Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 19 Mei 2026
Penjelasan LAPAN RI Soal Bencana Akibat dari Penurunan Aktivitas Matahari
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Fase Matahari lockdown atau penurunan aktivitas Matahari (solar minimum) tidak akan menyebabkan bencana alam di Bumi. Hal ini diungkapkan peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
[pilihan-redaksi]
Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto menjelaskan hal ini disebabkan karena aktivitas Matahari yang rendah saat ini belum terbilang ekstrem dibandingkan pada periode 1790-1830 lalu.
Selain itu, Rhorom mengatakan dunia modern saat ini telah siap menghadapi solar minimum. Belum lagi mengingat masalah pemanasan global yang tetap menjaga suhu Bumi meski terjadi penurunan aktivitas Matahari.
"Aktivitas Matahari yang rendah saat ini belum terbilang ekstrem. Era modern lebih siap menghadapi aktivitas matahari yang teramat minimum. Atau setidaknya, global warming memberi kita 'surplus temperatur' sekitar 1 derajat," kata Rhorom Selasa (19/5/2020), seperti dikutip dari cnbcindonesia.com.
Lebih lanjut, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menegaskan kalau bencana alam yang terjadi belakangan tidak terkait dengan situasi Matahari.
"Bencana tidak terkait dengan kondisi aktivitas Matahari minimum," tambahnya.
Pada 1790-1830, bencana akibat penurunan aktivitas Matahari pernah terjadi. Saat itu, rendahnya aktivitas memicu penurunan suhu global dan berimbas pada produksi pangan. Periode tersebut ditandai dengan cuaca yang sangat dingin, gagal panen, kelaparan, dan letusan gunung berapi yang signifikan.
Rhorom mengatakan suhu global memang sempat menurun pada saat periode minimum Dalton (tahun 1800) dan periode minimum Maunder (tahun 1700). Ketika itu Bumi mengalami pendinginan global, gagal panen, hingga krisis pangan.
"Pada kasus ekstrem minimum Maunder dan Dalton, rendahnya aktivitas Matahari beberapa dekade berimbas pada pendinginan global, tak hanya di daerah 4 musim, tapi juga di daerah tropis," kata Rhorom.
Penggunaan kata lockdown Matahari menandakan penurunan aktivitas Matahari atau biasa disebut dengan periode solar minimum. Pengamatan para ilmuwan menunjukkan penurunan aktivitas permukaan matahari yang drastis.
Hal tersebut ditandai dengan bintik matahari yang menghilang. Ilmuwan mencatat Matahari tidak beraktivitas atau mengalami hari tanpa bintik sebanyak 76 persen hingga saat ini. Tahun lalu, Matahari tercatat tidak beraktivitas sebanyak 77 persen dalam satu tahun, artinya 281 hari tanpa adanya bintik Matahari.
"Kata lockdown dipilih untuk menekankan potensi resesi akibat aktivitas Matahari yang teramat rendah. Hal ini pernah terjadi sekitar 1790-1830, dikenal sebagai periode minimum Dalton. Aktivitas Matahari yang rendah memicu penurunan suhu global dan berimbas pada produksi pangan," ujar Rhorom.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1612 Kali
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 1475 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1218 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1062 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah