Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik

Kamis, 26 Maret 2026, 10:15 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Bale Gajah menjadi salah satu bagian penting dari empat bale utama di kawasan Pura Penataran Agung Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali. Keberadaannya sejajar dengan Bale Pesamuan, sementara Bale Agung berada sejajar dengan Bale Peselang.

Dalam konsepsi spiritual, Bale Gajah juga dikenal sebagai Bale Nasti yang memiliki keterkaitan dengan simbol gajah. Simbol ini identik dengan Ganesha atau Ida Bhatara Gana, yang melambangkan kebijaksanaan, keteguhan, serta kepekaan terhadap penderitaan sesama.

Pamucuk Pemangku Pura Agung Besakih, Jro Gede Anglurah Bendesa, menegaskan bahwa kesakralan Bale Gajah tidak hanya terletak pada simbolismenya, tetapi juga aturan ketat yang mengikatnya.

"Tempat ini disucikan secara khusus dan hanya diperuntukkan bagi para sulinggih saat memimpin pemujaan," ujarnya.

Ia menjelaskan, tidak semua orang diperbolehkan naik ke Bale Gajah. Selain sulinggih, hanya pihak tertentu seperti Ida Dalem Semaraputra selaku Wiku Nata Raja Jagat, pemangku, maupun pinandita Desa Adat Besakih yang diperkenankan, itu pun dalam konteks tugas suci seperti ngunggahang upakara.

Bagi krama Besakih, larangan ini bukan sekadar aturan tertulis, melainkan warisan turun-temurun yang dijaga dengan penuh kesadaran. Bahkan aktivitas sederhana seperti menyapu di area Bale Gajah tidak dapat dilakukan sembarangan.

"Hanya mereka yang mendapat titah atau memiliki kewenangan spiritual yang berani nyapu di bale gajah," terangnya.

Secara konseptual, Bale Gajah memiliki peran penting dalam prosesi pemujaan Ida Bhatara Turun Kabeh. Posisi Bale Gajah yang berhadapan dengan Bale Pesamuan melambangkan kesatuan spiritual dalam ajaran Aji Karo Eket, yakni dua unsur yang terikat menjadi satu, menggambarkan hubungan antara yang memuja dan yang dipuja.

Dari sisi arsitektur, Bale Gajah dibangun dengan konsep mandala yang sarat makna kosmologis. Terdapat empat saka utama di dalamnya, dikelilingi delapan tiang di bagian luar yang melambangkan delapan arah mata angin atau asta dala.

Secara keseluruhan, bangunan ini memiliki 24 saka yang merepresentasikan konsep padma bhuana, yakni gambaran alam semesta dalam ajaran Hindu. Dalam lontar Padmabhuana, konsep ini dianalogikan seperti bunga padma yang menguncup saat penyineban dan kembali mekar dalam siklus spiritual yang abadi.

Kesakralan Bale Gajah juga diperkuat oleh pengalaman empiris masyarakat. Terdapat kisah pelanggaran, bahkan hanya mengambil benda sisa di area tersebut, yang diyakini berujung pada kejadian tidak diinginkan saat perjalanan pulang.

Dengan nilai filosofis, aturan adat, dan pengalaman spiritual yang menyertainya, Bale Gajah menjadi simbol kuat kesucian di kawasan Besakih. Keberadaannya mengingatkan bahwa terdapat batas-batas sakral yang harus dijaga dengan rasa hormat, pemahaman, dan kesadaran penuh.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/krs



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami