Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 15 Oktober 2026
Kenali Gejala dan Pencegahan Antraks Pada Manusia
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Puluhan warga di Kabupaten Gunung Kidul, DIY terpapar penyakit antraks dan tiga di antaranya meninggal dunia. Mereka dilaporkan sempat mengonsumsi daging dari sapi yang tidak sehat.
Baca juga:
Empat Jus Untuk Penurun Kolesterol
Lantas apa saja gejala penyakit antraks dan bagaimana pencegahannya?
Dokter hewan sekaligus dosen Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Epidemiologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis di Institut Pertanian Bogor (IPB) Denny Widaya Lukman menjelaskan bahwa penyakit antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis.
"Hewan yang dapat terkena penyakit antraks antara lain sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Manusia dapat tertular dan menderita antraks," ucap dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (5/7).
Kata 'antrax' berasal dari Bahasa Yunani yang artinya batu bara. Sebab antraks pada kulit manusia bisa menimbulkan koreng dengan bagian tengah berwarna hitam.
"Bakteri ini membentuk "spora" saat bakteri berada di luar tubuh hewan dan manusia. Bakteri yang sudah berbentuk spora menjadi tahan lama di luar tubuh hewan dan manusia. Beberapa studi ilmiah melaporkan bahwa spora dari bakteri antraks dapat bertahan sampai 75 tahun di tanah," jelas dia lebih lanjut.
Gejala antraks pada manusia
Denny menjelaskan bahwa gejala antraks pada manusia bergantung pada cara masuknya spora atau bakteri antraks ke dalam tubuh manusia.
1. Bentuk kulresit
Manusia dapat tertular antraks melalui kontak langsung antara kulit manusia yang memiliki luka dan kotoran atau darah dari hewan yang terinfeksi atau sakit. Bentuk ini dikenal sebagai cutaneous formataucutaneous anthrax.
"Gejala yang timbul pada manusia adalah koreng pada tempat masuknya bakteri atau spora (tempat yang ada luka di kulit manusia)," imbuh Denny.
Gejala ini diawali terbentuknya bisul atau benjolan kemerahan yang di bagian tepinya terisi cairan. Bagian tengah akan pecah dan membentuk seperti koreng, mengering, dan berwarna hitam.
"Selain itu, terdapat pembengkakan dan nyeri pada kelenjar getah bening di sekitar kulit yang terinfeksi dan disertai demam. Otot di bagian koreng terasa nyeri," lanjutnya.
2. Bentuk pencernaan
Manusia juga bisa tertular penyakit antraks melalui konsumsi daging dan jeroan dari hewan yang terinfeksi. Bentuk ini dikenal sebagai gastrointestinal form atau gastrointestinal anthrax.
"Gejala yang timbul adalah nyeri pada perut, mual, muntah, peradangan pada lambung dan usus, diare berdarah, serta dapat mengakibatkan kematian," ucap Denny.
Gejala lainnya termasuk nafsu makan hilang, sakit kepala dan nyeri tenggorokan.
3. Bentuk pernapasan
Antraks juga bisa tertular melalui pernapasan akibat menghirup spora antraks dari lingkungan yang tercemar. Bentuk ini dikenal sebagai respiratory or pulmonary formatauinhalational anthrax.
Denny mengatakan bentuk ini sering dilaporkan di tempat pengolahan wol dari domba yang terinfeksi atau tertular atau sakit atau wool sorter disease.
"Gejala yang timbul antara lain sakit tenggorokan, demam, batuk, nyeri pada dada, dan sulit bernapas. Jika tidak ditangani dengan baik maka dapat menyebabkan kematian," lanjutnya.
Pencegahan antraks pada manusia
Meskipun berbahaya, bakteri antraks bisa dicegah untuk masuk ke tubuh. Menurut Denny, masalah penyakit antraks yang banyak terjadi di Indonesia adalah tipe kulit dan tipe gastrointestinal.
"Pencegahan bagi masyarakat, terutama mencegah tipe gastrointestinal (pencernaan), jangan memakan daging dari hewan (sapi, kerbau, kambing, dan domba) yang mati mendadak," jelas dia.
Denny menganjurkan untuk mengonsumsi daging yang dihasilkan dari Rumah Potong Hewan yang diawasi oleh dokter hewan.
"Makanlah daging yang dihasilkan dari rumah potong hewan yang diawasi oleh dokter hewan sehingga hewan telah diperiksa kesehatannya sebelum penyembelihan dan daging diperiksa kembali kesehatannya oleh dokter hewan," lanjut dia.
Denny menganjurkan kepada orang yang tertular antraks dalam bentuk gastrointestinal harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat tindakan medis agar racun atau toksin yang mungkin dihasilkan bakteri di dalam usus tidak menyebar ke seluruh tubuh.
"Begitu pula dengan bentuk pernapasan. Bentuk kulit relatif dapat disembuhkan dengan tindakan medis, asalkan belum menyebar luas pada kulit," pungkasnya.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4381 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2049 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1920 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1578 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1417 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan