dan aman karena selama ini merasa sendiri. Ia merasa seperti menemukan sosok pria yang selama ini dicari.
Setelah enam bulan, hubungannya diketahui istri pria tersebut. Dirinya tetap berhubungan karena sulit lepas dan merasa tidak ada yang mengerti serta menjaga dirinya seperti kekasihnya. Setelah persoalan dilaporkan kepada ibunya, dirinya memilih berpisah karena tidak tega melihat ibunya dipermalukan.
Ia merasa tidak percaya diri, tidak berguna, dan tidak punya masa depan lagi. Pikiran mengakhiri hidup membuatnya sempat dirawat, tetapi kini sudah tidak ada karena memikirkan ibunya yang seorang diri.
Sebelumnya, dirinya tidak pernah mengalami gembira berlebihan, tetapi pernah memiliki semangat dan ide berlebihan, mengikuti banyak kegiatan tanpa merasa capek, merasa tidak butuh tidur, serta tetap mampu meraih peringkat pertama saat pendidikan di SMA. Dirinya juga suka berbelanja alat rias hingga tabungan habis dan melakukan hubungan intim tanpa pengaman.
Kini, dirinya hanya tidur satu sampai dua jam, nafsu makan menurun, malas mengurus diri, dan memilih berbaring sepanjang hari. Ayahnya meninggal ketika dirinya berusia tiga tahun. Karena ibu bekerja, dirinya sering dititipkan kepada keluarga besar dan merasa berjarak dengan ibu.
Pada usia 14 tahun, dirinya berpacaran dengan guru SMP yang dianggap sebagai sosok ayah. Dalam hubungan tersebut, dirinya dipaksa melakukan hubungan seksual. Hubungan berakhir setelah diketahui ibu dan tetangga. Hubungan berikutnya dengan teman sekolah berakhir karena diselingkuhi. Saat menghadapi masalah, dirinya cenderung menghindar, mengalami mual, muntah, serta nyeri punggung.
Ketika luka menemukan jalan buntu untuk bertahan
Dalam kisah PASM tergambar bagaimana seorang perempuan muda kehilangan kemampuan menikmati hari-harinya. Kesedihan menetap, malam terasa panjang, dan kegiatan yang dahulu menyenangkan tidak lagi memberi kelegaan.
Penderitaan itu disertai penilaian diri yang keras, dimana ia merasa kotor, tidak berguna, dan tidak memiliki masa depan. Di balik perilaku yang mudah dikomentari orang lain, mungkin terdapat luka yang selama ini tidak menemukan tempat aman untuk diceritakan.
Kita perlu menyadari bahwa pikiran mengakhiri hidup tidak dapat diterangkan hanya dengan satu peristiwa, termasuk putusnya hubungan. Pada PASM, kemungkinan terdapat pertemuan antara gejala depresi, kehilangan hubungan yang dianggap melindungi, pengalaman kekerasan seksual, kesepian, dan rasa malu.
Adanya pengalaman penganiayaan pada masa kanak-kanak dan kekerasan seksual berkaitan dengan pikiran serta percobaan bunuh diri. Hal ini menunjukkan kerentanan perjalanan hidup seseorang ketika trauma telah terjadi sejak masa kanak-kanak. Kekerasan dapat mengubah cara seseorang memahami dirinya. Anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk menempatkan tanggung jawab secara tepat, terutama ketika pelaku adalah orang dewasa yang dipercaya.
Ia mungkin menyimpulkan, “Ini terjadi karena saya buruk,” meskipun tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku. Pengalaman tersebut dapat membentuk keyakinan dasar negatif yang kemudian menjadi cara untuk menafsirkan pengalaman berikutnya.
Salah satu pengalaman yang perlu dipahami ialah perasaan terjebak, dimana ia mencoba untuk bertahan dalam hubungan yang menimbulkan konflik, tetapi meninggalkannya terasa seperti kehilangan satu-satunya tempat berlindung.
Bertahan dalam hubungan membuatnya merasa bersalah dan menghadapi konflik. Berpisah berarti kehilangan orang yang selama ini dianggap memahami dan melindunginya. Mendekati ibu mungkin disertai ketakutan mengecewakan, sedangkan mencari bantuan orang lain mungkin terasa berisiko dihakimi.
Ketika pilihan lain sulit terlihat, seseorang dapat membayangkan kematian sebagai jalan keluar dari penderitaan. Pernyataan PASM bahwa tidak ada yang memahami dirinya, disertai keyakinan telah mempermalukan ibu, dapat ditelaah sebagai adanya dua perasaan yang muncul yaitu merasa tidak terhubung dengan orang lain dan merasa menjadi beban.
Yang perlu digarisbawahi, merasa menjadi beban bukan berarti benar-benar menjadi beban, tetapi ketika pengungkapan ditanggapi dengan menyalahkan, meragukan, atau mempermalukan korban, ia dapat merasa bahwa meminta pertolongan justru membahayakan penerimaan sosialnya. Rasa bersalah dan rasa malu pun menjadi memiliki warna berbeda.
Rasa bersalah dapat berbunyi, “Saya melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain.” Rasa malu kemudian berubah menjadi, “Seluruh diri saya buruk.” Ketika penilaian kedua mendominasi, maka ruang untuk memperbaiki keadaan seolah tertutup. Pilihan sebenarnya mungkin masih ada, tetapi pada saat itu sulit dibayangkan atau dipercaya dapat membantu. Pertolongan perlu membuat pilihan lain menjadi nyata seperti ada tempat aman setelah berpisah, ada orang yang mendengarkan tanpa mempermalukan, dan ada perawatan untuk penderitaan yang dialami.
Mempertemukan luka dan pengalaman batin
Hubungan dengan pengasuh membantu anak membangun rasa aman dan harapan tentang ketersediaan orang lain. Kehilangan ayah pada usia dini serta pengalaman merasa berjarak dengan ibu merupakan bagian penting perjalannya.
Secara psikodinamik, kedekatan dengan figur yang dipandang melindungi mungkin membawa harapan lama untuk diterima dan dijaga. Konsep transferensi membantu menjelaskan kemungkinan bahwa kebutuhan serta harapan dari hubungan terdahulu ikut mewarnai hubungan sekarang. Dalam kasus ini, kehilangan pasangan mungkin terasa lebih luas daripada kehilangan kekasih. Ia juga kehilangan rasa aman yang dilekatkan kepada sosok tersebut, atau seolah membenarkan keyakinan bahwa dirinya tidak layak dicintai.
Pengalaman pada usia 14 tahun merupakan kekerasan seksual yang harus dicermati secara mendalam. Seorang anak yang dipaksa berhubungan seksual oleh gurunya mengalami pelanggaran terhadap keselamatan dan kepercayaannya. Tanggung jawab pemaksaan berada pada pelaku yang dapat diproses secara hukum. Menyebutnya sekadar hubungan asmara berisiko mengaburkan ketimpangan kuasa. Demikian pula, hubungan yang berkembang dalam pelayanan fisioterapi memerlukan telaah batas profesional dan kerentanan pasien, bukan hanya penilaian moral terhadap perempuan yang menerima pelayanan.
Keyakinan “saya tidak berharga”, “tidak ada yang memahami saya”, dan “masa depan saya sudah berakhir” adalah pola pandangan negatif terhadap diri, dunia, dan masa depan. Ia perlu membedakan kejadian dari kesimpulan menyeluruh tentang dirinya.
Suatu hubungan dapat berakhir menyakitkan, tetapi berakhirnya hubungan tidak menetapkan akhir dari perjalanan kehidupan seseorang. Bagian yang paling menyakitkan dapat muncul ketika seseorang tidak lagi membedakan antara pengalaman yang melukainya dan nilai dirinya. “Saya pernah diperlakukan dengan buruk” berubah menjadi “Saya memang buruk.” “Saya kehilangan seseorang” berubah menjadi “Saya akan selalu ditinggalkan.” Pada titik ini, luka menjadi dasar untuk menafsirkan diri dan masa depan.
Adanya kecenderungan menghindar juga dapat dipahami melalui prinsip belajar. Menarik diri mungkin meredakan tekanan untuk sementara sehingga perilaku itu berulang. Namun, bila berlangsung terus, kesempatan memperoleh dukungan, pengalaman menyenangkan, dan penyelesaian masalah ikut berkurang. Sehingga ajakan “jangan dipikirkan” sering tidak memadai. Ia membutuhkan langkah yang sesuai kemampuannya, seperti kembali merawat diri dan membangun rutinitas secara bertahap, bersama penanganan gangguan suasana perasaan yang sedang dialami.
Pada tingkat lingkungan budaya yang menempatkan nama baik keluarga sebagai nilai penting, konflik pribadi dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap penerimaan sosial. Namun, budaya juga menyediakan sumber pertolongan melalui gotong royong, hubungan kekerabatan, dan kehidupan spiritual. Ia perlu memahami unsur mana yang menguatkan dan mana yang menekan.
Secara neurobiologis, pengalaman traumatis dapat berkaitan dengan perubahan pengaturan respons stres, termasuk sumbu hipotalamus–hipofisis–adrenal, serta fungsi jaringan yang terlibat dalam emosi dan pengendalian respons.
Mual, muntah, dan nyeri punggung ketika menghadapi masalah dapat ditelaah sebagai bagian dari hubungan dua arah antara stres dan tubuh. Keluhan itu nyata sehingga menjelaskannya sebagai kemungkinan respons terhadap stres tidak berarti menyatakan bahwa keluhan tersebut dibuat-buat atau pasti tidak memiliki penyebab fisik.
Riwayat energi tinggi, banyak kegiatan, ide berlebihan, berkurangnya kebutuhan tidur, serta perilaku berisiko menunjukkan adanya kemungkinan spektrum bipolar. Sementara itu prestasi akademik tinggi tidak cukup untuk memastikan ataupun menolak hipomania. Demikian juga dengan keluhan berkurangnya kebutuhan tidur dahulu juga berbeda dari insomnia sekarang yang disertai kelelahan.
Merajut kisah luka ke dalam perjalanan untuk bangkit
Bagi seseorang yang mengenali sebagian dirinya dalam kisah ini, langkah awal dapat berupa mengakui bahwa penderitaannya membutuhkan pertolongan. Tidak perlu menunggu sampai keadaan tidak tertahankan. Mengungkapkan pikiran bunuh diri kepada tenaga kesehatan atau orang tepercaya memberi kesempatan untuk membangun keselamatan bersama. Pemulihan tidak harus dimulai dengan jawaban atas seluruh persoalan hidup. Ia dapat memulai dengan satu pertemuan, satu malam yang lebih aman, dan satu orang yang bersedia mendengarkan.
Bagi keluarga, percakapan dapat dimulai dengan kalimat sederhana, seperti “Belakangan ini terasa sangat berat. Apakah kamu terpikir untuk mengakhiri hidup?” Bertanya secara langsung tidak membuat seseorang bertindak mengikuti pikiran tersebut.
Dengarkan jawabannya tanpa berdebat, tanpa mempermalukan, atau membandingkan penderitaannya dengan orang lain. Hindari menjadikan kasih keluarga sebagai tekanan melalui kalimat seperti “Kalau sayang ibu, jangan begitu.” Kehadiran yang tenang lebih membuka ruang daripada tuntutan untuk segera kuat.
Jika terdapat niat segera, rencana, persiapan, atau ketidakmampuan menjaga keselamatan diri, jangan biarkan orang tersebut sendirian dan segera dampingi ke IGD. Bersama tenaga kesehatan, susun rencana keselamatan yang memuat tanda awal krisis, cara menghadapi tekanan, orang yang dapat dihubungi, dan akses pertolongan. Kurangi akses terhadap sarana yang dapat digunakan untuk melukai diri secara aman. Rencana konkret ini lebih berguna daripada hanya meminta janji untuk tidak melakukan apa-apa.
Perawatan berikutnya perlu berkesinambungan. Evaluasi psikiatri membantu memperjelas gangguan suasana perasaan dan kebutuhan pengobatan, sementara psikoterapi dapat membantu mengolah keyakinan yang menyakitkan serta membangun cara menghadapi masalah. Pengalaman trauma perlu dibahas dengan menghormati kesiapan pasien, sehingga memaksanya bercerita secara rinci bukan ukuran keberhasilan pendampingan.
Di tingkat komunitas, puskesmas, rumah sakit, keluarga, dan jejaring sosial perlu terhubung agar seseorang tidak kehilangan pendampingan setelah pulang dari perawatan. Tokoh adat atau agama dapat dilibatkan sesuai pilihan pasien dan dengan menjaga kerahasiaan. Sekolah serta fasilitas kesehatan juga perlu menjadi tempat aman dari penyalahgunaan kuasa. Pencegahan tidak cukup berhenti pada ajakan mencari bantuan apabila lingkungan masih menghukum orang yang mengungkapkan kekerasan atau kesulitan psikologisnya.
Kisah PASM belum memberi tahu bagaimana perjalanan pemulihannya berakhir. Karena itu, kita tidak perlu menciptakan akhir bahagia yang belum terjadi. Yang dapat kita usahakan ialah memperbesar kemungkinan ia memperoleh pertolongan, hubungan yang aman, dan kesempatan membangun kembali kehidupannya. Bertahan tidak selalu tampak sebagai keberanian besar. Kadang, ia hadir sebagai kesediaan untuk datang berobat, menerima pendampingan, atau mencoba menjalani hari berikutnya. Tanggung jawab kita adalah memastikan langkah kecil itu mendapat tempat. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 304 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 186 Kali
Ojol Rebutan Pelanggan di Pantai Suluban Pecatu, Polisi Turun Tangan
Dibaca: 101 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan