Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 8 Oktober 2026
Ahli Virologi Unud Respons Soal Kebijakan Lepas Masker
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Ahli Virologi Universitas Udayana Bali Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika menanggapi soal kebijakan lepas masker di ruang terbuka yang dibolehkan Presiden Jokowi.
Ia menyatakan bahwa memang pada dasarnya melepas masker di ruangan terbuka tanpa kerumunan memang memiliki risiko yang rendah terkena paparan virus.
Ia menjelaskan bahwa virus tidak dapat bertahan lama di udara yang panas dan lembab seperti di Indonesia. Namun beda halnya dengan apabila berada di dalam ruangan dan ber-AC, penggunaan masker masih diperlukan.
Hal itu karena ruangan ber-AC suhu udara rendah, kering kelembaban rendah, ruang tertutup sehingga resikonya jauh lebih tinggi.
Sehingga izin dari Presiden Joko Widodo untuk masyarakat boleh masker saat berada di luar ruang dan tidak dalam kerumunan memang anjuran itu tepat. Terlebih saat ini situasi pandemi dalam kacamata Prof. Mahardika sudah terkendali sejak akhir Maret 2022.
“Indonesia merupakan wilayah dengan iklim panas dan lembab, virus tidak akan bertahan lama di udara open space, jadi memang rendah risiko bukan berarti zero resiko, dari awal COVID-19 sudah saya sampaikan bahwa tidak apa-apa tanpa masker di ruangan terbuka,”
Menurutnya, presiden mengemukakan pernyataan itu pasti sudah dipertimbangkan dalam-dalam, beberapa faktor yang disampaikan Prof Mahardika diantaranya dari jumlah orang yang memerlukan perawatan di rumah sakit jauh menurun.
Akan tetapi, ia mewanti-wanti untuk memperhatikan kondisi hingga tiga bulan ke depan.
"Paling tidak asumsi mulai menurun akhir Maret sehingga dipantau 3 bulan berikutnya apakah kondisi konsisten stabil dan semakin membaik,” tutur dia.
Tentu di samping itu, dijelaskan Prof Mahardika penyumbang penurunan kasus COVID-19 di Indonesia diantaranya suhu udara yang panas dan lembab, percepatan vaksinasi dan PPKM, lalu Omicron.
Menariknya di sini pernyataan Prof Mahardika yang menyebut bahwa Varian COVID-19 Omicron ialah ibarat vaksin alami.
“Omicron menyediakan vaksin alami. Munculnya Omicron ini menandakan akhir dari pandemi, jadi pergilah ke tempat ibadah puji syukur end of the game," ujar dia.
Disinggung mengenai transisi pandemi ke endemi, menurut Prof Mahardika, kembali lagi pada perkembangan situasi yang dievaluasi setiap 3 bulan sekali. Karena penentuan status endemi adalah faktor politis, sedangkan dari sisi scientific melihat perkembangan dalam periode tertentu.
"Kita perlu memantau paling tidak dalam periode tertentu tidak bisa hanya satu hari, satu bulan minimal 3 bulan bisa dipantau perkembangannya setiap 3 bulan. Secara politis peran WHO tentu ada dan pemerintah Indonesia, karena tidak hanya melihat keadaan sekarang tetapi melihat risiko semua penduduk dari negara - negara lain," bebernya. (sumber:Suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1486 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1247 Kali
Konsensus Politik Tanpa Musuh Era Prabowo Subianto
Dibaca: 697 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 583 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 553 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung