Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ada Yang Memperkeruh Suasana

Banyubiru

Rabu, 29 Oktober 2008, 18:33 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Kasus penamparan terhadap 4 orang siswa SDN 2 Banyubiru yang dilakukan KS, oknum guru setempat, sejatinya sudah selesai dengan berdamai pada Senin (27/10) seusai kejadian. Pihak keluarga korban tidak tahu mengapa kejadian ini bisa berlanjut.


Kejadian penamparan guru yang dilakukan oleh KS, sejatinya telah berakhir damai pada Senin (27/10) lalu seusai kejadian dengan ditandatanganinya surat pernyataan oleh Rosidi, kerabat korban.


Kepala Sekolah SDN 2 Banyubiru, I Wayan Sutama yang didampingi oleh KS dan Dewa Putu Ngurah, Ketua Komite Sekolah, ketika ditemui Rabu (29/10) mengungkapkan sejatinya kejadian tersebut telah selesai dengan damai pada Senin (27/10) lalu dengan bukti ditandatanganinya surat pernyataan oleh Rosidi yang datang ke sekolah untuk menanyakan masalah tersebut.

 


"Sejatinya masalah itu sudah selesai Senin (27/10) lalu seusai kejadian. Ini ada bukti pernyataan dari paman korban yang datang ke sekolah untuk menanyakan perihal masalah tersebut," terangnya sambil menyodorkan surat pernyataan tersebut.


Ditambahkan Sutama, pihaknya bersama ketua komite sekolah sempat menemui orang tua korban dan menanyakan siapa guru yang mengusir dan menyuruh pindah. "Saya bebaskan orang tua korban untuk menanyakan langsung ke anaknya. Saya tidak intervensi, saya hanya mendengarkan saja," imbuhnya.


Ternyata jawaban yang diberikan AM berubah-ubah dan tidak pasti. "AM bilang Pak Dw, lalu bilang Pak Wayan lalu bilang lagi Pak Ketut. Tidak pasti," kata Sutama.


Menurut Sutama, sejatinya Sajidin ingin datang menemui wartawan namun karena terbentur harus melaut, Sajidin menitipkan pesan melalui pernyataan yang ditandatanganinya bersama istrinya, Rodiah yang disaksikan diantaranya oleh ketua komite sekolah, Dewa Putu Ngurah yang intinya meminta agar masalah ini tidak dilanjutkan.

 


"Saya tidak ada melaporkan masalah ini ke atasan (maksudnya wartawan, red) karena saya menganggap masalah ini sudah selesai Senin (27/10) lalu. Saya mengharapkan agar masalah ini tidak dilanjutkan," demikian tulis Sajidin dalam surat pernyataannya.


Sutama mengungkapkan kejadian ini sejatinya sudah selesai namun pihaknya menduga ada orang ketiga yang ingin memperkeruh suasana. "Memang kami akui kalau di lingkungan sekolah ada orang yang ingin memperkeruh suasana dan orang itu memang sudah sering berulah yang membuat suasana sekolah yang sudah kondusif sering bergejolak," terangnya.


Sedangkan KS mengakui kalau dirinya memang memukul keempat siswa tersebut lantaran masuk ke WC tanpa melepas sepatu dan tidak menyiram kencingnya.

 


"Saya memang memukul keempat siswa tersebut dengan penggaris plastik lemas yang ukurannya 30 cm.Tidak keras kok dan saya tidak ada menendang korban.


Mungkin saya khilaf waktu itu lantaran aturan masuk WC harus lepas sepatu dan habis kencing harus disiram sudah berulang kali disampaikan oleh kepala sekolah," terangnya.


Dirinya juga sudah meminta maaf atas kejadian tersebut kepada Rosidi, yang datang seusai kejadian tersebut. "Sejatinya sudah tidak ada masalah, saya sudah minta maaf kepada kerabat korban dan kerabat korban sudah memaafkannya. Ini dibuktikan dengan pernyataan tidak akan menuntut yang ditandatangani Rosidi," jelasnya. KS membantah kalau AM tidak masuk sekolah pada Selasa (28/10) karena KS yang juga guru olah raga di sekolah tersebut mengajar AM olah raga. "Hari Selasa itu jadwalnya kelas 2 olah raga, saya masih sempat mengajar korban kok," kata KS.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: Diskominfo Buleleng



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami