Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 11 Oktober 2026
Investor Tarik Cuan, Harga Minyak Mentah Kompak Turun
BERITABALI.COM, DUNIA.
Harga minyak mentah turun pada perdagangan Senin (16/5/2022), setelah sempat melesat hingga 4 persen pada Jumat pekan lalu (13/5). Menurut data Refinitiv, per 10.02 WIB, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,34 persen ke level US$ 110,05/barel, sedangkan harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) WTI melemah 1,18 persen ke US$ 109,19/barel.
Pada Jumat, harga minyak Brent naik 3,82 persen ke level US$ 111,55/barel. Sementara, harga WTI melesat 4,11 persen dan ditutup di level US$ 110,49/barel.
Ada tiga faktor utama yang menggerakkan harga si emas hitam pekan lalu, yaitu pasokan di AS, kondisi Covid-19 di China, hingga perkembangan sanksi ekonomi untuk Rusia.
"Belum ada peningkatan stok bensin (AS) sejak Maret," kata RobertYawger, direktur eksekutif energi berjangka diMizuho.
Permintaan terhadap bensin diperkirakan siap melonjak ketika musim mengemudi musim panas dimulai pada liburan akhir pekan Memorial Day AS.
Harga minyak mentah bergerak dengan fluktuasi yang tinggi akhir-akhir ini. Semua ini disebabkan oleh adanya embargo minyak Rusia ole Uni Eropa (UE) yang akan semakin memperburuk kondisi rantai pasok global.
Louis Dickson dari Rystad Energi menyampaikan bahwa jika sanksi tersebut diterapkan seluruhnya, maka pasokan dari Rusia akan berkurang sampai 3 juta barel per hari (bph).
Hal tersebut akan akan benar-benar mengganggu, dan pada akhirnya menggeser arus perdagangan global, memicu kepanikan pasar dan volatilitas harga yang ekstrem, tutir Dickson melansir Reuters.
Di China, pihak berwenang berjanji untuk mendukung pemuliuhan ekonomi dan pejabat kota mengatakan Shanghai akan mulai melonggarkan pembatasan lalu lintas dan membuka toko bulan ini seiring dengan kasus Covid-19 yang membaik.
"Harga minyak mentah reli di tengah optimisme bahwa situasi COVID China tidak memburuk dan karena aset berisiko rebound," kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA.(sumber: cnbcindonesia.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 3563 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1903 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1730 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1456 Kali
Anggota Polsek Manggis Dianiaya, Pinggul Patah
Dibaca: 1023 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan