Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
TWN : Larangan Ekspor-Impor B3 Harga Mati
Nusa Dua
BERITABALI.COM, BADUNG.
Bagi Jaringan NGO Internasional Third World Network (TWN) menyerukan larangan ekspor-impor limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) merupakan harga mati. TWN menilai masalah daur ulang dengan teknologi mutakhir merupakan urusan kedua.
Peneliti TWN Hira Jathami dalam keteranganya di Nusa Dua, Rabu (25/6) menegaskan larangan ekspor-impor menjadi harga mati untuk disetujui dalam Konferensi Antar Bangsa Pengelolaan Limbah B3 karena pembahasannya sudah lama terkatung-katung, yaitu sejak 1995.
Hira menyebutkan pelarangan ekspor-impor menjadi sangat penting karena dalam proses pengangkutan dapat saja limbah B3 tersebut mencemari laut.
“Apapun bisa terjadi di laut, resiko itu tetap ada, jadi itu satu. Limbah beracun tidak boleh dibawa keluar masuk karena akan membawa resiko,” tegas Hira Jathami.
Hira Jathami mengingatkan jika deadlock dalam pembahasan larangan ekspor impor limbah B3 kembali terjadi, maka negara-negara yang selama ini menjadi tempat pembuangan limbah B3 harus membuat aturan nasional larangan impor limbah B3.
Berdasarkan analisis Jaringan LSM Internasional Thrid World Network jumlah produksi limbah B3 di dunia mencapai 800 ton pertahun. (mlt)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2807 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2032 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1980 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun