Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Konflik Timur Tengah Ancam Pariwisata Bali, Pasar Alternatif Jadi Opsi

Selasa, 24 Maret 2026, 10:44 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Kemenpar/Konflik Timur Tengah Ancam Pariwisata Bali, Pasar Alternatif Jadi Opsi.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Ketegangan yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi menekan sektor pariwisata global, termasuk berdampak langsung pada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, khususnya Bali.

Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana, Prof. Dr. I Putu Anom, mengingatkan ketergantungan Bali terhadap wisatawan internasional membuat daerah ini sangat rentan terhadap gejolak global.

"Kalau konflik ini berlangsung lama tentunya Bali yang mengandalkan pariwisata internasional akan berdampak buruk pada bisnis pariwisata Bali," jelasnya, Selasa (24/3/2026) di Badung.

Menurutnya, dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor pariwisata, tetapi juga merembet ke ekonomi global. Krisis energi yang dipicu konflik berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa di berbagai sektor. "Ada kemungkinan akan terjadi resesi dan krisis ekonomi dunia yang berkepanjangan," ucapnya.

Bali Diminta Cari Pasar Alternatif

Dalam menghadapi situasi ini, pelaku pariwisata dan pemerintah daerah di Bali diimbau untuk mulai mencari pasar alternatif yang lebih stabil. Salah satu strategi yang disarankan adalah mengoptimalkan jalur penerbangan yang relatif aman.

Pasar wisatawan dari kawasan Asia dinilai memiliki potensi besar, seperti dari negara ASEAN, Jepang, China, Korea Selatan, hingga Australia. Diversifikasi pasar ini diharapkan mampu menekan dampak penurunan kunjungan dari wilayah lain yang terdampak konflik.

Wisatawan Domestik Jadi Penopang

Selain itu, peningkatan kunjungan wisatawan domestik juga dinilai penting untuk menjaga pergerakan sektor pariwisata. Meskipun tidak berkontribusi langsung terhadap devisa, wisatawan domestik tetap berperan dalam menjaga perputaran ekonomi lokal.

Upaya ini dinilai krusial di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang tidak menentu.

Ancaman pada Pendapatan Daerah

Penurunan aktivitas pariwisata juga berpotensi berdampak pada penerimaan pajak daerah, khususnya dari sektor Pajak Hotel dan Restoran (PHR). Hal ini menjadi perhatian bagi pemerintah kabupaten dan kota di Bali yang sangat bergantung pada sektor tersebut.

Dalam kondisi ini, pemerintah daerah diimbau untuk melakukan efisiensi anggaran dan meninjau kembali kebijakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), terutama untuk pengeluaran yang tidak mendesak.

"Kita pun sebagai masyarakat harus mempertimbangkan tingkat pengeluaran rumah tangga dalam menjaga kemungkinan terburuk terjadinya kenaikan harga-harga produk," bebernya.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya langkah efisiensi secara menyeluruh, baik oleh pemerintah, pelaku industri pariwisata, maupun masyarakat.

"Kita pun sebagai masyarakat harus mempertimbangkan tingkat pengeluaran rumah tangga dalam menjaga kemungkinan terburuk terjadinya kenaikan harga-harga produk," bebernya.

Ia menambahkan, Pemerintah, Pelaku pariwisata, Masyarakat harus melakukan efisiensi di semua kegiatan agar tidak terpuruk dalam menjalani aktivitas rutin kedepannya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami