Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Jantung Tidak Stabil, Salah Satu Korban Petir Dirujuk ke RSU Karangasem

Senin, 26 Februari 2018, 15:50 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Beritabali.com.Karangasem. Salah satu korban dari tujuh korban selamat yang terkena sambaran petir di Desa Tulamben, Kubu, Karangasem harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Karangasem karena denyut jantungnya tidak stabil.
 
[pilihan-redaksi]
Bagian Humas RS Karangasem, Gede Dedy membenarkan bahwa salah satu korban sambaran petir atas nama I Nyoman Para alias Jenek (45) dirujuk ke RSU Karangasem pada Minggu (25/2) sore pukul 19.30 Wita.
 
"Ya salah satu korban dirujuk ke RSU Karangasem, karena kemarin irama jantungnya tidak stabil sehingga perlu penanganan lebih lanjut," ungkapnya Senin (26/2).
 
Diketahui, Korban I Nyoman Jenek, dirawat disalah satu ruangan cempaka RSU Karangasem. Ketika ditemui terlihat korban masih menggunakan alat bantu oksigen ditemani oleh keponakannya I Wayan Miasa (23). Saat ditanya tentang kondisinya Jenek mengaku masih merasakan rasa sakit pada bagian leher belakangnya selain itu kodisinya sudah mulai stabil.
 
Menurut Jenek, sebelum insiden maut tersebut terjadi, dirinya sempat berkata jika kondisi cuaca mendung seperti saat itu kemungkinan akan terjadi petir, mengingat di wilayah tersebut kerap terjadi sambaran petir. Benar saja selang beberapa saat terjadi hujan lebat dirinya beserta keluarga lainnya kemudian berteduh disebuah gubuk hingga akhirnya terjadilah insiden maut tersebut.
 
Saat kejadian, Jenek sendiri mengaku seperti terkena setrum pada bagian leher belakang namun masih dalam kondisi sadar. Sementara dilihatnya dua orang lainnya sudah terjatuh tak sadarkan diri.
 
Sementara itu, menurut keponakan Jenek, Wayan Miasa merasa tidak mendapatkan firasat apapun atas musibah yang menimpa keluarganya tersebut. Namun entah mengapa sejak sehari sebelumnya tiba - tiba dirinya rindu kepada keluarga dikampungnya hingga memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya tepat saat insiden tersebut terjadi.
 
Setibanya dikampung, awalnya Miasa sama sekali tidak mengetahui kejadian itu, hingga dilihatnya si nenek menangis dan mengatakan seluruh anggota keluarga yang memanen kacang tersambar petir.
 
[pilihan-redaksi2]
Disisi lain menurut Miasa, ada semacam kepercayaan warga setempat jika ada korban akibat tersambar petir harus didiamkan selama 24 jam dilokasi kejadian dan tidak boleh disentuh oleh siapapun.
 
"Ya kepercayaan warga, Karena dahulu dikatakan pernah ada kena sambaran petir dan tubuhnya didiamkan selama 24 jam tanpa disentuh maka kemungkinan bisa hidup lagi," kata Miasa.
 
Saat ini, kedua korban sudah dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan, dan empat hari kedepan baru akan dilakukan prosesi pemakamannya. (bbn/igs/rob)
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami