Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 21 Mei 2026
AS Sanksi Rusia Imbas Deportasi Anak-Anak Ukraina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Amerika Serikat (AS) mengenakan sanksi baru terhadap para pejabat dan kelompok Rusia pada Kamis (24/8). Sanksi dijatuhkan buntut pemindahan paksa ribuan anak-anak Ukraina sejak invasi Moskow.
Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield mengumumkan langkah tersebut saat memimpin sidang Dewan Keamanan yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Ukraina.
"Kampanye kekejaman Rusia terus berlanjut hingga hari ini," ujar Thomas-Greenfield, seperti dikutip AFP.
"Amerika Serikat tidak akan tinggal diam ketika Rusia melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan," sambungnya.
Sanksi itu menjatuhkan sanksi terhadap 11 orang Rusia, termasuk sejumlah komisaris regional "hak-hak anak", memblokir aset apa pun di AS dan menjadikan transaksi dengan mereka sebagai kejahatan di Negeri Paman Sam.
Sanksi tersebut juga menyasar "kamp musim panas" Artek di Krimea, yang direbut Rusia dari Ukraina pada 2014 dan dianeksasi dalam sebuah tindakan yang tidak diakui secara internasional. Selain itu, ada dugaan kamp pendidikan ulang untuk anak-anak di Chechnya.
Kementerian Luar Negeri AS juga akan membatasi visa bagi tiga warga Rusia yang terlibat dalam pemindahan paksa anak-anak di wilayah Ukraina yang berada di bawah kendali Moskow.
Pengadilan Kriminal Internasional merujuk pemindahan anak-anak ketika mengeluarkan surat perintah penangkapan pada Maret lalu untuk Presiden Rusia Vladimir Putin.
Rusia telah mengecam tuduhan tersebut dan menjatuhkan sanksinya sendiri terhadap jaksa pengadilan yang bermarkas di Den Haag.
Pihak berwenang Rusia mengatakan mereka menempatkan anak-anak dari daerah yang dilanda konflik ke panti asuhan di daerah yang aman.
Namun para pejabat Ukraina dan kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa Rusia telah mendeportasi ribuan anak-anak, termasuk bayi, yang bertentangan dengan keinginan keluarga mereka dalam upaya untuk mencuci otak mereka. Bagi anak-anak yang lebih besar, Rusia memasukkan mereka ke dalam pelatihan militer.
"Anda akan mendengar para pejabat Rusia mengatakan pemindahan anak-anak mereka adalah bagian dari 'evakuasi kemanusiaan'. Tapi ini adalah penyimpangan nyata dari kenyataan, dan upaya sia-sia untuk membenarkan hal yang tidak bisa dibenarkan," terang Thomas-Greenfield.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 1873 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1704 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1269 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1138 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah