Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 13 Oktober 2026
Etika Media Sosial Sama dengan di Dunia Nyata
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Koordinator Gerakan Bijak Bersosmed, Enda Nasution mengatakan masyarakat perlu menyamakan antara interaksi di media sosial dengan dunia nyata, terutama dari segi etika. Ia menekankan bahwa etika media sosial tak beda dengan di dunia nyata.
“Seperti halnya interaksi di dunia nyata, ada kaidah yang sudah berlaku sejak ribuan tahun. Sedangkan interaksi di dunia maya belum ajek dan bisa mengalami perubahan dengan adanya teknologi baru. Tidak hanya pada tataran hukum tetapi juga etika,” ujar Enda dalam talkshow Bermedsos Asyik dengan Akhlak yang diselenggarakan Puan Teruna Antara (Pena) di Jakarta, Senin (25/4/2022)
Enda mengatakan sektor komunikasi merupakan yang paling pertama terkena dampak dari disrupsi digital. Transformasi digital membuat pola komunikasi semakin berubah dan menghasilkan pekerjaan yang belum pernah ada sebelumnya.
“Kita harus menyadari apa yang kita unggah di media sosial memiliki konsekuensi, dan bisa saja berdampak buruk bagi orang-orang yang ada di sekitar kita,” kata Enda menerangkan.
Enda berpesan agar masyarakat harus berhati-hati dalam menyampaikan pesan di dunia maya. Menurut dia, masyarakat perlu menyamakan bagaimana berperilaku di media sosial sama dengan dunia nyata.
Tidak hanya secara etika, secara hukum perilaku di media sosial juga tak lepas dari ancaman pidana jika konten yang diproduksi atau dibagikan, melanggar kesusilaan, pencemaran nama baik, penyadapan, berita bohong dan ujaran kebencian.
Dari sisi keagamaan pun, MUI juga telah mengeluarkan hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial. Sejumlah organisasi atau perusahaan pun saat ini, berusaha dengan mengadaptasi perubahan pola komunikasi dengan mengeluarkan panduan bermedia sosial bagi karyawan.
Dalam kesempatan itu, Enda berpesan pada para karyawan atau pegawai dalam beraktivitas di media sosial untuk berhati-hati dengan hoaks atau disinformasi, harus bisa membedakan mana yang sifatnya privat dan mana yang bersifat publik.
“Jadi apa yang kita unggah di media sosial itu menjadi milik publik, terutama dalam konteks bekerja. Media sosial adalah etalase kita yang bisa dilihat atasan kita, kolega kita. Kalau kita tidak mencitrakan diri kita sebagai seorang profesional, maka tidak bisa disalahkan jika atasan kita atau kolega kita menilai kita tidak profesional,” ujar dia.
Talkshow tersebut merupakan rangkaian kegiatan Hari Kartini 2022. “Kartini Reborn Festive” tersebut dibuka oleh Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Meidyatama Suryodiningrat. [Antara]
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4290 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1993 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1835 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1528 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1313 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan