Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 18 Mei 2026
Persaingan Tak Sehat, Arak Gula Ancam Keberlangsungan Perajin Arak Tradisional
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Keputusan Gubernur Bali nomor 929/03-I/HK/2022 menetapkan tanggal 29 Januari sebagai Hari Arak Bali dengan tujuan mengajak masyarakat Bali menjadikan hari tersebut sebagai hari kesadaran kolektif terhadap keberadaan, nilai dan harkat arak Bali.
Hanya saja, di balik penetapan hari arak Bali tersebut, kondisi perajin arak tradisional khususnya yang ada di Kabupaten Karangasem kini justru sedang dilanda keresahan. Pasalnya, hingga saat ini keberadaan arak gula masih menjadi momok atas keberlangsungan arak tradisional Bali.
Menurut salah satu perajin arak asal Kebung, Sidemen, Karangasem, I Kadek Kicen, belakangan ini ia mengaku cukup kesulitan untuk menjual arak hasil sulingannya, salah satu faktor penyebabnya karena persaingan harga yang tidak sehat antara arak tradisional buatannya dengan arak gula yang beredar.
"Kita kalah bersaing harga, kalau arak tradisional kalo kita beli tuak untuk bahan araknya saja Rp. 10 ribu per liter, sedangkan arak gula itu sudah jadi arak bisa dijual Rp.10 per botol, jelas kita kalah bersaing," tutur pria yang telah turun temurun mewarisi kerajinan pembuatan arak tradisional itu, Senin (23/1/2023).
Menurut Kicen, dari 80 liter tuak yang disuling hanya menghasilkan sekitar 15 liter arak dengan kadar alkohol 40 persen. Dengan harga bahan baku serta proses penyulingan hingga berhari-hari, ia mengaku cukup kesulitan untuk bersaing harga.
Sebelumnya, ia bisa menjual Rp20 ribu untuk satu botol ukuran 600 ml, namun karena persaingan harga, kini dijual dengan harga Rp15 ribu per botolnya itupun cukup susah untuk dijual dengan harga seperti itu.
Ia pun berharap ada kejelasan tentang kondisi ini, karena apabila terus berlanjut tentunya akan mengancam keberadaan pengerajin arak tradisional yang masih bertahan hingga saat ini.
"Ini sudah turun temurun kami lakukan, karena memang ini satu-satunya pencaharian kami selain berkebun, semoga ada solusinya," imbuhnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1536 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1157 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1005 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 884 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah