Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Sawah di Taro Mengering-Retak, Petani Gelar Ritual Mendak Toya

Selasa, 6 Oktober 2026, 12:38 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Sawah di Taro Mengering-Retak, Petani Gelar Ritual Mendak Toya.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, GIANYAR.

Musim panas berkepanjangan mulai berdampak serius terhadap pertanian di Banjar Patas dan Banjar Belong, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Minimnya pasokan air membuat sejumlah petak sawah mengering hingga tanahnya pecah-pecah.

Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi tanaman padi yang kini memasuki fase penting menjelang berbuah. Petani pun khawatir kekurangan air berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga berujung pada gagal panen.

Menghadapi kondisi tersebut, krama Subak Patas dan Subak Belong menggelar tradisi upacara Mendak Toya di Pura Dugul atau Pura Ulun Suwi. Ritual tersebut menjadi bentuk permohonan secara niskala agar sumber dan saluran irigasi tetap mengalir serta hujan segera turun.

Harapan petani kemudian mendapat kabar baik. Pada Minggu (4/10/2026) petang, setelah rangkaian upacara selesai, gerimis mulai mengguyur kawasan Desa Taro.

Meski hujan belum turun deras, datangnya air dari langit disambut penuh rasa syukur oleh warga, terutama para petani yang sebelumnya menghadapi kondisi sawah yang mulai mengering.

"Musim panas kali ini sangat terasa dampaknya. Sawah sudah mulai kering, bahkan tanahnya sampai pecah-pecah," ujar I Made Nuki, salah seorang petani Subak Patas.

"Setelah hujan mulai turun, kami tentu merasa lega dan bersyukur. Mudah-mudahan ini menjadi awal turunnya hujan secara berkelanjutan sampai panen nanti," imbuhnya.

Pekaseh Subak Patas, I Ketut Munjuk, mengatakan upacara Mendak Toya merupakan kearifan lokal yang rutin dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memohon keselamatan bagi pertanian dan keberlangsungan sumber air.

"Upacara Mendak Toya ini merupakan bentuk bhakti dan permohonan kami kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar air irigasi tetap mengalir, hujan segera turun, dan tanaman padi yang kami tanam diberikan keselamatan," jelas Munjuk.

Selain melakukan permohonan secara niskala, krama subak di Desa Taro tetap menjalankan berbagai upaya secara sekala atau nyata. Petani terus merawat tanaman padi di lahan, termasuk mengantisipasi serangan hama tikus dan burung serta mengendalikan gulma.

Bagi petani di Desa Taro, hujan yang mulai turun menjadi angin segar di tengah ancaman kekeringan. Mereka berharap pasokan air irigasi kembali melimpah sehingga tanaman padi dapat tumbuh optimal dan bulir-bulir padi berkembang sempurna hingga masa panen.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/gnr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami