Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Disperpa Badung Telusuri Kematian Mendadak Babi di Canggu

Jumat, 22 Mei 2026, 21:13 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Disperpa Badung Telusuri Kematian Mendadak Babi di Canggu.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung merespons isu kematian mendadak ternak babi milik warga di Banjar Kayu Tulang, Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara.

Meskipun belum menerima laporan resmi, jajaran dinas terkait akan menerjunkan tim untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut di lapangan. Hal itu disampaikan Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana.

"Sampai saat ini laporan terkait kasus penyakit African Swine Fever atau ASF di Banjar Kayu Tulang belum kami terima secara resmi. Namun demikian, kami akan menelusuri informasi terkait kejadian tersebut dan apabila terbukti benar, Dinas akan segera melakukan langkah-langkah penanganan sesuai ketentuan yang berlaku," sebutnya, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan Pemerintah Kabupaten Badung tidak akan tinggal diam jika kasus kematian tersebut terbukti mengarah pada penularan penyakit menular.

Salah satu langkah yang akan dilakukan yakni pengambilan sampel jaringan ternak guna memastikan penyebab kematian melalui pengujian laboratorium.

"Apabila benar ditemukan kasus kematian babi di wilayah Desa Canggu, Dinas akan segera berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Denpasar. Hal ini penting untuk melakukan pengambilan sampel sebagai langkah peneguhan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium," terangnya.

Menurutnya, laporan mengenai ternak babi mati mendadak juga sempat diterima dari beberapa wilayah lain di Badung. Petugas pun telah turun ke lapangan untuk melakukan sterilisasi area kandang milik warga terdampak.

"Terkait laporan kematian mendadak pada ternak babi di beberapa wilayah memang ada. Kami telah menindaklanjuti dengan memberikan sosialisasi kepada peternak serta melakukan desinfeksi kandang guna mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut," paparnya.

Hingga kini, belum tersedia vaksin untuk menangkal serangan virus African Swine Fever atau ASF tersebut.

Karena itu, peternak diminta memperketat pengawasan lalu lintas orang maupun barang yang keluar masuk area peternakan.

"Dalam upaya penanggulangan penyakit hewan, setiap tahun Dinas menganggarkan pengadaan obat-obatan dan desinfektan. Hingga saat ini, vaksin untuk penyakit ASF masih belum tersedia, sehingga peternak diharapkan menerapkan biosekuriti secara ketat dengan membatasi keluar-masuk orang, barang, dan hewan lain ke area peternakan," katanya.

Selain memperketat pengawasan kandang, pemilik ternak juga diimbau menghentikan kebiasaan memberikan pakan dari sisa makanan industri pariwisata.

Pola pemberian pakan dari limbah makanan dinilai memiliki risiko tinggi dalam menularkan virus ASF.

"Praktik pemberian swill feeding atau pakan dari limbah hotel atau restoran untuk ternak babi tidak disarankan sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Pertanian Nomor 8432/SE/PK.320/F/08/2025. Penularan ASF tidak hanya dapat terjadi melalui limbah makanan tersebut, tetapi juga melalui orang, barang, kendaraan, pakan, dan media lain yang telah tercemar," pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami