Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 17 September 2026
Industri 4.0, Sektor pertanian Perlu Manfaatkan Teknologi Tepat Guna
Jumat, 14 September 2018,
17:40 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Wakil Rektor IV Universitas Udayana Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra, SH, MHum mengingatkan akademisi pertanian yang berkumpul agar menyikapi perkembangan industri 4.0 secara bijak sesuai konteks seperti perlu memanfaatkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan pendapatan petani.
[pilihan-redaksi]
“Membajak sawah dengan kerbau masih eksis, selain menjadi alat bantu petani juga menjadi atraksi wisata,” tandas Prof. Wyasa Putra ketika membuka Seminar Nasional Pengembangan Agribisnis 2018 dan Lokakarya Nasional Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Kawasan Timur Indonesia di Gedung Pasca Sarjana Unud, Jumat (14/9/2018). katanya.
“Membajak sawah dengan kerbau masih eksis, selain menjadi alat bantu petani juga menjadi atraksi wisata,” tandas Prof. Wyasa Putra ketika membuka Seminar Nasional Pengembangan Agribisnis 2018 dan Lokakarya Nasional Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Kawasan Timur Indonesia di Gedung Pasca Sarjana Unud, Jumat (14/9/2018). katanya.
Maka itu, kata dia penerapan teknologi pertanian di areal sawah tidak sepenuhnya dapat menggunakan teknologi modern.
Kendati demikian ia menyatakan peran sektor pertanian sangat strategis dalam menopang peningkatan kualitas hidup manusia. Produk pertanian tidak dapat digantikan produk lainnya.
“Umat manusia tidak dapat mengkonsumsi beras imitasi” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Unud Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, MS., mengatakan sektor pertanian di Bali menghadapi berbagai kendala dalam merespon industri 4.0. Menurunnya minat generasi muda, lanjut Prof. Rai, menjadi momok transformasi pertanian tradisional ke modern. Dalam upaya meningkatkan kinerja pembangunan pertanian memenuhi kebutuhan manusia perlu memanfaatkan teknologi tepat guna serta pengelolaan usaha tani berwawasan agribisnis untuk meningkatkan pendapatan petani.
Pembicara tamu Prof. Dr. Bustanul Arifin, MS, Ph.D mengakui petani sangat kecil di Indonesia hanya 39% dari total petani Indonesia. Rata-rata pendapatan petani Indonesia hanya Rp. 1 Juta/bulan atau dibawah upah minimum regional. “Indonesia mengalami deindustrialisasi terlalu dini. Industri pertanian tidak berkembang langsung meloncat ke jasa. Akibatnya, sektor pertanian termarjinalkan,” tegas Guru Besar Universitas Lampung tersebut. Ditambahkan, perlunya regenerasi petani yang harus disupport infrastruktur dan fasilitas inovasi kreativitas.
Guru Besar Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. I Made Antara, MS menyatakan pertanian masih menghadapi masalah klise seperti derasnya alihfungsi lahan, kebijakan pemerintah kurang berpihak ke sektor pertanian. Pertanian harus melakun trasformasi agar diminati kaum milinieal. Indonesia belajar pengembangan pertanian seperti di Thailand dan Israel. Pertanian 4.0 pengembangan pertanian masa depan, berkaitan dengan penerapan teknologi yang teritegrasi dengan teknologi digital. Harapannya, perusahaan pertanian mampu meningkatkan hasil, menurun biaya dan menekan dampak lingkungan.
[pilihan-redaksi2]
Kepala Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Buleleng Ir. Nyoman Genep, M.T. menjelaskan Kabupaten Buleleng menjadi basis Pertanian di Provinsi Bali dimana sebanyak 29-32% PDRB Kabupaten Buleleng berasal dari sektor Pertanian. Buleleng, lanjutnya, menjadi setra pengembangan Sayur mayur, palawija dan padi. “Potensi unggulan yang dikembangkan padi organic oleh sejumlah subak. Nilai jual beras organik Buleleng mencapai Rp. 20.000/kg sementara beras biasa harganya maksimal Rp. 12.000/kg,” tegas Nyoman Genep. Ditambahkan, pihaknya juga mengembangkan produksi beras merah organik di Desa Munduk, Gesing dan Gobleg yang harganya mencapai 28.000/kg.
Kepala Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Buleleng Ir. Nyoman Genep, M.T. menjelaskan Kabupaten Buleleng menjadi basis Pertanian di Provinsi Bali dimana sebanyak 29-32% PDRB Kabupaten Buleleng berasal dari sektor Pertanian. Buleleng, lanjutnya, menjadi setra pengembangan Sayur mayur, palawija dan padi. “Potensi unggulan yang dikembangkan padi organic oleh sejumlah subak. Nilai jual beras organik Buleleng mencapai Rp. 20.000/kg sementara beras biasa harganya maksimal Rp. 12.000/kg,” tegas Nyoman Genep. Ditambahkan, pihaknya juga mengembangkan produksi beras merah organik di Desa Munduk, Gesing dan Gobleg yang harganya mencapai 28.000/kg.
Ketua Panitia Dr.Ir. Gede Mekse Korri Arisena, SP., menjelaskan seminar nasional agribisnis 2018 dilaksanakan sebagai kegiatan perayaan HUT Ke-51 FP Unud, dan Dies Natalis Unud ke-56. Peserta seminar berbagai kalangan baik mahasiswa, akademisi, pengusaha dan masyarakat umum. Jumlah peserta lebih dari 160 orang dengan 98 diantaranya akan mempresentasikan makalah pada kelas-kelas paralel. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5544 Kali
02
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3485 Kali
03
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2334 Kali
04
05
De Gadjah Dorong Pariwisata Toleransi sebagai Kekuatan Bali
Dibaca: 1172 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026