Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 5 Agustus 2026
49,14 %, Kasus HIV/AIDS di Kota Denpasar
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Tingginya kasus HIV di Kota Denpasar membuat Pemerintah Kota Denpasar terus berupaya meningkatkan penanganan dan penanggulangan kasus HIV AIDS. Salah satunya adalah dengan dibukanya â€Klinik VCT (Voluntary Konselling And Testing) Jempiring Asri†yang ada di Puskesmas II Kecamatan Denpasar Selatan.
Dibukanya klinik ini adalah untuk mempermudah akses masyarakat untuk memeriksakan dirinya terkait dengan kasus HIV. Demikian disampaikan Wakil Walikota Denpasar dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Ketut Wisada, SE saat lounching klinik VCT di puskesmas II Kecamatan Denpasar Selatan, Rabu (17/9).
Wawali juga mengatakan, perkembangan kasus HIV yang terus meningkat, hingga Juli 2008 jumlah kasus HIV dan AIDS di Kota Denpasar mencapai 1.085 kasus dari 2.208 kasus yang ada di Bali. Itu berarti 49,14 % kasus ada di Kota Denpasar yang mana 95 % merupakan penduduk usia produktif.
Hal ini harus menjadi perhatian kita semua karena epidemi AIDS menjadi ancaman bagi kesehatan, berdampak pula pada kehidupan sosial, sumber daya manusia, pendidikan, keamanan politik dan ekonomi bahkan berdampak pula pada pembangunan daerah karena menyebabkan kematian generasi usia muda.
Kasus ini sering disebutkan sebagai fenomena gunung es, hanya permukaan saja yang terlihat. Hal ini terjadi karena HIV hanya bisa dideteksi dengan tes darah dan tidak memiliki ciri-ciri khusus. Untuk itu Pemerintah Kota Denpasar melalui KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar membentuk unit layanan VCT atau yang dikenal dengan test HIV sukarela yang merupakan pintu masuk untuk membantu setiap orang mendapatkan akses kesemua pelayanan baik komunikasi, informasi, edukasi, terapi dan dukungan psikososial.
Dr. Luh Sri Armini Kadis Kesehatan Kota Denpasar saat lounching juga menjelaskan, dengan dibukanya klinik ini diharapkan masyarakat akan lebih proaktif untuk memeriksakan dirinya. Jadi, di klinik VCT ini orang yang merasa pernah melakukan perbuatan resiko tinggi misalnya, menggunakan jarum suntik narkoba yang tidak steril, melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan tanpa kondom diharapkan mau memeriksakan status HIVnya.
Klinik ini sifatnya konseling dan tes sukarela sedangkan untuk pengobatannya pasien dirujuk ke tempat layanan VCT yang menyediakan ARV seperti VCT Sanglah, Wangaya dan Yayasan Kerti Praja. (ctg/*)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 963 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 887 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 805 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 501 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 405 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun