Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Polisi Gelar Rekonstruksi

Singaraja

Sabtu, 20 September 2008, 17:40 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Mempertajam kasus berdarah di Desa Depehe Kecamatan Kubutambahan menjelang Hari Raya Galungan lalu serta memperkuat keterlibatan lima orang tersangka, sabtu (20/9) siang di Mapolres Buleleng digelar Rekonstruksi.

Rekonstruksi menghadirkan kelima pelaku penganiayaan yang berujung dengan tewasnya Kadek Karuna alias Lotto (32) Warga Desa Tunjung dengan luka pukulan dan tusukan sebilah belati.



“Rekonstruksi ini untuk memastikan keterlibatan sejumlah pelaku dalam peristiwa yang terjadi dan tidak menutup kemungkinan dari reka ulang ini akan muncul fakta-fakta baru ataupun pelaku tambahan, lima tersangka yang langsung memperagakan peristiwa menjelang galungan lalu di depehe,” ungkap Perwira Humas Polres Buleleng, Kompol I Made Sudirsa.

Dalam rekontruksi yang mengambil scenario dalam 33 adegan diawali saat para pelaku berkumpul di Balai banjar Dusun Bungin Desa Depehe yang kemudian datang korban Kadek Karuna alias Lotto tanpa baju mengendarai sepeda motor.



”Korban diperagakan oleh anggota yang datang tanpa baju melewati para pelaku, kemudian datang lagi hingga terjadi aksi penganiayaan tersebut,” ujar Sudirsa mengutip skenario rekonstruksi.

Rekontruksi kasus penganiayaan yang berakhir dengan tewasnya Kadek Karuna alias Lotto berlangsung hampir dua jam dipimpin langsung Kanit I Sat Reskrim Polres Buleleng, Ipda. Nyoman Adnyana TJ dan menghadirkan lima tersangka diantaranya, Made Wiratastra (24), Nyoman Wardipa (25), Gede Redita (25) Gede Werestiapa (25) dan Made Artama alias Guru Ama (38).



Dalam 33 adegan rekontruksi penganiayaan tersebut, Made Wira Tastra memukul korban dengan sebuah pentungan, sedangkan Nyoman Wardipa dan Gede Redita menghantam korban masing-masing dengan sebuah Batako, sementara Gede Werestiapa bersama Made Artama memukul dengan tangan kosong.

Sementara yang masih menjadi tandatanya dalam kasus berdarah di Desa Depehe yang mengakibatkan Lotto tewas ditempat adalah kepemilikan sebilah belati yang berlumuran darah, bahkan hingga rekonstruksi itu digelar tidak diketahui pemilik senjata tajam tersebut. (sas)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami