Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




TBC di Buleleng Renggut 240 Nyawa, Mayoritas Usia Produktif

Senin, 27 April 2026, 16:17 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/TBC di Buleleng Renggut 240 Nyawa, Mayoritas Usia Produktif.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Buleleng. Sejak 2024 hingga 2025, tercatat sebanyak 240 warga meninggal dunia akibat penyakit ini, dengan mayoritas kasus ditemukan pada usia produktif.

Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Sucipto, mengatakan pada tahun 2024 terdapat 1.072 kasus TBC dengan 121 orang meninggal dunia. Sementara pada 2025, tercatat 1.031 kasus dengan 119 kematian.

“Sebagian besar penderita berada pada usia produktif, yakni 15 hingga 54 tahun," ujarnya, Senin (27/4).

Menurutnya, kondisi ini cukup memprihatinkan karena usia produktif merupakan kelompok yang aktif bekerja dan memiliki mobilitas tinggi, sehingga berpotensi menularkan penyakit ke orang lain.

Dari sisi penanganan, pada 2025 tercatat 991 pasien menjalani pengobatan. Namun, hanya 501 orang yang berhasil sembuh atau menyelesaikan pengobatan. Sementara sisanya 303 orang masih menjalani pengobatan, 64 pasien lainnya putus berobat, dan tiga orang mengalami kegagalan pengobatan.

Memasuki tahun 2026, hingga 24 April tercatat 1.649 warga suspek TBC. Dari jumlah tersebut, 300 orang telah terkonfirmasi positif. Sebanyak 273 pasien sudah menjalani pengobatan, sementara tiga orang dilaporkan meninggal sebelum sempat mendapatkan pengobatan.

Sucipto menegaskan, kunci utama penanganan TBC adalah kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas. Jika pengobatan terhenti di tengah jalan, risiko penularan akan semakin besar.

“Pengobatan harus rutin sampai selesai. Ini penting untuk memutus penularan,” tegasnya.

Selain pengobatan, upaya pencegahan juga terus dilakukan, seperti menerapkan etika batuk, menggunakan masker, serta menjaga sirkulasi udara di dalam rumah. Pemeriksaan terhadap orang yang pernah kontak erat dengan penderita juga terus digencarkan.

Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC. Dengan begitu, pasien tidak ragu untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan sejak dini.

“Kalau tidak ada stigma, penderita bisa cepat terdeteksi dan segera diobati,” pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami