Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Jumat, 25 September 2026
Jantung Tidak Stabil, Salah Satu Korban Petir Dirujuk ke RSU Karangasem
Senin, 26 Februari 2018,
15:50 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com.Karangasem. Salah satu korban dari tujuh korban selamat yang terkena sambaran petir di Desa Tulamben, Kubu, Karangasem harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Karangasem karena denyut jantungnya tidak stabil.
[pilihan-redaksi]
Bagian Humas RS Karangasem, Gede Dedy membenarkan bahwa salah satu korban sambaran petir atas nama I Nyoman Para alias Jenek (45) dirujuk ke RSU Karangasem pada Minggu (25/2) sore pukul 19.30 Wita.
Bagian Humas RS Karangasem, Gede Dedy membenarkan bahwa salah satu korban sambaran petir atas nama I Nyoman Para alias Jenek (45) dirujuk ke RSU Karangasem pada Minggu (25/2) sore pukul 19.30 Wita.
"Ya salah satu korban dirujuk ke RSU Karangasem, karena kemarin irama jantungnya tidak stabil sehingga perlu penanganan lebih lanjut," ungkapnya Senin (26/2).
Diketahui, Korban I Nyoman Jenek, dirawat disalah satu ruangan cempaka RSU Karangasem. Ketika ditemui terlihat korban masih menggunakan alat bantu oksigen ditemani oleh keponakannya I Wayan Miasa (23). Saat ditanya tentang kondisinya Jenek mengaku masih merasakan rasa sakit pada bagian leher belakangnya selain itu kodisinya sudah mulai stabil.
Menurut Jenek, sebelum insiden maut tersebut terjadi, dirinya sempat berkata jika kondisi cuaca mendung seperti saat itu kemungkinan akan terjadi petir, mengingat di wilayah tersebut kerap terjadi sambaran petir. Benar saja selang beberapa saat terjadi hujan lebat dirinya beserta keluarga lainnya kemudian berteduh disebuah gubuk hingga akhirnya terjadilah insiden maut tersebut.
Saat kejadian, Jenek sendiri mengaku seperti terkena setrum pada bagian leher belakang namun masih dalam kondisi sadar. Sementara dilihatnya dua orang lainnya sudah terjatuh tak sadarkan diri.
Sementara itu, menurut keponakan Jenek, Wayan Miasa merasa tidak mendapatkan firasat apapun atas musibah yang menimpa keluarganya tersebut. Namun entah mengapa sejak sehari sebelumnya tiba - tiba dirinya rindu kepada keluarga dikampungnya hingga memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya tepat saat insiden tersebut terjadi.
Setibanya dikampung, awalnya Miasa sama sekali tidak mengetahui kejadian itu, hingga dilihatnya si nenek menangis dan mengatakan seluruh anggota keluarga yang memanen kacang tersambar petir.
[pilihan-redaksi2]
Disisi lain menurut Miasa, ada semacam kepercayaan warga setempat jika ada korban akibat tersambar petir harus didiamkan selama 24 jam dilokasi kejadian dan tidak boleh disentuh oleh siapapun.
Disisi lain menurut Miasa, ada semacam kepercayaan warga setempat jika ada korban akibat tersambar petir harus didiamkan selama 24 jam dilokasi kejadian dan tidak boleh disentuh oleh siapapun.
"Ya kepercayaan warga, Karena dahulu dikatakan pernah ada kena sambaran petir dan tubuhnya didiamkan selama 24 jam tanpa disentuh maka kemungkinan bisa hidup lagi," kata Miasa.
Saat ini, kedua korban sudah dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan, dan empat hari kedepan baru akan dilakukan prosesi pemakamannya. (bbn/igs/rob)
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8382 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5794 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3626 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2452 Kali
05
ABOUT BALI
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026