Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 12 Oktober 2026
Minum Ibuprofen dan Obat Hipertensi Berisiko Rusak Ginjal
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Pasien yang diberi resep diuretik dan penghambat sistem renin-angiotensin (RSA), seperti penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE) atau penghambat reseptor angiotensin (ARB) untuk mengontrol hipertensi harus menghindari ibuprofen.
Diuretik dan inhibitor RSA tersedia dalam berbagai nama merek farmasi. Sementara, obat penghilang rasa sakit seperti ibuprofen biasanya tersedia tanpa resep dengan merek nama yang berbeda.
Para peneliti di University of Waterloo melihat interaksi diuretik, RSA, dan ibuprofen menggunakan uji coba obat yang disimulasikan komputer. Para peneliti menemukan kombinasi dari ketiga obat tersebut dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan bisa bersifat permanen pada beberapa kasus.
"Diuretik adalah keluarga obat yang membuat tubuh menahan lebih sedikit air," kata Anita Layton, profesor matematika terapan di Waterloo and Canada 150 Research Chair.
Lebih lanjut, Layton menjelaskan dehidrasi merupakan faktor utama dalam cedera ginjal akut dan ibuprofen serta inhibitor RAS meningkatkan risikonya hingga 3 kali lipat. Jika Anda sedang mengonsumsi obat hipertensi dan membutuhkan obat penghilang rasa sakit, pertimbangkan acetaminophen sebagai gantinya.
Rilis tersebut menjelaskan bahwa uji coba obat yang disimulasikan komputer dapat memberikan hasil yang lebih cepat daripada uji klinis pada manusia.
"Tidak semua orang yang mengonsumsi kombinasi obat ini akan mengalami masalah kesehatan. Tapi, penelitian menunjukkan itu cukup membuat masalah kesehatan, sehingga harus berhati-hati," kata Layton.
Studi tersebut menyatakan bahwa terapi tiga obat ini dikaitkan dengan peningkatan risiko cedera ginjal akut sebesar 31 persen, dibandingkan dengan pasien yang diobati dengan diuretik dan ACE inhibitor/ARB saja.
Laporan yang diterbitkan juga menyatakan bahwa cedera ginjal akut akibat terapi tiga obat terjadi pada 0,88 persen-22 persen dari pasien perawatan tiga kali lipat.
"Hasil simulasi kami mengungkapkan adanya peran kunci dari respons miogenik dalam menentukan risiko cedera ginjal akut," katanya.
Respon miogenik adalah mekanisme di mana diameter pembuluh darah menyempit setelah peningkatan tekanan dan peningkatan diameter setelah penurunan tekanan ini untuk mempertahankan aliran darah yang sesuai.
"Kami berhipotesis bahwa individu dengan respons miogenik yang terganggu mungkin sangat rentan terhadap cedera ginjal akut," katanya.
Selain itu, peningkatan sensitivitas obat atau asupan air yang rendah dapat mempengaruhi pasien terapi tiga obat terhadap cedera ginjal akut.
Karena itu, pakar kesehatan menyarankan semua orang untuk konsultasi dengan dokter sebelum minum obat apapun yang dijual bebas. Hal ini berguna untuk menghindari interaksi antar obat.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4136 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1938 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1763 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1476 Kali
Anggota Polsek Manggis Dianiaya, Pinggul Patah
Dibaca: 1063 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan