Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 14 Juni 2026
Nyeri yang Tidak Kunjung Selesai sebagai Alarm Tubuh atas Penderitaan Psikis
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang laki-laki berusia 35 tahun, berinisial MZN, datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas. Nyeri awalnya dirasakan di perut bagian tengah, kemudian menjalar, terasa seperti ditusuk-tusuk, disertai sering bersendawa dan rasa penuh di perut.
Keluhan berkurang sementara setelah minum obat lambung, makan bubur, minum air putih, atau berjalan, namun tidak hilang sepenuhnya dan sering kambuh kembali.
Saat nyeri muncul, ia merasa jantung berdebar, dada tertekan, sulit bernapas, gelisah, tubuh tegang, panas, dan tidak dapat rileks. Ia sering mondar-mandir karena tidak bisa duduk diam. Ia juga merasa mudah terkejut, selalu waspada terhadap suara keras, sulit berkonsentrasi, cepat lemas, dan takut nyeri hebat berulang. Ia merasa perlu selalu ditemani istri karena khawatir terjadi sesuatu pada dirinya.
Keluhan nyeri telah berlangsung beberapa bulan dan memburuk sekitar lima bulan sebelumnya hingga ia dirawat di rumah sakit. Setelah itu, ia berulang kali memeriksakan diri ke berbagai rumah sakit, puskesmas, klinik, dokter penyakit dalam, menjalani USG abdomen, hingga dirujuk untuk endoskopi. Namun hasil pemeriksaan dinyatakan tidak menunjukkan kelainan bermakna. Ia tetap belum sepenuhnya percaya dengan penjelasan dokter dan yakin ada penyakit berat yang dapat membahayakan atau menyebabkan kematian.
Ia juga mengeluh sedih, mudah menangis, pesimis, putus asa, sulit tidur, nafsu makan menurun, dan terus mencari informasi tentang penyakitnya melalui internet serta media sosial. Ia memikirkan kondisi ekonomi keluarga karena biaya pengobatan semakin besar, sementara ia dan istri tidak bekerja selama ia melakukan pemeriksaan di rumah sakit.
Riwayat psikososial menunjukkan adanya konflik keluarga berkepanjangan terkait sengketa warisan, kekerasan antarkeluarga, dan tekanan adat yang membebani ekonomi. Ia dikenal pendiam, pencemas, sulit mengungkapkan masalah, dan sering mengalami keluhan fisik seperti nyeri perut, pusing, serta rasa tidak nyaman saat menghadapi tekanan.
Ia merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara. Di dalam keluarga besar ia adalah anak laki-laki kedua dalam keluarga yang disekolahkan dan dipercaya jika akan mengambil keputusan atau membahas masalah dalam keluarga. Saat ini ia sudah menikah dan telah memiliki dua orang anak.
Kenapa begitu banyak keluhan?
Kasus MZN bukan sekadar kasus laki-laki dengan nyeri perut. Ia adalah seseorang yang tubuhnya sedang berbicara ketika jiwanya sudah terlalu lama menahan beban. Keluhan nyeri perut kanan atas, rasa penuh, sering bersendawa, dada tertekan, berdebar, sulit bernapas, tubuh panas, tegang, gelisah, dan tidak bisa duduk diam memperlihatkan satu pola penting, yaitu pengalaman fisik dan pengalaman emosionalnya saling menguatkan.
Pada mulanya, nyeri mungkin dipersepsikan sebagai gangguan lambung atau gangguan organik abdomen. Namun, ketika pemeriksaan medis berulang seperti USG abdomen, konsultasi penyakit dalam, dan rujukan endoskopi tidak menemukan kelainan bermakna, perhatian klinis perlu bergeser dari pertanyaan “Organ apa yang rusak?” menjadi “Mengapa sistem tubuh dan pikiran ini terus berada dalam mode ancaman?”
Dalam ilmu psikiatri modern, kondisi seperti ini dapat dipahami sebagai spektrum somatic symptom disorder, anxiety disorder, gangguan panik, gangguan cemas menyeluruh, dan episode depresi yang muncul bersama keluhan tubuh. Review terbaru tentang anxiety disorder menegaskan bahwa kecemasan terhadap penyakit ditandai oleh keyakinan atau ketakutan berlebihan bahwa seseorang menderita penyakit serius, walaupun evaluasi medis tidak mendukung hal tersebut.
Apa yang disampaikan dokter sering hanya menenangkan sementara, lalu kecemasan muncul kembali. Ini sangat sesuai dengan pola MZN, dimana ia telah berulang kali mencari pertolongan medis, belum sepenuhnya percaya pada penjelasan dokter, terus mencari informasi melalui internet, dan tetap yakin ada penyakit berat yang dapat mengancam nyawanya.
Keluhan MZN juga memperlihatkan lingkaran yang khas. Nyeri perut memicu pikiran ada penyakit berat. Pikiran itu menimbulkan rasa takut. Rasa takut mengaktifkan sistem saraf otonom berupa jantung berdebar, napas terasa berat, dada tertekan, tubuh panas, otot tegang, dan gelisah. Sensasi tubuh ini lalu dibaca kembali sebagai bukti bahwa penyakitnya memang berat. Akhirnya, tubuh menjadi arena alarm yang tidak pernah benar-benar padam.
Dari sudut psikiatri komunitas dan budaya, penderitaan MZN tidak dapat dilepaskan dari konteks keluarga besar. Ia adalah anak laki-laki kedua, anak yang disekolahkan, dan menjadi figur yang dipercaya dalam pengambilan keputusan keluarga. Dalam budaya komunal, posisi seperti ini sering membawa kehormatan, tetapi juga beban moral.
Ia bukan hanya memikul dirinya sendiri, melainkan juga ekspektasi keluarga. Konflik warisan, kekerasan antarkeluarga, tekanan adat, dan beban ekonomi menciptakan suasana kronis yang mengancam rasa aman. Ketika seseorang pendiam, pencemas, dan sulit mengungkapkan masalah, konflik yang tidak dapat diucapkan sering menemukan jalannya melalui tubuhnya berupa rasa nyeri perut, pusing, sesak, lemas, dan rasa tidak nyaman. Keluhan tubuhnya nyata dan bukan pura-pura. Namun, sumber dan pemelihara keluhannya tidak hanya berada di lambung atau perut, melainkan pada interaksi kompleks antara tubuh, pikiran, keluarga, dan budaya.
Persimpangan keluhan fisik, konflik batin dan respon emosi
Secara psikodinamika, MZN dapat dipahami sebagai pribadi yang memiliki konflik batin antara kebutuhan untuk kuat dan kebutuhan untuk ditolong. Sebagai laki-laki dewasa, suami, ayah, dan anak laki-laki yang diharapkan berperan dalam keluarga besar, ia mungkin merasa tidak memiliki ruang untuk mengatakan, “Saya takut”, “Saya lelah”, atau “Saya tidak sanggup.” Sehingga tubuh menjadi bahasa pengganti ketika kata-kata tidak cukup aman untuk diucapkan.
Pada MZN, kecemasan bukan sekadar rasa khawatir biasa, tetapi alarm internal yang menyala terus-menerus. Ia mengantisipasi bencana, menjadi mudah terkejut, waspada terhadap suara keras, sulit berkonsentrasi, dan takut nyeri hebat berulang. Ini menunjukkan adanya hypervigilance, yaitu keadaan psikologis ketika seseorang terus memantau kemungkinan ancaman. Dalam perspektif trauma dan stres kronis, hypervigilance dapat muncul bukan hanya karena satu peristiwa traumatik besar, tetapi juga karena paparan konflik berkepanjangan yang membuat kehidupan terasa tidak aman.
Pola MZN dapat dijelaskan melalui catastrophic misinterpretation. Sensasi normal atau ringan dalam tubuh, misalnya perut penuh, sendawa, dada tidak nyaman, atau jantung berdebar akan ditafsirkan sebagai tanda penyakit berat. Setelah itu muncul perilaku pencarian kepastian berupa memeriksakan diri berulang, mencari informasi di internet, meminta ditemani istri, dan terus memantau tubuh. Masalahnya, perilaku pencarian kepastian hanya menenangkan sebentar. Setelah efeknya hilang, otak kembali bertanya, “Bagaimana kalau dokter keliru?” “Bagaimana kalau penyakitnya belum terlihat?” “Bagaimana kalau saya mati?” Inilah yang membuat keluhannya semakin menetap.
Secara psikososial, stres tidak hanya ditentukan oleh beratnya peristiwa, tetapi oleh cara seseorang menilai peristiwa dan sumber daya yang ia miliki untuk menghadapinya. MZN menghadapi konflik keluarga, sengketa warisan, tekanan adat, biaya pengobatan, kehilangan produktivitas kerja, dan kekhawatiran terhadap masa depan keluarga. Bila ia menilai semua ini sebagai ancaman besar sementara merasa sumber dayanya terbatas, maka respons stres menjadi kronis.
Pengalaman berulang menghadapi masalah yang sulit dikendalikan dapat menimbulkan rasa tidak berdaya, pesimis, putus asa, dan gejala depresi. Ini terlihat pada keluhan sedih, mudah menangis, sulit tidur, nafsu makan menurun, dan merasa masa depan ekonomi keluarga semakin berat.
Dalam keluarga besar yang sarat konflik, satu anggota dapat menjadi pembawa gejala dari ketegangan sistemik. Ia mungkin menjadi orang yang paling tampak sakit, tetapi penyakitnya juga mencerminkan sakitnya relasi keluarga berupa konflik yang tidak selesai, komunikasi yang tidak sehat, beban yang tidak terbagi, dan keputusan keluarga untuk menekan individu tertentu. Ketika MZN menjadi sakit, perhatian keluarga mungkin sementara bergeser dari konflik ke perawatan dirinya. Namun bila akar konflik tidak disentuh, gejala dapat berulang.
Secara neurobiologis, kasus ini sangat mungkin melibatkan disregulasi sistem stres, interoception, dan gut–brain axis. Adanya gejala gastrointestinal kronis dapat dipengaruhi oleh komunikasi dua arah antara otak, sistem saraf otonom, sistem imun, mikrobiota usus, dan sumbu hormonal stres. Pada kondisi stres kronis, otak dapat mengirim sinyal ke saluran cerna melalui sistem saraf otonom dan sumbu HPA, sehingga memengaruhi motilitas, sensitivitas viseral, sekresi asam, inflamasi ringan, dan persepsi nyeri. Sebaliknya, sensasi dari saluran cerna dapat memperkuat kecemasan melalui jalur gut-to-brain.
Pada MZN, perut menjadi pusat perhatian karena sensasi di area tersebut terus diberi makna ancaman. Otak bagian insula dan anterior cingulate cortex berperan dalam membaca sensasi tubuh, memberi makna emosional, dan menentukan apakah sensasi itu aman atau berbahaya. Adanya gangguan interoception berhubungan dengan gejala somatik dan depresi, dimana individu yang sangat sensitif terhadap sinyal tubuh tetapi sulit menenangkan interpretasinya lebih rentan mengalami lingkaran nyeri-kecemasan.
Sementara itu gejala berdebar, sesak, dada tertekan, panas, dan gelisah dapat dipahami sebagai aktivasi simpatis. Tubuh MZN seperti terus berada dalam keadaan siaga satu. Padahal ancamannya tidak selalu ancaman fisik langsung, melainkan ancaman psikososial seperti konflik keluarga, rasa gagal, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian penyakit. Bila sistem simpatis aktif berulang, tubuh menjadi mudah lelah, tidur terganggu, nafsu makan menurun, dan ambang nyeri menurun. Depresi kemudian memperberat persepsi nyeri, sedangkan nyeri memperberat depresi.
Dengan demikian, MZN bukan hanya sekedar mengalami sakit lambung atau hanya cemas. Ia mengalami penderitaan nyata yang berada di persimpangan antara nyeri viseral, kecemasan akan penyakitnya, panik, depresi, konflik keluarga, dan tekanan budaya. Formulasi seperti ini penting karena terapi yang hanya memberi obat lambung tidak akan cukup, tetapi terapi yang hanya mengatakan ini pikiran saja juga akan melukai martabat pasien.
Mengembalikan fungsi dan bukan sekedar menghilangkan gejala
Keluarga perlu memahami bahwa MZN bukan sedang mencari perhatian, bukan lemah iman, dan bukan malas bekerja. Ia sedang terperangkap dalam sistem alarm tubuh yang terlalu sensitif. Sikap keluarga yang paling menolong bukanlah terus-menerus membawa MZN dari satu dokter ke dokter lain tanpa arah, tetapi membantu membangun rasa aman, keteraturan, dan kepercayaan terhadap rencana terapi terpadu.
Langkah pertama keluarga adalah memvalidasi penderitaan tanpa memperkuat ketakutan. Kalimat seperti “Kamu tidak apa-apa” sering tidak cukup, bahkan dapat membuat ia merasa tidak dipercaya. Lebih baik keluarga mengatakan, “Kami tahu nyeri dan takutmu nyata. Kita akan hadapi bersama, tetapi kita juga akan belajar agar rasa takut ini tidak menguasai hidupmu.” Validasi memberi rasa aman, sedangkan batas yang sehat mencegah keluarga ikut terseret ke dalam siklus panik.
Langkah kedua adalah menyusun satu jalur pengobatan yang konsisten. MZN membutuhkan dokter utama yang dipercaya, idealnya bekerja sama dengan psikiater, psikolog klinis, dan dokter penyakit dalam bila masih diperlukan. Pemeriksaan medis tetap penting untuk menyingkirkan kondisi organik, tetapi setelah evaluasi memadai tidak menunjukkan kelainan berat, fokus perlu bergeser ke pemulihan fungsi seperti tidur, makan, aktivitas, pekerjaan, relasi suami-istri, dan peran sebagai ayah. Target terapi bukan untuk tidak pernah merasakan nyeri, melainkan untuk mampu hidup kembali walaupun sensasi tubuh kadang muncul.
Langkah ketiga adalah mengurangi perilaku pencarian kepastian yang berlebihan. Keluarga perlu membantu MZN membatasi pencarian informasi penyakit di internet dan media sosial karena cyberchondria dapat memperkuat gangguan cemas. Setiap informasi baru dapat menjadi bahan bakar kecemasan. Keluarga dapat membuat kesepakatan berupa informasi kesehatan hanya dibahas pada waktu tertentu dan dari sumber profesional, bukan dari potongan video atau testimoni media sosial.
Langkah keempat adalah membuka ruang komunikasi keluarga. Konflik warisan, kekerasan antarkeluarga, dan tekanan adat perlu dilihat sebagai faktor kesehatan mental, bukan sekadar urusan domestik. Dalam budaya komunal, penyembuhan tidak cukup hanya pada individu namun pada sistem relasi juga perlu disembuhkan. Keluarga dapat melakukan pertemuan terbatas dengan mediator yang dihormati, tokoh keluarga yang netral, atau konselor keluarga. Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, tetapi mengurangi tekanan yang selama ini ditanggung MZN sendirian.
Langkah kelima adalah mengembalikan peran MZN secara bertahap. Ia perlu didorong untuk kembali berjalan, bekerja ringan, membantu urusan rumah, berinteraksi sosial, dan mengambil keputusan kecil. Namun dorongan ini harus bertahap, bukan memaksa. Dalam rehabilitasi psikiatri komunitas, fungsi dipulihkan melalui ritme harian yang stabil seperti bangun pagi, makan teratur, aktivitas fisik ringan, ibadah atau praktik spiritual yang menenangkan, waktu bersama anak, dan tidur yang dijaga. Spiritualitas dan adat sebaiknya menjadi sumber makna, bukan sumber beban tambahan.
Bagi istri, penting untuk tidak ditempatkan sebagai satu-satunya penyangga. Ia juga membutuhkan dukungan. Bila seluruh rasa aman MZN bergantung pada kehadiran istri, maka istri akan kelelahan dan MZN semakin sulit mandiri. Keluarga besar perlu membagi peran, seperti siapa yang menemani kontrol, siapa yang membantu kondisi ekonominya, siapa yang menjaga anak, dan siapa yang membantu menyelesaikan urusan keluarga. Dukungan sosial yang terstruktur dapat mengurangi beban caregiver dan mempercepat pemulihan.
Akhirnya, keluarga perlu mengubah pertanyaan dari “Penyakit apa yang tersembunyi?” menjadi “Luka hidup apa yang belum sempat disembuhkan?” Tubuh MZN telah menjadi panggung tempat konflik, kecemasan, tanggung jawab, dan ketakutan kematian tampil bersamaan. Tugas keluarga bukan membuktikan bahwa ia tidak sakit, melainkan menolongnya merasa cukup aman untuk hidup kembali. Kesembuhan bukan hanya hilangnya gejala, tetapi pulihnya hubungan, fungsi, harapan, dan martabat manusia di tengah komunitasnya. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Kasus Penjualan Gading Gajah di Tampaksiring Masuk Tahap Penuntutan
Dibaca: 1020 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli