Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Gong Bali Iringi Imlek di Klenteng Singaraja
BERITABALI.COM, BULELENG.
Perayaan Tahun Baru Imlek di TITD Ling Gwan Kiong Singaraja, Selasa (17/2), diwarnai lantunan gong khas Bali yang dibawakan Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari. Iringan gong tersebut menjadi bagian dari puncak perayaan Imlek 2577 Kongzili.
Lantunan gong Bali mengiringi prosesi upacara sebagai simbol kuatnya akulturasi budaya Hindu dan Tionghoa yang telah lama tumbuh dan terjaga di Kabupaten Buleleng. Kehadiran gong Bali dalam perayaan Imlek mencerminkan harmonisasi budaya lokal dan Tionghoa di wilayah Bali Utara.
Koordinator Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari, Gede Budi Astawa, mengatakan kelompoknya hampir setiap tahun diundang untuk ngayah mengiringi perayaan Imlek di klenteng tersebut. Sebanyak 20 orang anggota sekaa gong dilibatkan untuk membawakan tabuh yadnya sejak Senin (16/2) hingga Selasa (17/2).
“Ini bentuk akulturasi budaya dan hubungan baik. Di Pura Taman Sari juga ada pelinggih bernuansa Tionghoa, jadi setiap tahun kami diminta ngayah,” ujarnya.
Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari sendiri berasal dari Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng. Hubungan antara sekaa gong dengan komunitas Tionghoa di Singaraja telah terjalin sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, Humas TITD Ling Gwan Kiong, Gunadi Yetial, menuturkan tradisi menghadirkan gong khas Bali saat perayaan Imlek telah berlangsung sejak lama. Bahkan sejak ia kecil, suara gong selalu menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek di klenteng tersebut.
“Orang tua dulu bilang, kalau Imlek harus ada bunyi-bunyian. Kalau memungkinkan ada tarian. Kalau tidak ada nuansa budaya Tionghoa, bisa pakai budaya lokal,” jelasnya.
Menurut Gunadi, dalam perayaan Tahun Baru Imlek, unsur musik menjadi bagian penting untuk menciptakan suasana yang meriah dan penuh sukacita.
“Tahun baru ini harus disambut dengan rasa bahagia dan gembira. Selain sebagai hiburan untuk umat, juga persembahan bagi dewa-dewi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gunadi menyebut keterlibatan Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari juga memiliki latar belakang sejarah. Sekaa gong tersebut berkaitan erat dengan kisah masuknya pedagang Tiongkok ke wilayah Buleleng pada masa lalu.
Berdasarkan cerita turun-temurun, dahulu sebuah kapal pedagang Tiongkok mengalami musibah gelombang saat hendak berlabuh di pesisir Buleleng. Sang saudagar kemudian memohon keselamatan kepada dewa laut agar kapalnya dapat berlabuh dengan selamat.
"Akhirnya kapal tersebut berhasil berlabuh. Saudagar Tiongkok tersebut kemudian memberikan sumbangan untuk pembangunan Pura Taman Sari. Sehingga sampai saat ini di Pura tersebut terdapat pelinggih Dewa Cina," tandas Gunadi.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3788 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1731 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang