Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 6 Mei 2026
Australia Panggil Pulang Duta Besar Mereka
Jumat, 3 Maret 2017,
06:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, Canberra. Australia memanggil pulang seluruh duta besarnya untuk mengikuti rapat terkait penataan ulang kebijakan luar negeri di negara tersebut.
[pilihan-redaksi]
Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop mengatakan bahwa penataan ulang kebijakan akan dilakukan guna menyeimbangkan hubungan yang telah berlangsung lama dengan AS dan China, yang merupakan mitra dagang terbesar.
Langkah tersebut merupakan pertama kali bagi Australia yang secara serentak memanggil pulang para duta besar dari 13 negara di seluruh dunia dengan tujuan mengatur kembali panduan diplomasi luar negeri untuk dasawarsa mendatang.
"Dalam situasi global yang tidak menentu, sangat penting bagi Australia untuk memanfaatkan para duta senior yang sudah berpengalaman," kata Bishop dalam pernyataannya, Rabu (1/3), seperti dilansir Reuters.
Menurutnya, rapat yang akan berlangsung akhir bulan ini akan berpusat pada cara mengatur kembali pendekatan Australia dalam hubungan internasional dan perdagangan.
Kemitraan Australia dan China baru-baru ini menegang akibat tekanan atas investasi asing yang semakin meningkat oleh parlemen Australia.
Hubungan dengan AS juga mencapai titik terendah setelah percakapan telepon antara Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull dan Presiden AS Donald Trump yang berselisih pendapat tentang masalah pengungsi.
Kim Baezley, mantan Duta Besar Australia di AS yang mantan ketua Partai Buruh sebagai pihak oposisi mengatakan bahwa hubungan dengan AS sangat penting, bukan hanya karena merupakan sekutu lama tetapi juga karena jumlah modal yang ditanamkan di Australia.
"Saya lebih mencemaskan masalah ekonomi Trump yang memperkecil penanaman modal di seluruh dunia, ketimbang kemungkinan perang dagang antara AS dan China," kata Baezley.
Para duta besar itu akan bertemu dan mengikuti rapat di Canberra bersama Turnbull, Bishop dan Menteri Perdagangan Steven Ciobo selama dua hari untuk jadwal penetapan kebijakan pada pertengahan tahun.
[pilihan-redaksi2]
Sementara itu, Alexandra Oliver, ketua Lowy Institute, lembaga penelitian Australia yang berpusat di Sydney mengatakan bahwa perubahan politik global memberi tantangan pada para pembuat kebijakan luar negeri.
"Kecemasan atas masalah imigrasi, terorisme, globalisasi dan perdagangan global-- semua asumsi itu harus kita tangani untuk kebaikan global bersama. Akan menjadi terkesan polos untuk mengatakan bahwa kepresidenan Trump menjadi penyebab semuanya, ini merupakan gerakan sosial yang meluas yang terbukti dalam perkembangan Brexit misalnya dan bagaimana Eropa mengalami retak-retak di pinggir, bukan di pusat," katanya. [bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 547 Kali
02
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 445 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 418 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 414 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026