Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Petani Hortikultura di Negara Raih Omzet Rp100 Juta
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
I Putu Adi Darmayanta (34) sebelumnya seorang karyawan obat-obatan khusus petani Banjar Puana Desa Tegalbadeng Barat Kecamatan Negara.
Lantas ia memutuskan menjadi petani yang ulet sejak 10 tahun dengan mediasi tanaman cabe, tomat, bung gumitir, terong, kacang panjang. Tanaman ini berjenis tanaman Hortikultura. Ia bekerja bersama keluarga untuk menghasilkan untuk kebutuhan hidup.
I Putu Adi Darmayanta hidup sederhana bersama istri dan 3 anak sebagai petani hortikultura dan juga menjual berbagai jenis obat tanaman dan pupuk. Ia juga memiliki kios Bhakti Pertiwi dengan menjual bibit tanaman dan pupuk.
"Memanfaatkan lahan tanah yang di belakang rumah kurang lebih 1 are dan untuk sawah sekitar 20 are. Tanaman hortikultura ini dalam masa pembibitan 1 bulan dari masa tanam benih. Dalam tanam media modern tray semai bibit dan bahan memanfaatkan limbah cocofit dan limbah arang sekam. Untuk arang sekam limbah pabrik dimanfaatkan dari pabrik penggilingan padi," ungkapnya.
Untuk tanam Hortikultura ini berbagai jenis varian yang dengan harga relatif beda seperti tomat, cabe, dan terong seharga 300-400 rupiah per-pohon. Sedangkan tanaman bunga gumitir dengan harga seribu per pohon.
Untuk pemasaran bibit Hortikultura itu, ia menyasar petani-petani yang ada sekitar jembrana. Akan tetapi untuk hasil bibit yang ditanam sendiri dipasarkan seputar wilayah negara.
"Kesulitan sebagai petani hortikultura ini adalah pemasaran karena masih bersifat tradisional. Akibat volume produksi yang masih minim," jelasnya.
Ia juga menjelaskan, justru di masa pandemi ini malah banyak masyarakat yang justru membeli dengan membeli hingga kapasitas Rp60 ribu per bulan.
Hasil per bulan untuk profit atau keuntungan 9 juta. Untuk hasil omzet hasil dalam 1 tahun Rp100 juta. Sebagai petani hortikultura, ia berprinsip agar petani jangan takut untuk berusaha walaupun memiliki lahan yang tidak luas.
"Manfaatkanlah lahan sekecil mungkin, karena tiap lahan itu sangat berharga. Bahkan lahan pekarangan rumah pun bisa dijadikan petani hortikultura," pungkasnya.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3844 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1358 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 928 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 852 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 720 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun