Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 12 Mei 2026
BI Bali Waspadai Cuaca Ekstrem dan Ketidakpastian Global Picu Inflasi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengingatkan sejumlah risiko yang berpotensi mendorong inflasi ke depan, mulai dari ketidakpastian cuaca hingga peningkatan permintaan saat Hari Besar Keagamaan.
Hal tersebut disampaikan menyusul rilis data inflasi dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali pada 1 April 2026. Secara bulanan, inflasi Bali pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,50% (mtm), lebih rendah dibandingkan Februari sebesar 0,70% (mtm).
Sejumlah faktor turut memengaruhi dinamika inflasi, seperti perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai, serta penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Sementara secara tahunan, inflasi Bali menunjukkan tren menurun dari 3,89% (yoy) pada Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy) pada Maret 2026.
Secara spasial, seluruh kabupaten/kota di Bali mengalami inflasi bulanan. Singaraja mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 0,90% (mtm), disusul Tabanan sebesar 0,63% (mtm), Badung sebesar 0,50% (mtm), dan Denpasar sebesar 0,42% (mtm).
Dari sisi komoditas, inflasi dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, serta cabai merah. Namun, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga tiket pesawat, emas, bawang putih, beras, dan kangkung.
Ke depan, Bank Indonesia mengidentifikasi sejumlah risiko yang perlu diwaspadai dalam menjaga stabilitas harga di Bali.
"Ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau yang disertai potensi El Nino, potensi kenaikan harga minyak dan komoditas dunia di tengah ketidakpastian global, serta peningkatan permintaan HBKN Galungan Kuningan," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).
Selain faktor cuaca dan global, peningkatan konsumsi masyarakat saat Hari Raya Galungan dan Kuningan juga diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap inflasi.
Untuk itu, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali terus memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap dalam sasaran.
Baca juga:
Strategi TPID Bali Antisipasi Inflasi 2026
Langkah strategis difokuskan pada tiga pilar utama, yakni menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat regulasi.
Implementasinya dilakukan melalui operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah, serta pengembangan ekosistem ketahanan pangan dari hulu ke hilir yang melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi.
Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi Bali pada 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran target 2,5%±1%.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1157 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 905 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 734 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 673 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik