Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 21 Mei 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Pariwisata Bali, Pasar Alternatif Jadi Opsi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Ketegangan yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi menekan sektor pariwisata global, termasuk berdampak langsung pada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, khususnya Bali.
Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana, Prof. Dr. I Putu Anom, mengingatkan ketergantungan Bali terhadap wisatawan internasional membuat daerah ini sangat rentan terhadap gejolak global.
"Kalau konflik ini berlangsung lama tentunya Bali yang mengandalkan pariwisata internasional akan berdampak buruk pada bisnis pariwisata Bali," jelasnya, Selasa (24/3/2026) di Badung.
Menurutnya, dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor pariwisata, tetapi juga merembet ke ekonomi global. Krisis energi yang dipicu konflik berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa di berbagai sektor. "Ada kemungkinan akan terjadi resesi dan krisis ekonomi dunia yang berkepanjangan," ucapnya.
Bali Diminta Cari Pasar Alternatif
Dalam menghadapi situasi ini, pelaku pariwisata dan pemerintah daerah di Bali diimbau untuk mulai mencari pasar alternatif yang lebih stabil. Salah satu strategi yang disarankan adalah mengoptimalkan jalur penerbangan yang relatif aman.
Pasar wisatawan dari kawasan Asia dinilai memiliki potensi besar, seperti dari negara ASEAN, Jepang, China, Korea Selatan, hingga Australia. Diversifikasi pasar ini diharapkan mampu menekan dampak penurunan kunjungan dari wilayah lain yang terdampak konflik.
Wisatawan Domestik Jadi Penopang
Selain itu, peningkatan kunjungan wisatawan domestik juga dinilai penting untuk menjaga pergerakan sektor pariwisata. Meskipun tidak berkontribusi langsung terhadap devisa, wisatawan domestik tetap berperan dalam menjaga perputaran ekonomi lokal.
Upaya ini dinilai krusial di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang tidak menentu.
Ancaman pada Pendapatan Daerah
Penurunan aktivitas pariwisata juga berpotensi berdampak pada penerimaan pajak daerah, khususnya dari sektor Pajak Hotel dan Restoran (PHR). Hal ini menjadi perhatian bagi pemerintah kabupaten dan kota di Bali yang sangat bergantung pada sektor tersebut.
Dalam kondisi ini, pemerintah daerah diimbau untuk melakukan efisiensi anggaran dan meninjau kembali kebijakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), terutama untuk pengeluaran yang tidak mendesak.
"Kita pun sebagai masyarakat harus mempertimbangkan tingkat pengeluaran rumah tangga dalam menjaga kemungkinan terburuk terjadinya kenaikan harga-harga produk," bebernya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya langkah efisiensi secara menyeluruh, baik oleh pemerintah, pelaku industri pariwisata, maupun masyarakat.
Baca juga:
Perang Timur Tengah: 5 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Cancel, Ribuan Penumpang Terdampak
"Kita pun sebagai masyarakat harus mempertimbangkan tingkat pengeluaran rumah tangga dalam menjaga kemungkinan terburuk terjadinya kenaikan harga-harga produk," bebernya.
Ia menambahkan, Pemerintah, Pelaku pariwisata, Masyarakat harus melakukan efisiensi di semua kegiatan agar tidak terpuruk dalam menjalani aktivitas rutin kedepannya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 1906 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1735 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1288 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1156 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah