Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Jelang TPA Suwung Ditutup, Dua Incinerator Siap Olah Sampah di Badung 24 Jam

Sabtu, 20 Desember 2025, 16:12 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Jelang TPA Suwung Ditutup, Dua Incinerator Siap Olah Sampah di Badung 24 Jam.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Menjelang penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, pada 23 Desember 2025, Pemerintah Kabupaten Badung mempercepat langkah penanganan sampah melalui pengoperasian dua unit mesin incinerator baru di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Padang Seni, Jalan Bypass Ngurah Rai, Kuta, Badung.

Dua mesin incinerator milik PT Dodika Prabsco Resik Abadi ini dirancang beroperasi 24 jam nonstop dengan kapasitas pengolahan 10 hingga 15 ton per hari, tergantung jenis dan kondisi sampah.

Komisaris PT Dodika Prabsco Resik Abadi, Karina Prabowo Sanger menjelaskan bahwa optimalisasi kinerja incinerator sangat bergantung pada pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

“Kalau sampah dipilah, kerja mesin jauh lebih ringan. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal kebiasaan. Kita harus mulai mengedukasi masyarakat, bahkan anak-anak, untuk memilah sampah dari rumah,” katanya, Sabtu (20/12/2025) di Kuta, Kabupaten Badung.

Karina menambahkan mesin masih berada pada tahap pre-heating atau pemanasan awal. Namun, menyusul penutupan TPA Suwung, proses tersebut dipercepat.

“Sebetulnya suhu kami sudah cukup, hanya untuk menjaga agar tetap stabil, kami menggunakan kayu bakar di awal. Selanjutnya full menggunakan sampah,” ujarnya.

Mesin incinerator beroperasi pada suhu tinggi 800 hingga 1.200 derajat Celsius, dilengkapi dua ruang bakar, sistem wet scrubber dan penyaring partikel untuk menekan emisi agar tetap di bawah baku mutu Kementerian Lingkungan Hidup.

“Semua pembakaran pasti ada asap. Tapi ini sudah diuji, aman, dan sesuai regulasi. Yang dilarang itu pembakaran terbuka,” ucapnya.

Ia juga memastikan abu hasil pembakaran tidak menjadi limbah berbahaya.

"Abu hasil incinerator telah melalui uji laboratorium dan dapat dimanfaatkan sebagai campuran paving block, batako, hingga aspal", ucapnya.

Selain ramah lingkungan, pengoperasian mesin ini turut menciptakan lapangan kerja. Dalam satu hari operasional penuh, sedikitnya 16 tenaga kerja dilibatkan dalam sistem pergiliran.

Saat ini terdapat 19 unit incinerator Dodika tersebar di sejumlah wilayah Bali, termasuk Mengwi, Legian, Tuban, Kuta, Pecatu, Cemagi, Pererenan, Munggu, hingga Karangasem.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, Dr. Ir. Anak Agung Gede Agung Dalem memastikan penggunaan incinerator sesuai standar nasional dan regulasi kementerian.

“Kalau pembakaran dilakukan di atas 800 derajat, bahkan sampai 1.000 derajat, secara saintifik sudah aman bagi lingkungan. Emisi terkendali, sehingga perizinan bisa diterbitkan,” paparnya.

Ia menegaskan kondisi saat ini bersifat darurat sehingga pemilahan sampah wajib dilakukan lebih maksimal.

“Kalau masyarakat mau memilah, residu itu hanya sekitar 15 persen. Misalnya di Kuta ada 30 ton sampah, residunya hanya 5 ton. Itu sudah selesai dengan satu mesin. Masalahnya sekarang, masyarakat belum disiplin memilah,” bebernya.

DLHK Badung memastikan TPST Padang Seni dikelola ketat dengan pengawasan terhadap jenis sampah masuk, terutama agar tidak tercampur limbah B3 seperti ban, PVC, maupun baliho.

Dengan pengoperasian incinerator terbaru, Pemkab Badung berharap mampu memutus ketergantungan terhadap TPA Suwung sekaligus menjadi solusi jangka panjang untuk pengelolaan sampah modern dan berkelanjutan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami