Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Usaha Angkutan Bus AKAP ‘Babak Belur’
Ubung
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sejak satu tahun terakhir, usaha angkutan bus antar kota antar propinsi (AKAP) yang beroperasi di Terminal Ubung Denpasar ada dalam kondisi memprihatinkan. Akibat sepinya penumpang ditambah biaya operasional serta perawatan yang tinggi, banyak bus yang dikandangkan alias tidak beroperasi lagi.
Dari data yang berhasil diperoleh beritabali.com di kantor Terminal Ubung, terdapat banyak perusahaan bus dengan trayek antar kota antar propinsi (AKAP) yang sudah tidak mengoperasikan busnya, hingga setengah dari jumlah armada yang beroperasi sebelumnya.
Perusahaan bus Safari Darma Raya tujuan Denpasar-Jakarta misalnya, dari 23 bus yang beroperasi sebelumnya, kini hanya 10 bus yang masih beroperasi. Kondisi serupa juga dialami perusahaan bus Lorena, dari 8 bus menjadi 4 bus, Kramat Jati dari 6 menjadi 3 bus, Pahala Kencana dari 12 menjadi 6 bus, dan beberapa perusahaan bus lain yang mengalami nasib serupa.
Kondisi yang sama juga terjadi pada trayek lainnya, seperti trayek Denpasar-Jogjakarta dan Denpasar-Jember.
Untuk trayek Denpasar-Jogjakarta, bus Safari Dharma Raya yang dulunya mengoperasikan 14 bus, kini hanya mengoperasikan 7 bus. Sisanya sudah tidak beroperasi lagi sejak 1 tahun terakhir.
Sementara untuk trayek Denpasar-Jember, bus AKAS yang dulunya mengoperasikan hingga 32 bus, kini hanya mengoperasikan setengahnya atau 16 bus.
“Susah sekarang pak, beda dengan dulu. Dulu penumpang datang sendiri, kita sampai kewalahan. Sekarang bus sering kosong dan terpaksa cari penumpang di jalan biar kita tidak rugi. Apalagi sekarang solar harganya naik lagi, kita jadi tambah susah,” kata Wayan Sugiantara, pengurus bus Dahlia jurusan Denpasar-Jember.
“Kondisi angkutan bus sekarang amat memprihatinkan. Dulu tahun 90-an, supir dan kernet bus hanya duduk-duduk santai di terminal, busnya sudah penuh. Penumpang waktu itu sangat ramai. Kini penumpang sangat sepi, susah cari penumpang, apalagi BBM naik terus, kondisi perusahaan bus akan tambah memprihatinkan, ” jelas Kepala Terminal Ubung, Made Artama kepada beritabali.com.
Pasca kenaikan harga BBM, rata-rata supir bus maupun agen penjual tiket yang ditemui beritabali.com mengeluh. Penumpang bus yang sebelumnya sudah sepi, kini menjadi tambah sepi. (dev)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5975 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4665 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2650 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2306 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2233 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan