Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
TBC di Buleleng Renggut 240 Nyawa, Mayoritas Usia Produktif
BERITABALI.COM, BULELENG.
Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Buleleng. Sejak 2024 hingga 2025, tercatat sebanyak 240 warga meninggal dunia akibat penyakit ini, dengan mayoritas kasus ditemukan pada usia produktif.
Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Sucipto, mengatakan pada tahun 2024 terdapat 1.072 kasus TBC dengan 121 orang meninggal dunia. Sementara pada 2025, tercatat 1.031 kasus dengan 119 kematian.
“Sebagian besar penderita berada pada usia produktif, yakni 15 hingga 54 tahun," ujarnya, Senin (27/4).
Menurutnya, kondisi ini cukup memprihatinkan karena usia produktif merupakan kelompok yang aktif bekerja dan memiliki mobilitas tinggi, sehingga berpotensi menularkan penyakit ke orang lain.
Dari sisi penanganan, pada 2025 tercatat 991 pasien menjalani pengobatan. Namun, hanya 501 orang yang berhasil sembuh atau menyelesaikan pengobatan. Sementara sisanya 303 orang masih menjalani pengobatan, 64 pasien lainnya putus berobat, dan tiga orang mengalami kegagalan pengobatan.
Baca juga:
Pemimpin Kesehatan Global Kumpul di Nusa Dua, Bahas Alat Inovatif dan Transformatif untuk Akhiri TBC
Memasuki tahun 2026, hingga 24 April tercatat 1.649 warga suspek TBC. Dari jumlah tersebut, 300 orang telah terkonfirmasi positif. Sebanyak 273 pasien sudah menjalani pengobatan, sementara tiga orang dilaporkan meninggal sebelum sempat mendapatkan pengobatan.
Sucipto menegaskan, kunci utama penanganan TBC adalah kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas. Jika pengobatan terhenti di tengah jalan, risiko penularan akan semakin besar.
“Pengobatan harus rutin sampai selesai. Ini penting untuk memutus penularan,” tegasnya.
Selain pengobatan, upaya pencegahan juga terus dilakukan, seperti menerapkan etika batuk, menggunakan masker, serta menjaga sirkulasi udara di dalam rumah. Pemeriksaan terhadap orang yang pernah kontak erat dengan penderita juga terus digencarkan.
Baca juga:
Badung Kolaborasi Bersama Tanggulangi TBC
Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC. Dengan begitu, pasien tidak ragu untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan sejak dini.
“Kalau tidak ada stigma, penderita bisa cepat terdeteksi dan segera diobati,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5877 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4617 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2583 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2228 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2206 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan