Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 6 Mei 2026
Kemenkes Sebut 33 Persen Ibu Rumah Tangga Tertular HIV dari Suami
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kemenkes mengungkap penyebab jumlah kasus HIV pada kelompok ibu rumah tangga terus mengalami penambahan setiap tahunnya.
Menurut juru bicara Kemenkes, Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, sebanyak 33 persen ibu rumah tangga terinfeksi HIV dari suaminya yang punya perilaku menyimpang. Tak hanya itu, setiap tahun pun jumlah kasus HIV baru pada ibu rumah tangga bertambah sekitar 5.100 orang.
"Sebesar 33 persen ibu rumah tangga terinfeksi HIV karena terpapar dari pasangannya yang punya perilaku seksual berisiko. Dan setiap tahunnya terdapat penambahan kasus HIV baru pada kelompok ibu rumah tangga sebesar 5.100 orang," ungkap Syahril dalam konferensi pers 'Melindungi Anak dari Penyakit Menular Seksual' yang digelar virtual, Senin (9/5).
Menurut Syahril, penyumbang utama penularan HIV pada ibu rumah tangga ini berasal dari perilaku seksual yang berisiko, yakni pada heteroseksual dan homoseksual.
"Sebanyak 30 persen kontribusi penularan dari suami ke istrinya. Sehingga jumlah orang dengan HIV pada populasi berisiko 35 persen adalah dari ibu rumah tangga. Sisanya suami pekerja seksual, atau kelompok man sex with man," jelas dia.
Temuan pada ibu rumah tangga ini juga berkaitan pada mereka yang juga hamil. Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa berlangsung selama kehamilan, saat dilahirkan, atau pun disusui, masih cukup tinggi. Persentase penularannya pun cukup tinggi, yakni mencapai 20 hingga 45 persen. Penularan pada bayi yang belum lahir bisa terjadi melalui plasenta selama kehamilan.
"Dikarenakan itu sebanyak 45 persen bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV, akan lahir juga dengan HIV. Jadi kalau ibunya positif, 45 persen bayi lahir dengan HIV dan sepanjang hidup akan menyandang status HIV positif pada anak tersebut," tuturnya.
Kenapa ya jumlah kasus HIV pada ibu hamil masih tinggi? Ternyata, Syahril menyebut ada faktor stigma negatif dari lingkungan sekitarnya, serta penolakan dari suami agar istrinya bisa memeriksakan diri.
"Hanya 55 persen ibu hamil yang dites HIV. Jadi dari sekian 100 persen hanya 55 persen yang dites HIV, karena sebagian besar tidak dapat izin tes dari suami. Nah ini berbagai alasan," kata Syahril.
Tidak sampai di situ, dari sekitar 55 persen atau 7.153 ibu hamil yang dites HIV dan hasilnya positif juga belum mendapatykan pengobatan dengan ARV atau Antiretroviral.
"Ini akan menambah risiko penularan ke bayi jika tidak mendapat pengobatan dengan ARV," ucap Syahril.
Dan sejauh ini, jumlah anak yang positif HIV pada kelompok usia 1-14 tahun berjumlah 14.150 orang. Dengan masih adanya kemungkinan jumlah bertambah bila orang tuanya enggan melakukan tes HIV.
"Artinya akan mempengaruhi kualitas hidup ke depannya apabila anak-anak ini menyandang status HIV. Dan angka ini masih terus bertambah apabila deteksi masih kurang dan belum melakukan pengobatan dengan ARV," ujar Syahril.
Untuk mencegah anak-anak tertular HIV dari orang tuanya, ada baiknya ayah dan ibu melakukan skrining pemeriksaan agar bisa mendapatkan pengobatan. Sehingga, diharapkan sakit yang dirasakan tidak berlanjut lebih berat, dan anak pun bisa tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya. (sumber: kumparan)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 516 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 404 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 398 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik