Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Mengenang Maestro Topeng I Made Regug, Tak Dibatasi Usia

Senin, 2 Agustus 2021, 11:15 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/I Made Regug semasa hidup.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, GIANYAR.

Maestro topeng sekaligus pelestari topeng, I Made Regug berpulang di usia 86 tahun pada Sabtu (31/7) sekitar pukul 14.00 WITA.  Beliau menghembuskan nafas terakhir dalam perawatan di IGD RSUD Sanjiwani Gianyar. 

Semasa hidup, Made Regug lama berjuang melawan penyakit diabetes. Cucu almarhum, Made Wiradana menjelaskan sehari sebelum meninggal, kakeknya masih beraktifitas seperti biasa. 

"Paginya masih biasa, sempat memandikan ayam. Beliau juga biasa nyuntik insulin sendiri setiap sebelum makan," jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (1/8). 

Namun pada Jumat (31/7) sore, Made Regug tiba-tiba lemas sehingga dilarikan ke IGD RSUD Sanjiwani. "Belum sempat pindah ke ruang rawat inap, kakek tyang tiada  sekitar pukul 14.00 WITA," jelas Made Wiradana yang juga menjabat Kelihan Dusun Banjar Lantangidung ini. 

Dijelaskan Made Wiradana, semasa hidup kakeknya memang menderita penyakit kencing manis atau diabetes. "Beliau termasuk taat berobat, setiap sebelum makan pasti ingat suntik insulin. Kadang-kadang masih sempat ngutak atik topeng," jelasnya. 

Kepergian Made Regug sudah diikhlaskan oleh keluarga. Terlebih, usianya sudah sangat renta 86 tahun. Sesuai adat setempat, almarhum dikubur melalui upacara mebersih di Setra Adat Lantangidung pada Redite Wage Wayang, Minggu (1/8) sore. 

Made Regug terbilang masih aktif berkarya saat usia renta. Ditemui di kediamannya di Banjar/Desa Pakraman Lantangidung, Desa Dinas Batuan Kecamatan Sukawati Gianyar, Tahun 2017 lalu, Made Regug penerima penghargaan Tokoh Pelestari Topeng tahun 2015 dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar ini mengatakan masih sering diminta untuk membuat topeng yang dipergunakan untuk Sesuhunan maupun Topeng untuk pementasan. 

Membuat Topeng sudah dijadikan tumpuan hidup. Dengan menari Topeng, Made Regug bisa menghidupi keluarganya. Bahkan hingga membiayai sekolah cucu-cucunya. Made Regug membesarkan anak dan cucunya dengan lungsuran dari banten yang diberikan kepadanya saat pentas Nopeng. 

Maan nunas santun megarang, misi baas abedik to kumpulin anggo mani puane ngaenang cucu-cucu bubuh,” kenangnya.

Hanya saja, penyakit Kencing Manis dan Asam Urat mulai membatasi aktivitasnya. Meski demikian, ia tetap merasa bersyukur masih bisa bekerja meskipun dalam kondisi sakit. 

“Sakit tua, sudah biasa. Ulian ngangsang ulian demen,” ujarnya. 

Ayah 6 anak ini memiliki beban yang cukup berat sepeninggal dua anak laki-lakinya. Kini Made Regug hanya tinggal bersama dua menantu dengan 6 cucu. Sementara anak ketiganya I Nyoman Setiawan yang meneruskan kesenian topeng tinggal terpisah namun masih satu banjar.

Dikisahkan Made Regug, sejak tahun 1974 sudah mulai menari Topeng Pajegan bersama seniman Topeng lawas seperti Made Kakul. Seluruh Bali sudah pernah ia sambangi termasuk 4 kali ke Nusa Penida. Transportasi yang jaman dahulu tak secanggih saat ini, mengharuskan Made Regug menaiki perahu. Perjalanan ditempuhnya selama berjam-jam untuk tiba di Nusa Penida. “Nak adeng-adeng to, mekelo di perahu,” terangnya. 

Selain itu, Made Regug juga berkesempatan pentas Topeng di Surabaya, Lombok dan Jepang atas permintaan pemerintah. “Saya lupa tahun berapa, yang jelas acara festival topeng. Kalau yang di Jepang sekitar tahun 2000an,” jelasnya.

Diungkapkan Made Regug, pentas Topeng pada jaman dahulu tak seperti saat ini yang dijemput memakai mobil. Melainkan, ia sendiri naik sepeda untuk tiba di tempat tujuan. Bahkan berangkatnya bisa sehari sebelum pentas. 

“Yen ke Klungkung, jam 4 sore sampun berangkat. Kal pentas buin manine,” terangnya. 

Tapi hal tersebut tidak membuatnya berkecil hati, sebab penghargaan terhadap seniman topeng pada waktu itu sangat tinggi. 

“Baru tiba di lokasi sudah dilayani dengan baik, katung dibawakan dan tidak pernah diberikan nasi bungkus, pasti mewadah wanci,” jelasnya.

Selain itu, antusias masyarakat untuk menonton juga sangat tinggi. Bahkan hingga dini hari pun pementasan, masyarakat masih setia untuk menonton. 

“Dulu karena minim hiburan, topeng menjadi satu-satunya tontonan yang menarik. Terutama prembon. Setiap ada odalan, Prembon pasti diminta untuk pentas,” ujarnya. 

Untuk mementaskan prembon, Made Regug bergabung bersama seniman lain dengan konsep bun-bunan. Saat tiba di lokasi pementasan, barulah ditentutkan siapa berperan sebagai apa dan lampahan apa yang akan dibawakan. 

“Topeng prembon paling lais jaman dulu karena minim hiburan. Kanti kelemah nak mebalih, beda dengan sekarang ukuran 2 jam saja pentas sudah selesai. Kalau dulu pementasan topeng sampai habis-habisan tapel,” jelasnya.

Waktu muda, Made Regug belajar membuat dan menari topeng secara otodidak dari banyak guru di Batuan dan di Singapadu. Beraneka jenis tapel pun bisa ia buat dengan ekspresi yang begitu kuat. Sebut saja misalnya tapel Dedalem, Rangda, Pasung Grigis, Gajah Mada, Tapel Luh, hingga Bebondresan. 

“Apa yang diminta bisa tyang buatkan. Untuk masalah bagus dan tidaknya itu tergantung penilaian orang lain,” ungkapnya.

Tapel hasil karya Made Regug memiliki nilai seni tinggi karena menggunakan pewarna alami. Bahkan jika diuangkan, nilainya mencapai jutaan rupiah. Hanya saja, diakui untuk kalangan pragina (penari Bali) yang memintanya untuk membuatkan satu prancak tapel, dirinya tak bisa mematok harga. 

“Kalau sama orang Bali sulit ngasi harga, tyang terima seberapa ia mampu bayar. Asalkan ia benar-benar tulus dan bisa menjaga tapel itu dengan baik,” jelasnya.

Hasil karya Made Regug tak sampai dipasarkan ke luar, namun telah beredar ke seluruh Bali. Kebanyakan orang mendatangi rumahnya untuk memesan tapel. Bahan alami yang digunakan dibuat sendiri. Untuk cat menyerupai kulit manusia dibuat dari tulang babi guling dan tanduk menjangan. 

Bahan-bahan tersebut dibakar sampai menjadi tepung kemudian diulek hingga halus. Baru kemudian ditambahkan ancur Prancis. “Warna Bali tidak bisa mati. Bahkan semakin lama ia akan tampak semakin bagus. Akan tampak persis seperti warna kulit manusia,” jelasnya. 

Selain itu, warna alami juga didapatkan dari mangsi saat pembuatan minyak tandusan (lengis tandusan). Untuk menyelesaikan satu tapel, diperkirakan membutuhkan waktu minimal 10 hari. Mulai dari mencari bentuk, mengukir hingga memulas. Dalam membuat topeng, Made Regug nampaknya punya taksu tersendiri dengan membuatnya di sebuah gubuk reot. 

Gubuk tersebut berada tak jauh dari kediamannya. Dengan dibantu tongkat bambu kecil, Made Regug berjalan perlahan menuju lokasi workshopnya. 

“Disini tempatnya asri, tenang untuk bekerja. Di tempat ini juga tyang dapat inspirasi bagaimana membuat tapel sesuai keinginan pemesan,” jelasnya didampingi Bendesa Pakraman Lantangidung I Wayan Sujana.

Mengenai keberadaan seniman topeng di Banjar Lantangidung, Wayan Sujana mengakui perhatian pemerintah masih minim. Bukan dalam hal materi, namun penghargaan terhadap seniman yang telah berkiprah sejak puluhan tahun. 

“Bukan berarti memberatkan pemerintah agar menengok setiap waktu, tetapi bagaimana pemerintah mengetahui keberadaan para seniman yang turut mengajegkan kesenian Bali,” jelas Bendesa yang mantan Kepala Samsat Gianyar ini. 

Pihaknya berharap Made Regug dipertimbangkan untuk mendapatkan penghargaan setingkat provinsi Bali.

Biodata singkat :

Nama : I Made Regug

Usia : 86 Tahun

Istri : Ni Ketut Mediran (alm)

Anak 6 :

  1. Ni Wayan Rawi
  2. I Made Gelombang (alm)
  3. I Nyoman Setiawan (penerus)
  4. I Ketut Topan (alm)
  5. Ni Wayan Sekar
  6. Ni Made Janji

Cucu yang tinggal bersama di rumah : 6 orang

  • Penghargaan : Tokoh Pelestari Topeng dari Bupati Gianyar tahun 2015 melalui Dinas Kebudayaan sebagai Pembuat dan Penari Topeng.
  • Penerima Piagam Wijaya Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar tahun 2001 atas pengabdian dalam mengemban, membina dan mengembangkan seni tari semasa Bupati Gianyar Tjokorda Gde Budi Suryawan SH. 
  • Mulai menari Topeng sejak tahun 1965.
  • Berkesempatan pentas pada pelaksanaan PKB pertama kali pada tahun 1974 dan meraih juara I kategori Tapel Putri.
  • Tahun 1984 meraih juara II Tapel Bondres. 
  • Pernah Pentas ke Surabaya, Lombok dan Jepang (tahun 2000an) dalam kegiatan festival Topeng. 
  • Peserta Pameran Bali Kandarupa PKB XLIII Tahun 2021. 
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/gnr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami