Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 30 September 2026
Hawa Resesi Terasa di Asia, 2 Negara Ini Bisa Ambruk Duluan
BERITABALI.COM, DUNIA.
Ancaman resesi sudah mendekati kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Singapura dan Thailand rupanya diprediksi menjadi negara yang paling terancam karena besarnya eksposur mereka terhadap perekonomian global.
Proyeksi ini terlihat dari perkiraan banyak ekonom dan analis, di mana Singapura dapat menjadi negara ASEAN yang paling rawan terkena resesi. Ekonom Maybank Chua Hak Bin menjelaskan Singapura sangat bergantung kepada pergerakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Melambatnya ekonomi AS membuat ekonomi Singapura bisa ikut macet.
Perekonomian Singapura juga sangat terbuka sehingga ketidakpastian global akan langsung berimbas ke negara tersebut. "Saya perkirakan Singapura akan menjadi yang pertama (negara ASEAN yang terkena resesi)," tutur Chua.
Chua menambahkan permintaan domestik hanya berkontribusi kecil terhadap perekonomian Singapura sehingga konsumsi domestik tidak mampu menopang perekonomian.
Berdasarkan data Bank Dunia, nilai perdagangan barang dan jasa Singapura setara dengan 185% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ekspor barang Singapura mencapai SG$ 969,1 miliar pada 2020, turun dibandingkan SG$ 1,022 miliar pada 2019.
Dari sisi produksi, sektor jasa memegang peranan sekitar 75 persen dalam perekonomian, termasuk jasa yang terkait ekspor. Ketegasan pemerintah Singapura dalam menekan penyebaran Covid-19 juga ikut memberi andil terhadap pelemahan ekonomi Singapura.
Sebelum pandemi melanda pada Maret 2020, sekitar 3,6 juta warga China mengunjungi Singapura pada 2019 atau 13 persen dari total warga asing yang mengunjungi negara tersebut. Namun, jumlah warga China yang mengunjungi Singapura hanya mencapai 88.000 pada 2021.
Selain Singapura, Thailand menjadi negara ASEAN yang paling terancam oleh resesi. Negara Gajah Putih rawan terkena resesi, terutama karena besarnya ketergantungan mereka terhadap sektor pariwisata.
Sektor pariwisata berkontribusi 11 persen terhadap PDB pada pra-pandemi. Setidaknya 40 juta turis mengunjungi Thailand dan mendatangkan penerimaan sebesar US$ 60 miliar.
Pandemi datang dan Thailand hanya kedatangan 6,7 juta wisatawan pada 2020 dan 428.000 wisatawan pada 2021. Rendahnya kunjungan membuat ekonomi mereka jeblok. PDB Thailand terkontraksi 6,2 persen (yoy) pada 2020. Ekonomi Thailand tumbuh 1,6 persen pada tahun lalu, terendah dibandingkan 10 negara Asia lainnya.
Salah satu penyumbang terbesar industri Thailand adalah turis dari China. Sebanyak 12 juta turis China mengunjungi Thailand pada 2019 atau sebelum pandemi tetapi jumlahnya menyusut hingga menjadi 13.043 wisatawan pada 2021.
"Wisatawan belum kembali mengunjungi kawasan Asia Tenggara, termasuk wisatawan China. Selama turis China belum kembali, maka perekonomian Thailand akan tetap sulit bangkit," tutur Irvin Seah, ekonom senior DBS Group Research.
Perekonomian Thailand juga dikembangkan dengan berorientasi ekspor dan bersandar ke sektor jasa. Ekspor barang dan jasa berkontribusi 74 persen dari PDB. Ekspor Thailand ambles 20,41 persen pada 2020 menjadi US$ 257,70 miliar.
Tak Hanya Singapura dan Thailand, Negara ASEAN Lain Juga Terancam
Perlambatan ekonomi Eropa juga akan berimbas ke ASEAN karena besarnya ekspor kawasan tersebut ke Benua Biru. Nilai ekspor ASEAN ke Uni Eropa menembus 136 miliar euro pada 2021, naik 120 miliar euro dibandingkan tahun sebelumnya.
Ekonom senior Asian Development Bank (ADB) James Villafuerte mengatakan dampak perlambatan ekonomi Eropa ke kawasan ASEAN akan berbeda kepada masing-masing negara.
Vietnam dan Malaysia merupakan negara yang diproyeksi terimbas besar dari perlambatan ekonomi Eropa. Sebanyak 115 persen ekspor Vietnam dikirim ke Uni Eropa sementara Malaysia sebesar 10 persen. Lalu, negara ASEAN mana yang aman dari resesi global?
"Indonesia dan Filipina lebih terlindungi dari dampak perlambatan global dan resesi AS karena orientasi ekonominya lebih ke domestik," ujar Chua.
Chua menambahkan pengalaman pada 2008/2009 membuktikan bagaimana Indonesia masih tahan banting selama periode krisis finansial. Sebaliknya, Singapura dan Thailand ambruk.
Sebagai catatan, krisis finansial pada 2008/2009 menyeret perekonomian Amerika Serikat ke jurang resesi. Perekonomian global juga terimbas parah karena krisis keuangan menyebar ke jalur perdagangan.
Perdagangan global hanya tumbuh 2 persen pada 2008, turun jauh dibandingkan pada 2007 yang tumbuh 6 persen. Pada 2008, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 6 persen kemudian melambat ke 4,8 persen pada 2009.
Sementara itu, ekonomi Singapura terkontraksi 2 persen pada 2009 setelah tumbuh 1,4 persen pada 2008. PDB Thailand terkontraksi 2,3 persen pada 2009, terendah dalam 12 tahun padahal pada 2008 masih tumbuh 2,6 persen.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8564 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5914 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3716 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2543 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar