Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 1 Oktober 2026
Kecewa Suami Tidak Bisa Memuaskan, Istri: Apa Hormonnya Sudah Menurun Dok?
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Tanya: “Dok, to the point saja ya. Saya sedang kecewa ini karena suami saya belakangan ini tidak lagi bisa memuaskan saya, sudah tidak bisa mengimbangi keinginan seksual saya.
Dia gemuk sekali sekarang, juga merasa sering lelah, letih dan tidak bersemangat kerja, dan mudah sekali marah-marah. Apalagi selama pandemi ini. Teman kantor saya bilang hormonnya sudah menurun, apa benar, Dok? Padahal umurnya masih 43 tahun.“ (Molly, Tabanan, 41)
Jawab: Tentang hormon yang ditanyakan, bisa dipastikan itu maksudnya adalah hormon testosteron, dan testosteron memang akan menurun seiring bertambahnya usia. Penurunan level testosteron ini biasanya ditandai dengan beberapa gejala yang mirip dengan gejala akibat proses penuaan.
Jika kadar hormon ini menurun maka akan muncul keluhan dan bisa menurunkan kualitas hidup seseorang. Secara keseluruhan, testosteron tidak hanya dibutuhkan untuk kepentingan seksual saja, tetapi testosteron diperlukan untuk membentuk otot, tulang, darah, energi, fungsi seksual seperti ereksi dan orgasme, fungsi kecerdasan dan kenyamanan secara umum.
Gejala-gejala yang timbul jika seseorang mengalami penurunan kadar testosteron adalah meningkatnya lemak di perut sehingga akan terlihat perut membuncit, rambut yang mulai berkurang sehingga mengalami kebotakan, fungsi seksual yang menurun dengan tanda menurunnya dorongan seksual, tidak maksimalnya ereksi dan tidak merasakan orgasme yang baik lagi.
Juga ada keluhan umum seperti gangguan tidur, gangguan suasana hati, sering uring-uringan, mudah emosi, serta penurunan rasa kenyamanan seperti lelah, depresi, bingung dan berkeringat di malam hari.
Jika melihat adanya serangkaian keluhan tersebut, dan tersampaikan juga dalam keluhan yang disampaikan, maka perlu dipastikan kemudian antara tanda penurunan testosteron ini dengan pemeriksaan fisik yang lebih cermat oleh seorang dokter yang paham kesehatan seksual dan pengobatan hormon untuk selanjutnya dikonfirmasi juga dengan pemeriksaan laboratorium seperlunya.
Perlu dicatat bahwa obesitas atau kegemukan dapat juga menjadi penyebab testosteron rendah. Dalam kasus obesitas, jumlah sel-sel lemak dalam jumlah besar meningkatkan proses perubahan testosteron ke hormon lain sehingga menyebabkan kadar testosteron menjadi rendah. Kegemukan dan proses penuaan ini yang menjadi penyebab terbanyak penurunan testosteron saat ini.
Secara lebih sederhana, untuk mengetahui apakah seseorang mengalami penurunan testosteron atau tidak, bisa dilakukan deteksi awal dengan cara menjawab pertanyaan berikut ini:
1. Apakah libido dan dorongan seksual menurun akhir-akhir ini?
2. Apakah merasa lemas dan kurang bertenaga?
3. Apakah daya tahan dan kekuatan fisik menurun?
4. Apakah tinggi badan berkurang?
5. Apakah merasa kenikmatan hidup mulai menurun?
6. Apakah sering merasa kesal atau mudah marah?
7. Apakah kekuatan ereksi kurang kuat?
8. Apakah merasakan penurunan kemampuan dalam berolahraga?
9. Apakah sering mengantuk dan tertidur setelah makan malam?
10. Apakah merasakan adanya perubahan atau penurunan prestasi kerja?
Jika jawaban no 1 dan 7 adalah 'ya' atau ada 3 jawaban yang 'ya' selain pada nomer tersebut, kemungkinan kadar testosteronnya menurun. Tapi hal ini harus dicek lagi dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Selanjutnya untuk mengatasi semua kelhal ini, saat ini bisa dilakukan dengan lebih efektif dan cepat dengan cara melakukan testosteron replacement theraphy, yaitu sejenis terapi dengan cara memberikan hormon testosteron yang fungsinya sama dengan testosteron alami di dalam tubuh.
Terapi testosteron ini ada dalam bentuk pil untuk diminum harian, dan ada juga melalui injeksi untuk jangka lebih panjang. Pengobatan ini berlangsung jangka panjang, sehingga harus terus dimonitor agar bisa meningkatkan kualitas hidupnya.
Keluhan seksual yang muncul juga perlu diperiksakan untuk diketahui apa saja yang sebenarnya terjadi dan apa perlu mendapatkan terapi pengobatan untuk meningkatkan fungsi seksual yang mungkin sudah terganggu.
Sedangkan pemberian testosteron sesungguhnya tidak hanya meningkatkan fungsi seksual saja, tapi juga semua aspek yang berperan dalam meningkatkan kualitas hidup, aktivitas sehari-hari menjadi lebih semangat dan bergairah, hidup menjadi nyaman dan komposisi tubuh menjadi sehat dan bugar kembali. Tentu saja perlu didukung dengan pola hidup sehat, makan yang berimbang, olahraga yang cukup dan hindari stres.
dr. Oka Negara, MBiomed, FIAS
Reporter: bbn/oka
Berita Terpopuler
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 184 Kali
Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
Dibaca: 146 Kali
Desak Rita Raih Emas dan Pecahkan Rekor Asian Games 2026
Dibaca: 122 Kali
Rumah Warga di Tembuku Bangli Terbakar, Kerugian Rp200 Juta
Dibaca: 109 Kali
Karyawan Toko di Sukawati Curi Rp73 Juta, Kabur ke Banyuwangi
Dibaca: 97 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar