Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 14 Agustus 2026
BI Bali Waspadai Cuaca Ekstrem dan Ketidakpastian Global Picu Inflasi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengingatkan sejumlah risiko yang berpotensi mendorong inflasi ke depan, mulai dari ketidakpastian cuaca hingga peningkatan permintaan saat Hari Besar Keagamaan.
Hal tersebut disampaikan menyusul rilis data inflasi dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali pada 1 April 2026. Secara bulanan, inflasi Bali pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,50% (mtm), lebih rendah dibandingkan Februari sebesar 0,70% (mtm).
Sejumlah faktor turut memengaruhi dinamika inflasi, seperti perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai, serta penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Sementara secara tahunan, inflasi Bali menunjukkan tren menurun dari 3,89% (yoy) pada Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy) pada Maret 2026.
Secara spasial, seluruh kabupaten/kota di Bali mengalami inflasi bulanan. Singaraja mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 0,90% (mtm), disusul Tabanan sebesar 0,63% (mtm), Badung sebesar 0,50% (mtm), dan Denpasar sebesar 0,42% (mtm).
Dari sisi komoditas, inflasi dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, serta cabai merah. Namun, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga tiket pesawat, emas, bawang putih, beras, dan kangkung.
Ke depan, Bank Indonesia mengidentifikasi sejumlah risiko yang perlu diwaspadai dalam menjaga stabilitas harga di Bali.
"Ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau yang disertai potensi El Nino, potensi kenaikan harga minyak dan komoditas dunia di tengah ketidakpastian global, serta peningkatan permintaan HBKN Galungan Kuningan," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).
Selain faktor cuaca dan global, peningkatan konsumsi masyarakat saat Hari Raya Galungan dan Kuningan juga diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap inflasi.
Untuk itu, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali terus memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap dalam sasaran.
Baca juga:
Strategi TPID Bali Antisipasi Inflasi 2026
Langkah strategis difokuskan pada tiga pilar utama, yakni menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat regulasi.
Implementasinya dilakukan melalui operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah, serta pengembangan ekosistem ketahanan pangan dari hulu ke hilir yang melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi.
Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi Bali pada 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran target 2,5%±1%.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4518 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2334 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1982 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1601 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1041 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun