Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 8 Mei 2026
Kaja Kangin Sebagai Konsep Hulu Masyarakat Bali
BERITABALI.COM, TABANAN.
Istilah Kaja-Kangin bagi masyarakat Bali tidak sebatas memiliki pengertian penunjuk arah mata angin, tetapi lebih pada konsep hulu. Dimana dalam tata ruang Bali, istilah Kaja berarti atau simbul gunung dan kata Kangin berarti mewakili simbul matahari.
“Tetapi dalam tatanan budaya Bali terkait folosofi Luanan dan Tebenen (hulu-teben), Kaja tidak selalu identik atau berarti Utara. Demikian juga Kangin tidak selalu indentik atau berarti Timur.
Demikian juga Kaja-Kangin bukan selalu berarti Timur-Laut” jelas pemerhati budaya Bali Made Nurbawa saat dikonfirmasi di Tabanan pada Minggu (29/7).
Menurut Nurbawa, berdasarkan keyakinan masyarakat Bali bahwa gunung dan matahari sebagai hulu. Gunung sebagai simbul dari hulu air dan matahari adalah hulu energi yang merupakan sumber hidup/kehidupan.
Atas dasar keyakinan tersebut maka orang Bali (Hindu) dalam membuat tempat suci (sanggah) di pekarangan rumah, letak atau lokasinya pasti berkiblat pada hulu yaitu Kaja-Kangin.
Nurbawa menegaskan penghormatan terhadap posisi Hulu adalah sebuah keyakinan dan sudah membudaya secara turun temurun. Hal itu nampak jelas jika melihat tata letak pekarangan atau rumah orang Bali.
Jadi hulu pekarangan rumah orang Hindu di Bali adalah Sanggah, dan Hulu Sanggah adalah Kaja-Kangin” kata pria satu putri tersebut.
Nurbawa yang merupakan mantan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali mengungkapkan sebutan Kaja-Kangin mungkin tidak terlalu membingungkan bagi masyarakat Bali Selatan, karena arah Kaja-Kangin kebetulan sama dengan arah Timur Laut dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya di Bali Utara sebutan Kaja-Kangin bukan berarti Timur Laut.
Nurbawa menambahkan konsep keyakinan dan penghormatan terhadap posisi hulu juga berlaku dalam berbagai segi kehidupan. Kesadaran, pemahaman dan keyakinan terhadap filosofi Hulu-Teben akhirnya berpengaruh luas terhadap berbagai konsep/sisi kehidupan sekala-niskala baik dalam hal tatanan Parahyangan, Palemahan dan Pawongan. Konsep Tri Hita Karana ini diyakini akan menciptakan keteraturan dalam kehidupan orang Bali.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 830 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 713 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 533 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 513 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik