Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 1 Agustus 2026
BRIN: Bali Utara Berpotensi Jadi Lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Laut
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Perairan Bali Utara dinilai memiliki karakteristik oseanografi yang menjanjikan untuk dikaji lebih lanjut sebagai kandidat lokasi pengembangan pembangkit listrik tenaga panas laut atau Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) berkapasitas 5 megawatt (MW).
Temuan tersebut berdasarkan riset kelayakan yang dilakukan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui pemodelan numerik dan data lapangan. Kajian ini menjadi salah satu upaya melihat potensi energi laut sebagai alternatif di tengah ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
Hasil riset kelayakan tersebut telah diterbitkan dalam Karbala International Journal of Modern Science Volume 12 Issue 3 pada 23 Juli 2026.
Penelitian menggabungkan data lapangan dan pemodelan oseanografi untuk mengevaluasi kondisi suhu laut, arus, gelombang, dan angin di enam lokasi perairan Bali Utara.
Hasil kajian menunjukkan kawasan tersebut secara teknis-numerik memiliki potensi yang menjanjikan untuk menjadi kandidat lokasi proyek percontohan OTEC pada tahap pengembangan berikutnya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Widodo Setiyo Pranowo menjelaskan, teknologi OTEC memanfaatkan perbedaan suhu antara air laut permukaan dan air laut dalam sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik secara berkelanjutan.
"OTEC membutuhkan perbedaan suhu minimal 20 derajat Celsius agar dapat beroperasi secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, seluruh lokasi pengamatan di Bali Utara memenuhi persyaratan tersebut dengan kondisi suhu yang relatif stabil sepanjang tahun," jelas Widodo pada Selasa, (28/7).
Tim peneliti menggunakan data Conductivity Temperature Depth (CTD) dari survei lapangan serta data pemodelan Marine Copernicus. Analisis dilakukan terhadap distribusi suhu laut selama periode 2012–2020, kemudian dipadukan dengan evaluasi kondisi oseanografi lainnya untuk mengetahui kelayakan lokasi pemasangan OTEC terapung.
Hasil penelitian menunjukkan suhu permukaan laut di perairan Bali Utara berkisar 27,7–29,7 derajat Celsius. Sementara itu, suhu laut dalam berada pada kisaran 5–6,5 derajat Celsius.
Perbedaan suhu tersebut menghasilkan nilai ΔT lebih dari 20 derajat Celsius yang menjadi syarat utama pengoperasian sistem OTEC. Variasi suhu dari tahun ke tahun juga tergolong rendah sehingga dinilai mendukung kontinuitas produksi energi.
Simulasi sistem OTEC menunjukkan efisiensi dan potensi produksi listrik yang cukup besar. Hasil pemodelan menjadi dasar untuk melihat peluang pengembangan pembangkit berkapasitas terpasang 5 MW.
Baca juga:
Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap: Solusi Hemat Energi dan Ramah Lingkungan
“Secara teknis, sistem OTEC yang disimulasikan menghasilkan efisiensi antara 29,03 hingga 30,78 persen, dengan potensi daya listrik bersih (net power) mencapai 2,84–3,22 MW. Angka tersebut merupakan hasil perhitungan model termodinamika, yang mengindikasikan bahwa sistem berkapasitas terpasang 5 MW,” jelasnya.
Potensi tersebut dapat diarahkan untuk memasok listrik sebagai energi dasar (baseload) bagi wilayah pesisir. Namun, realisasi potensi tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui tahapan rekayasa, uji prototipe, dan pengujian lapangan.
Selain aspek termal, penelitian juga mengevaluasi kondisi oseanografi yang dapat memengaruhi keamanan instalasi pembangkit terapung.
“Tidak hanya mempertimbangkan aspek termal, penelitian ini juga mengevaluasi faktor oseanografi lain yang memengaruhi keamanan instalasi pembangkit terapung. Kecepatan angin di lokasi penelitian berada jauh di bawah ambang batas operasional, arus permukaan relatif rendah,” ungkapnya.
Tinggi gelombang di lokasi penelitian juga masih memenuhi kriteria keselamatan untuk pengoperasian platform OTEC terapung. Kondisi tersebut memperkuat kelayakan teknis pengembangan teknologi energi laut di Bali Utara.
Dari enam lokasi yang dianalisis, salah satu lokasi di Kabupaten Buleleng dinilai memiliki prospek paling tinggi untuk pengembangan OTEC.
“Dari enam lokasi yang dianalisis, Stasiun L-4 di perairan dekat Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, ditetapkan sebagai lokasi paling prospektif. Selain memiliki efisiensi tertinggi sebesar 30,78% dan potensi daya bersih rata-rata 3,22 MW. Lokasi ini juga berjarak sekitar 16,23 kilometer dari daratan sehingga dinilai lebih menguntungkan dari sisi pembangunan infrastruktur transmisi listrik,” terangnya.
Menurut Widodo, hasil penelitian tersebut memberikan dasar ilmiah awal bagi pengembangan energi laut sebagai salah satu sumber energi terbarukan Indonesia.
Studi ini menunjukkan Bali Utara memiliki kombinasi kondisi oseanografi yang mendukung untuk dikaji lebih lanjut sebagai lokasi OTEC skala menengah.
“Perlu ditegaskan bahwa hasil ini masih berada pada tahap kajian kelayakan numerik. Ke depan, temuan ini dapat menjadi salah satu acuan awal dalam perencanaan proyek percontohan, yang masih memerlukan riset lanjutan lintas kepakaran sebelum benar-benar dapat diwujudkan secara nyata,” ujarnya.
Widodo menambahkan, perjalanan dari hasil kajian numerik menuju infrastruktur OTEC yang beroperasi nyata masih panjang dan membutuhkan kolaborasi multidisiplin.
Tahapan selanjutnya mencakup riset rekayasa teknik kelautan dan perkapalan, desain platform serta sistem konversi energi. Selain itu, diperlukan kajian material dan ketahanan struktur di lingkungan laut, analisis dampak lingkungan dan ekosistem, studi kelayakan ekonomi dan skema pembiayaan, aspek sosial masyarakat pesisir, hingga regulasi dan tata kelola.
“Kami memandang hasil ini sebagai fondasi ilmiah, bukan garis akhir. Pengembangan OTEC perlu ditempuh secara bertahap, kolaboratif, dan berkelanjutan agar potensi ini benar-benar dapat menjadi kenyataan,” tuturnya.
Melalui penelitian tersebut, BRIN memetakan potensi energi panas laut di perairan Bali Utara sekaligus menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemilihan lokasi OTEC.
Selain mempertimbangkan perbedaan suhu laut, penelitian turut mengintegrasikan analisis kestabilan temperatur jangka panjang, kondisi gelombang, arus, angin, serta kedekatan lokasi dengan daratan.
“Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga panas laut di wilayah pesisir Indonesia lainnya yang memiliki karakteristik oseanografi serup,” pungkasnya. (sumber: Humas BRIN)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 74 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 49 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 17 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun