Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kehilangan, Kegagalan dan Kesepian dalam Pencarian Makna Kehidupan

Minggu, 24 Mei 2026, 21:34 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Kehilangan, Kegagalan dan Kesepian dalam Pencarian Makna Kehidupan.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

SEORANG laki-laki berusia 32 tahun, berinisial KTR, datang bersama keluarganya karena sejak sekitar tiga tahun terakhir sering mengalami pengalaman yang menurut keluarga tampak seperti halusinasi. Ia bercerita bahwa dirinya sering merasa didatangi oleh leluhurnya. 

Namun, ia tidak merasa perlu membicarakan hal tersebut kepada orang lain karena menurutnya keyakinan setiap orang bisa berbeda-beda. Ia juga pernah meyakini bahwa ada antena di kepalanya yang dapat memancarkan isi pikirannya sekaligus menangkap sinyal dari leluhur. Saat ini, ia mengatakan antena tersebut sudah tidak ada. Keluarga juga sering melihatnya berbicara sendiri, yang menurutnya merupakan percakapan dengan leluhurnya.

Ia tinggal bersama ayahnya dan adik laki-lakinya yang berusia 10 tahun, yang mengalami polio sejak kecil. Ibunya telah meninggal ketika ia masih bekerja di kapal pesiar. Ia merupakan anak kedua dari empat bersaudara, dengan dua saudara perempuan lainnya.

Sebelumnya, KTR dikenal sebagai pribadi yang pendiam. Namun, dalam tiga tahun terakhir keluarganya melihat perubahan perilaku dimana ia menjadi lebih rewel dan sulit menyesuaikan diri. Ia pernah bekerja sebagai waiter di kapal pesiar sejak tahun 2017 hingga 2023. Pada tahun 2019, ia sempat dipulangkan karena terlibat pertengkaran. Kemudian pada tahun 2023, ia kembali dipulangkan karena mengalami masalah di tempat kerja. 

Sejak saat itu, ia tidak lagi dapat kembali bekerja di kapal pesiar. Setelah berhenti dari kapal pesiar, ia juga diputuskan oleh pacarnya, yang kini telah menikah dan berkeluarga. Kematian ibunya saat ia bekerja di kapal pesiar menjadi peristiwa yang sangat mengguncang dirinya, dan setelah itu ia mulai sering minum alkohol hingga mabuk.

Saat ini, KTR bekerja serabutan membantu usaha keluarga sebagai buruh angkut jeruk, dengan penghasilan sekitar 100–200 ribu rupiah per hari. Namun, penghasilan tersebut sering habis untuk membeli rokok dan bermain judi online. Ia mengeluhkan sering terbangun saat tidur karena mimpi. 

Ia beberapa kali mencoba bekerja di tempat lain, tetapi tidak mampu bertahan lama karena sering bermasalah dengan atasan. Ia merasa standar kerjanya sudah baik dan tidak perlu dipertanyakan. Kini, ia merasa tidak perlu bekerja terlalu keras dan merasa cukup dengan pekerjaannya saat ini. Keluarga juga menyampaikan bahwa ketika diajak berbicara, ia sering menjawab dengan candaan yang terasa aneh bagi orang lain.
 
Apa yang terjadi dengan kehilangan dan kegagalan hidup?

Kisah KTR tidak dapat dibaca hanya sebagai ia mengalami halusinasi atau ia percaya hal yang aneh. Dalam psikiatri komunitas dan budaya, gejala selalu muncul dalam tubuh biologis, sejarah hidup, relasi keluarga, tekanan sosial, dan bahasa budaya tertentu. 

Pada KTR, tampak adanya pengalaman psikotik yang berlangsung lama dimana ia merasa didatangi leluhur, berbicara sendiri sebagai percakapan dengan leluhur, serta keyakinan pernah memiliki antena di kepala yang dapat memancarkan isi pikiran dan menangkap sinyal. 

Dalam kerangka psikopatologi, pengalaman seperti ini dapat mengarah pada waham referensi, waham pengaruh, atau gangguan isi pikir yang bernuansa thought broadcasting. Namun, karena isi pengalaman itu menggunakan simbol leluhur, kita tidak boleh langsung memutusnya sebagai sekadar waham tanpa memahami konteks budaya, spiritualitas, dan makna personalnya.

Dalam masyarakat yang memiliki penghormatan kuat kepada leluhur, pengalaman spiritual tertentu dapat diterima sebagai bagian dari dunia makna. Namun, psikiatri budaya menekankan perbedaan penting antara keyakinan budaya yang dibagi bersama dan pengalaman psikotik yang menyebabkan distress, disfungsi, isolasi, konflik, atau penurunan kemampuan bekerja. 

Budaya tidak hanya memengaruhi cara orang menjelaskan gejala, tetapi juga membentuk isi, cara ekspresi, dan respons sosial terhadap pengalaman psikotik. Karena itu, pada KTR, pertanyaannya bukan “Apakah leluhur itu benar atau salah”, melainkan 
“Apakah pengalaman tersebut menjadi tidak dapat dikoreksi, mengganggu fungsi, menurunkan relasi sosial, dan membuatnya semakin sulit menjalani kehidupan sehari-hari?”

Secara biopsikososial, kemungkinan gangguan pada KTR muncul dari kerentanan biologis, tekanan hidup yang berat, kehilangan, kegagalan peran sosial, alkohol, dan keterputusan dukungan. Ia sebelumnya dikenal pendiam, lalu dalam tiga tahun terakhir berubah menjadi lebih rewel, sulit menyesuaikan diri, bermasalah dengan atasan, tidak dapat mempertahankan pekerjaan, dan memberi jawaban bercanda yang terasa aneh. 

Perubahan fungsi sosial dan okupasional seperti ini penting. Dalam gangguan psikotik, bukan hanya isi pikir yang diperhatikan, tetapi juga penurunan fungsi, perubahan kepribadian, kemampuan kerja, relasi interpersonal, perawatan diri, dan kemampuan menilai realitas.

KTR juga mengalami beberapa pukulan identitas. Ia pernah bekerja di kapal pesiar, sebuah pekerjaan yang dalam banyak komunitas membawa status, penghasilan, dan kebanggaan. Ketika ia dipulangkan karena konflik, lalu tidak bisa kembali bekerja, ia bukan hanya kehilangan pekerjaan tetapi ia juga kehilangan narasi diri sebagai laki-laki produktif, pekerja internasional, dan calon pasangan yang stabil. 

Setelah itu, ia diputuskan pacarnya, yang kemudian menikah. Di saat yang lain, ibunya meninggal ketika ia berada jauh dari rumah. Kehilangan ibu saat sedang bekerja di luar dapat meninggalkan rasa bersalah, duka yang tidak selesai, dan pertanyaan eksistensial “Mengapa saya tidak ada di sana?” Pada sebagian orang, duka yang berat dan tidak terolah dapat melemahkan batas antara ingatan, kerinduan, rasa bersalah, dan pengalaman perseptual yang terasa nyata.

Alkohol dan judi online memperumit keadaan. Alkohol dapat menjadi cara cepat untuk menumpulkan nyeri batin, tetapi dalam jangka panjang memperburuk tidur, impulsivitas, konflik, mood, fungsi kognitif, dan risiko kekambuhan gejala psikotik. Judi online memberi ilusi kontrol dan harapan menang, tetapi sering memperdalam masalah finansial, rasa gagal, konflik keluarga, dan isolasi. Problem gambling pada orang dengan psikosis perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kesulitan finansial, isolasi, distress psikologis, dan peningkatan risiko sosial-klinis lain.

Jadi, mengapa KTR mengalami gangguan? Ia bukan malas, bukan sekadar aneh, dan bukan hanya keras kepala. Ia tampak sebagai seseorang yang kehilangan pijakan hidup, lalu pikirannya membangun sistem makna yang mungkin awalnya menenangkan, tetapi perlahan mengambil alih fungsi realitasnya.

Bagaimana memaknai kehilangan dan rasa bersalah

Secara psikodinamika, pengalaman KTR dapat dibaca sebagai pergulatan antara kehilangan, rasa bersalah, kebutuhan akan keterhubungan, dan kegagalan ego untuk mengintegrasikan kenyataan yang terlalu menyakitkan. Kematian ibu adalah objek kehilangan yang sangat besar. Figur ibu bukan hanya orang yang dicintai, tetapi juga sumber rasa aman internal. 

Ketika figur ini hilang, terutama saat individu berada jauh dan tidak dapat hadir, dunia internal dapat menjadi rapuh. Dalam kondisi demikian, leluhur atau suara leluhur dapat berfungsi sebagai representasi simbolik dari kebutuhan akan bimbingan, perlindungan, dan pengampunan.

Keyakinan bahwa ada antena di kepala dapat dipahami sebagai bentuk konkretisasi konflik batin bahwa pikiran yang seharusnya bersifat pribadi terasa bocor keluar, sementara pesan dari luar terasa masuk ke dalam diri. Sehingga ketika batas ego melemah, individu dapat mengalami kesulitan membedakan pikiran internal dari rangsang eksternal. Dalam bahasa yang lebih kontemporer, terjadi gangguan sense of agency dan source monitoring dimana pikiran sendiri, suara batin, memori, atau fantasi dapat dialami seolah berasal dari luar diri.

KTR mungkin memiliki predisposisi tertentu, lalu stresor hidup bertumpuk melebihi kapasitas adaptasinya. Model diathesis-stress menjelaskan bahwa gangguan muncul bukan karena satu penyebab tunggal, melainkan karena kerentanan yang bertemu dengan tekanan lingkungan. 

Pada KTR, stresor tersebut meliputi kematian ibu, konflik kerja, kehilangan pekerjaan kapal pesiar, putus cinta, penurunan status ekonomi, tanggung jawab keluarga, serta kegagalan mempertahankan pekerjaan baru. Sehingga setelah berulang kali gagal mempertahankan pekerjaan dan relasi, individu dapat berhenti percaya bahwa usaha akan mengubah keadaan. Kalimat tidak perlu bekerja terlalu keras mungkin bukan sekadar kemalasan, tetapi bentuk menyerah yang dibungkus sebagai rasionalisasi.

Ia juga berada dalam posisi laki-laki dewasa yang secara sosial diharapkan produktif, stabil, dan mampu menopang keluarga. Namun kenyataannya ia bekerja serabutan, penghasilan tidak stabil, dan uang habis untuk rokok serta judi online. Ketimpangan antara diri ideal dan diri aktual dapat menghasilkan rasa malu. 

Dalam banyak budaya kolektivistik, rasa malu tidak selalu diekspresikan sebagai sedih, tetapi bisa muncul sebagai defensif, mudah tersinggung, bercanda aneh, menolak dikoreksi, atau merasa standar dirinya sudah baik. Ketika seseorang tidak sanggup menanggung pengalaman saya gagal, ia dapat membangun narasi lain berupa saya sebenarnya punya hubungan khusus dengan leluhur, saya menangkap sinyal, atau orang lain tidak memahami saya.

Secara neurobiologis, life event stress yang kronis dapat memengaruhi sistem stres tubuh, terutama aksis hipotalamus–pituitari–adrenal atau HPA axis. Aktivasi stres yang berkepanjangan dapat mengganggu regulasi kortisol, tidur, fungsi hippocampus, amigdala, dan prefrontal cortex. Prefrontal cortex berperan dalam penilaian realitas, kontrol impuls, dan fleksibilitas kognitif sedangkan amigdala berperan dalam deteksi ancaman dan emosi. 

Hippocampus berperan dalam memori kontekstual. Ketika sistem ini terganggu oleh stres kronis, alkohol, tidur buruk, dan konflik sosial, individu menjadi lebih rentan terhadap interpretasi yang keliru, kewaspadaan berlebihan, gangguan tidur, dan pengalaman perseptual yang tidak biasa. 

Selain itu stres juga dapat berinteraksi dengan sistem dopamin. Secara sederhana, dopamin membantu otak memberi makna atau salience pada stimulus. Ketika sistem ini menjadi terlalu sensitif, hal-hal biasa dapat terasa sangat bermakna, seperti mimpi terasa sebagai pesan, suara batin terasa sebagai komunikasi, kebetulan terasa sebagai tanda, dan pikiran sendiri terasa dipancarkan. Inilah yang disebut aberrant salience. 

Maka pengalaman memiliki antena dapat dipahami bukan hanya sebagai keyakinan aneh, tetapi sebagai usaha otak memberi penjelasan terhadap pengalaman internal yang terasa asing, kuat, dan sulit dikendalikan. Namun, otak tidak bekerja dalam ruang hampa. Otak KTR membawa rekaman memori ibu yang meninggal, kerja yang hilang, cinta yang putus, status yang turun, alkohol yang menumpulkan luka, dan keluarga yang mungkin bingung harus menolong bagaimana. Sehingga bisa dikatakan gejala adalah penderitaan yang mencari ruang untuk mendapatkan makna.

Memulihkan dan mengembalikan fungsi 

Untuk KTR sebagai individu, langkah pertama adalah membangun hubungan pertolongan yang tidak mempermalukan. Ia tidak perlu langsung dipatahkan dengan kalimat itu tidak benar atau kamu sakit jiwa. Pendekatan yang lebih terapeutik adalah validasi emosi tanpa mengafirmasi isi waham secara kaku. Misalnya, “Pengalaman itu pasti terasa sangat nyata dan penting untukmu. Kami ingin memahami bagaimana pengalaman itu memengaruhi tidur, pekerjaan, dan hubunganmu.” Dengan cara ini, martabatnya dijaga, tetapi pintu penilaian klinis tetap terbuka.

Selain obat, ia membutuhkan pemulihan fungsi. Targetnya bukan hanya hilang halusinasi, tetapi kembali tidur lebih baik, mengurangi alkohol, berhenti atau mengendalikan judi online, memperbaiki relasi keluarga, dan memiliki rutinitas kerja yang bermakna. Pendekatan motivational interviewing dapat digunakan untuk alkohol dan judi dimana bukan memarahi, tetapi membantu ia melihat hubungan antara perilaku dan tujuan hidupnya. Intervensi berbasis pemecahan masalah, latihan keterampilan sosial, serta supported employment juga penting agar ia tidak terus jatuh dalam siklus gagal kerja yang memunculkan rasa malu dan menghindar yang pada akhirnya membuat gejala memburuk.

Untuk keluarga, prinsip utama adalah mengurangi expressed emotion berupa kritik berlebihan, permusuhan, dan keterlibatan emosional yang terlalu intrusif. Menghadapi permasalahan seperti ini, keluarga sering lelah dan frustrasi, tetapi respons yang keras dapat memperburuk konflik dan kekambuhan. Keluarga perlu menyadari bahwa perilaku KTR bukan semata-mata kurang niat. Mereka dapat membantu dengan rutinitas tidur, pembatasan akses uang untuk judi secara bertahap, menghindari debat tentang isi waham, serta membuat rencana krisis bila ia menjadi agresif, tidak tidur berhari-hari, mengancam diri, atau semakin tidak terhubung dengan realitas. 

Untuk masyarakat, kasus KTR mengingatkan bahwa pemulihan tidak cukup dilakukan di ruang praktik. Ia memerlukan ekosistem yang tidak cepat memberi label gila, malas, atau kerasukan. Tokoh adat, tokoh agama, keluarga besar, puskesmas, kader kesehatan jiwa, dan layanan psikiatri perlu bekerja bersama. Dalam konteks budaya Bali atau komunitas yang kuat spiritualitasnya, pendekatan kolaboratif dengan tokoh budaya dapat membantu selama tidak menggantikan terapi medis yang dibutuhkan. Pengalaman tentang leluhur dapat dihormati sebagai bahasa makna, sambil tetap menolong KTR mengelola gejala, bekerja, tidur, dan menjaga relasi.

Masyarakat juga perlu melihat judi online dan alkohol sebagai faktor risiko pemiskinan mental. Bagi individu yang rentan, keduanya dapat menjadi pelarian yang berubah menjadi perangkap. Intervensi komunitas perlu mencakup literasi kesehatan mental, skrining dini psikosis, pembatasan stigma, akses layanan adiksi, dan dukungan pekerjaan sederhana yang terstruktur. Pada akhirnya, pemulihan KTR bukan berarti ia harus kembali menjadi persis seperti dulu. Pemulihan berarti ia dapat kembali memiliki kendali, relasi, makna, dan peran sosial.

Refleksi terpenting dari kasus ini adalah bahwa manusia tidak runtuh dalam satu hari. KTR tampaknya runtuh perlahan oleh kehilangan, kegagalan, kesepian, alkohol, judi, dan dunia batin yang semakin sulit dipahami orang lain. Maka pertolongan juga harus dibangun perlahan dengan ilmu, empati, keluarga yang belajar memahami, komunitas yang tidak menyingkirkan, dan layanan kesehatan jiwa yang hadir bukan hanya untuk mengobati gejala, tetapi untuk mengembalikan manusia kepada kehidupannya. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami